Hukuman

1297 Words
Cahaya lampu dibiarkan menjadi lebih redup, dan itu menambah kesan yang cukup menegangkan bagi siapa pun yang ada di sana. Para pelayan tak dibiarkan berada di dekat ruangan. Semuanya harus menjauh, sehingga tak akan ada satu pun yang mengetahui seganas apa Nona Lucy menghukum Nicko. Dan Nicko juga hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Di sisi lain, Nona Lucy sudah siap. Ia berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah botol kristal berisi cairan berwarna merah keunguan. “Nicko, kau bilang kau belum pernah mabuk, bukan?" suara Nona Lucy memecah keheningan, terdengar begitu tenang, tapi sangat tajam dan menakutkan. “Kalau begitu, hari ini, aku akan mengajarimu bagaimana rasanya kehilangan kendali, Nicko. Sama seperti kau kehilangan kendali saat mencelakai Alfred yang tidak bersalah.” Nona Lucy menuangkan cairan itu ke dalam gelas besar. Ia lalu menyodorkannya kepada Nicko. Pemuda itu menelan ludah. “Nona, aku tidak bisa minum,” ucapnya dengan nada mengiba. Namun, tentu saja Nona Lucy tidak peduli. Nona Lucy membuat Nicko berlutut, dagu lelaki itu diraihnya. Nicko tidak sanggup melawan. “Minum, Nicko. Ini bukan permintaan. Aku tidak sedang memerlukan izinmu,” ucap Nona Lucy dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Nicko meremang. Nona Lucy mencengkeram wajah Nicko, membuatnya terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar. Alkohol dari gelas itu meluncur deras melewati kerongkongan Nicko. Pemuda itu seketika terbatuk-batuk. Ia merasa seperti sedang menelan bara api. Wajah Nicko memerah, tapi Nona Lucy justru tak henti menuangkannya lagi. Sekali, dua kali, hingga isi dari botol itu kian menyusut. Akhirnya, lampu dipadamkan. Kegelapan sepenuhnya menguasai ruangan itu. Dunia di sekitar Nicko mulai berputar. Efek alkohol yang menyerang sistem sarafnya secara mendadak membuat kepalanya terasa berat sekaligus pening yang hebat terasa menusuk-nusuk pelipisnya. Ia mencoba mencari pegangan pada meja di dekatnya, tapi kakinya begitu lesu. “Nona, tolong ... kepalaku sakit sekali,” rintih Nicko. Alih-alih dekapan hangat yang ia harapkan, Nicko justru merasakan sensasi dingin yang mengejutkan. Cairan wine merah keunguan yang dingin disiramkan tepat ke wajah dan dadanya. Cairan itu meresap ke dalam kemejanya, membuatnya menggigil seketika. Kulitnya merasakan kedinginan, sementara pikiran dan jantungnya terasa terbakar. “Tolong?” Suara Nona Lucy terdengar dari arah yang tak bisa Nicko ketahui. Pemuda itu merangkak, mencari-cari. “Siapa yang menolong Alfred saat dia mengerang kesakitan di lantai? Kau hanya berdiri dan menonton, bukan? Sekarang, rasakan bagaimana perasaan menjadi tidak berdaya.” Dalam kegelapan dan pengaruh alkohol yang terus menyulut api di otaknya, Nicko mulai berhalusinasi. Ia melihat bayangan Nona Lucy yang lembut dan menggoda. Ia melihat mereka berdua sedang berbaring di bawah sinar matahari pagi, saling bertukar tawa dan ciuman semanis stroberi. Ia merindukan sentuhan itu. Ia merindukan Nona Lucy-nya yang memanggilnya 'Sayang'. “Nona, aku ingin menyentuhmu,” gumam Nicko dengan suara napas yang terengah-engah. Tubuhnya terus menggeliat tanpa bisa ia cegah. Tangan Nicko meraba-raba dadanya sendiri, setelah tak kunjung berhasil menemukan keberadaan Nona Lucy di dekatnya. Namun, lagi-lagi, Nicko mendapatkan kebalikan dari apa yang ia inginkan. Satu detik kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nicko, menyentaknya kembali ke kenyataan yang pahit. Rasa panas dari tamparan itu beradu dengan rasa dingin dari wine yang masih membasahi setiap inchi dari kulitnya. “Jangan berani-beraninya kau membayangkan hal indah saat kau sedang dihukum!” bentak Nona Lucy. Suaranya bergema di galeri yang sunyi. “Kau adalah milikku, Nicko. Tapi saat ini, kau seperti sedang rusak, dan aku tidak suka barang yang rusak.” Nicko jatuh terduduk di lantai yang dua kali lipat terasa lebih dingin. Rasa haus akan kasih sayang dan rasa takut akan kehilangan Nona Lucy membuatnya kembali merangkak di dalam gelap. Tangannya meraba-raba, mencari kain gaun atau sepatu wanita itu. Saat jemarinya menyentuh pergelangan kaki Nona Lucy, ia segera memeluknya erat, menempelkan pipinya yang basah ke kaki wanita itu. Ia menciumi punggung kaki Nona Lucy dengan penuh keputusasaan. Ia menginginkan sentuhan itu, menginginkannya secara penuh. “Maafkan aku, Nona, tolong jangan benci aku,” ucap Nicko sembari terisak. Air matanya mulai mengalir deras. Nona Lucy kemudian membungkuk. Nicko bisa merasakan hembusan napas wanita itu di telinganya. Harapan muncul di hati Nicko saat bibir Nona Lucy menyentuh pipinya dengan sebuah ciuman yang terasa begitu nyata. Nicko memejamkan mata, berusaha mengejar bibir itu untuk membalasnya, tapi tepat saat ia bergerak, Nona Lucy menarik dirinya untuk kembali menjauh. “Hampir saja, Nicko. Hampir saja aku luluh dengan mudah,” bisik Nona Lucy dengan tawa kecil yang kejam. Nona Lucy suka dengan permainan yang ia buat. Perempuan itu kembali mencium pelipis Nicko, sangat lembut, seolah ia sangat mencintainya. Namun kembali lagi, saat Nicko mencoba meraih bahunya, Nona Lucy menghindar dengan lincah, membiarkan Nicko memeluk udara kosong. Nona Lucy terus bermain-main dengan kewarasan Nicko, memberinya sedikit harapan hanya untuk merenggutnya kembali dalam hitungan detik. Tubuh Nicko mulai menggigil lebih hebat. Perpaduan antara suhu ruangan yang dingin, pakaian yang basah kuyup, alkohol yang merusak keseimbangannya, dan siksaan atas kehausan akan sentuhan yang sangat ia dambakan membuatnya hancur. Dalam puncak rasa frustrasinya, Nicko menggigit bibir bawahnya sendiri dengan sangat kuat, mencoba mengalihkan rasa sakit di hatinya. Darah segar lalu mengalir, memberikan rasa amis di mulutnya. Pandangannya seketika mengabur. Kekuatan di tangannya lenyap, dan perlahan, kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Nicko pun ambruk tak sadarkan diri di atas lantai ruangan galeri yang sunyi. Saat Nicko kembali membuka matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan. Ia tidak lagi berada di lantai yang keras. Ia berada di bawah selimut sutra yang lembut, di ranjang besar kamarnya bersama Nona Lucy. Aroma stroberi yang familiar menyelimuti indranya. Mengirimkan kesadaran bahwa saat ini, Nicko sedang berada di situasi yang aman. Ada sepasang lengan yang melingkar erat di perutnya yang hanya dilapisi piyama tipis berwarna silver, persis seperti pagi sebelumnya. Nicko mendadak tersedu, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Isakannya terdengar kecil dan menyedihkan di keheningan kamar pada pagi itu. Rasa pusing akibat efek alkohol juga masih tinggal di dalam kepalanya. Itulah mengapa ia menjadi lebih emosional. “Jangan cengeng,” bisik sebuah suara di belakang lehernya. Suara itu tidak lagi sedingin seperti saat mereka bertengkar, tapi tetap penuh penekanan. “Aku tidak memelihara seorang pria hanya untuk melihatnya menangis setiap waktu.” Nona Lucy mengeratkan pelukannya. “Berhentilah bertindak seperti bocah ingusan, Nicko. Jika kau ingin diperlakukan seperti pria dewasa, belajarlah bertanggung jawab atas tindakanmu.” Nicko memutar tubuhnya perlahan, berbalik untuk menatap Nona Lucy. Wajah wanita itu terlihat begitu tenang di bawah cahaya ringan dari lampu tidur. Mata mereka bertemu. Nicko melihat kelembutan yang kembali hadir, tapi tetap ada kilatan tegas di sana. Jemari lentur Nona Lucy bergerak pelan, menyentuh bibir bawah Nicko yang terluka dan sudah mengering. Ia mengusap luka itu dengan ibu jarinya, membuat Nicko sedikit meringis. “Ini pasti sakit,” gumam Nona Lucy. Ia hendak bangkit dari tempat tidur. “Diam di sini, aku akan mengambil obat untukmu.” Namun, sebelum Nona Lucy sempat menjauh, Nicko meraih pergelangan tangannya. Tenaganya belum sepenuhnya pulih, tapi genggamannya itu cukup kuat untuk membuat Nona Lucy berbalik. “Jangan, ucap Nicko dengan suaranya yang serak. “Obatnya bukan itu.” Lucy menaikkan satu alisnya. “Lalu?” “Hanya ciumanmu, hanya itu yang bisa mengobatiku saat ini,” ucap Nicko lirih, matanya yang sembap menatap penuh harap. Nona Lucy terdiam sejenak, menatap Nicko seolah sedang menimbang-nimbang apakah pemuda ini sudah cukup pantas mendapatkannya. Akhirnya, ia menghela napas panjang. Nona Lucy mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga Nicko bisa mencium aroma manis itu lagi. Bibir mereka bersentuhan. Kali ini bukan ciuman yang menuntut atau memabukkan, tapi ciuman lembut yang tipis. Sambil tetap menempelkan bibirnya, Nona Lucy menggunakan jarinya untuk menyeka air mata yang masih mengalir di pipi Nicko, air mata yang bahkan tidak disadari oleh Nicko sendiri. Di bawah penguasaan Nona Lucy, Nicko kembali menemukan dunianya. Meski ia tahu, besok mungkin akan ada badai lain yang menantinya. Badai yang lebih besar dan menantang. Namun, ia tak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD