Tenggelam dalam Obsesi

1037 Words
Ambisi yang tumbuh di dalam pikiran Nicko bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan untuk menjadi satu-satunya pria yang layak menyentuh Nona Lucy. Luka di bibirnya yang mulai mengering terasa seperti tanda yang justru ingin ia banggakan di hadapan semua orang. Baginya, rasa sakit yang diakibatkan oleh Nona Lucy jauh lebih berharga daripada kasih sayang dari siapa pun yang ada di dunia ini. Nicko sudah betul-betul jatuh semakin dalam kepada sang nona dan ia memang ingin merelakan dirinya jatuh lebih dalam lagi. Sementara itu, Nona Lucy, yang menyadari begitu besar api obsesi yang terpancar di mata Nicko, akhirnya memutuskan untuk mengganti metode pengajarannya. Pagi itu, di meja makan yang dipenuhi hidangan mewah, Nona Lucy berbicara serius. “Aku tidak akan membiarkan Alfred mengajarimu lagi,” ucap Nona Lucy lembut sembari mengusap jemari Nicko. “Aku mendatangkan seseorang yang kukenal yang punya reputasi bersih. Namanya Anggun. Perempuan itu akan membantumu memahami dasar bisnis dengan baik.” Nicko mengernyit saat mendengar nama itu. Ia seperti tak asing. Namun, tak mau terlalu menebak-nebak. Hingga akhirnya, saat Nona Lucy sudah pergi untuk menyelesaikan urusannya, tibalah saat sosok Anggun melangkah masuk ke perpustakaan pribadi Nona Lucy. Suasana di ruangan tersebut mendadak berubah. Anggun adalah wanita yang sangat sopan, berperawakan kecil, dan memakai pakaian tertutup yang rapi. Sangat kontras dengan Nona Lucy yang selalu tampil berani dengan gaun-gaun yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang berisi. “Nicko?” Anggun tertegun, matanya membelalak. “Jadi benar, kau ada di sini rupanya.” Pertemuan itu seharusnya menjadi reuni yang hangat, karena Nicko juga ingat kalau Anggun adalah teman masa kecilnya yang sudah lama tidak ia temui. Sayangnya, Nicko justru merasa terganggu. Fokusnya terpecah antara materi bisnis yang hendak dibawakan Anggun dan rasa tidak nyaman karena dipandangi dengan tatapan kasihan. Puncaknya adalah ketika Anggun menutup bukunya dan mendekat, menatap langsung ke arah bibir Nicko yang terluka. “Nicko, lihat dirimu,” bisik Anggun dengan suara bergetar. “Aku mengenalmu sejak kecil. Kau pria yang lembut. Kenapa kau membiarkan wanita itu menyiksamu? Luka di bibirmu ini, aku tahu pasti karena dia, kan?” Tanpa permisi, Anggun tiba-tiba menggenggam tangan Nicko, seolah mencoba mencari celah kosong di hati pemuda itu. “Ikutlah denganku, Nicko. Aku punya misi ke sini bukan sekadar mengajar, tapi untuk membawamu pulang. Aku bisa membantumu kabur dari kegilaan Nona Lucy. Aku tahu segalanya. Aku menyelidikinya sebelum sampai kemari.” Nicko menarik tangannya dengan kasar. “Kau tidak tahu apa-apa, Anggun. Nona Lucy tidak gila. Kau salah besar.” “Nicko, sadarlah. Kau dalam bahaya. Keputusanmu untuk tinggal hanya akan membuatmu menyesal. Dia wanita berbahaya!" seru Anggun dengan nada yang frustrasi. Nicko tidak menjawab. Ia hanya ingin Anggun segera pergi. Baginya, dunia yang ada di luar sana justru tidak aman. Hanya di dalam rumah ini, di bawah bayang-bayang Nona Lucy, ia merasa benar-benar hidup. Toh, jika ia kabur, jika ia harus kembali ke kehidupan lamanya, yang ia rasakan hanya kesengsaraan. Orang tuanya juga masih terlilit kemiskinan. Ia tak mau kembali ke kamarnya yang kumuh. Ia merasa lebih baik berasa di sini. “Nicko, kumohon. Ini kesempatan kita. Aku bisa pura-pura pergi untuk mengambil berkas dan kau bisa ikut. Hanya itu, lalu selesai. Kau bisa hidup bebas.” Bebas? Nicko berdecih. “Anggun, tahu apa kau tentang Nona Lucy? Kalau kau disuruh untuk mengajariku, artinya dia adalah majikanmu, bukan? Lalu kenapa kau malah berkhianat?” Anggun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap keras kepala Nicko. Anggun kini bisa melihat betapa Nicko sudah sangat jauh berbeda dengan sosok Nicko yang sebelumnya ia kenali. “Nicko, gunakan akal sehatmu. Kau tahu dia seperti apa, bukan? Di monster. Dia akan mempermainkanmu.” Nicko tidak tahu lagi. Setelah Anggun mengatakan itu, bisa saja Nicko berteriak memanggil pelayan untuk mengusirnya. Namun, ia merasa itu akan berlebihan. Walau bagaimanapun juga, Anggun adalah teman masa kecil Nicko. Pemuda itu merasa harus sedikit berbaik hati. “Keluarlah sekarang, sebelum aku panggil pelayan untuk mengusirmu.” Kata-kata Nicko terdengar tegas dan tak bisa dibantah. Namun, Anggun masih tak ingin menyerah. “Pikirkan, Nicko. Pikirkan sekali lagi,” ucap Anggun sebelum kemudian memberikan pelukan kepada Nicko, lalu pamit pergi. “Aku tidak perlu memikirkan apa pun. Aku mencintai Nona Lucy. Aku tidak akan pernah pergi dari sini.” Ucapan Nicko membuat langkah Anggun terhenti sejenak, tapi gadis itu tidak menanggapi dan memilih kembali melanjutkan langkahnya. Sore harinya, saat mobil Nona Lucy terdengar masuk ke halaman, Nicko yang merasa sedikit bersalah karena terlibat percakapan yang ia rasa tidak pantas dengan Anggun, segera mendatangi Nona Lucy. Begitu Nona Lucy melangkah masuk ke ruang tengah, Nicko langsung menghampiri perempuan itu. Tanpa mempedulikan rasa perih dari luka di bibirnya yang baru saja mengering, Nicko meraih pinggang Nona Lucy dan menciumnya dalam-dalam. Nona Lucy terkesiap sesaat, tapi kemudian ia membalas ciuman itu. Ia melingkarkan lengannya di leher Nicko, menarik pemuda itu semakin merapat hingga tak ada celah di antara mereka. Kehangatan tubuh Nona Lucy, aroma parfumnya, dan cara wanita itu membelai punggungnya membuat Nicko hampir tidak bisa lagi menahan diri. Di dalam pikirannya, Nona Lucy sempat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sehingga Nicko bersikap seperti sekarang, tapi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ketika Nicko akhirnya memegang kendali sejak awal. Keduanya akhirnya menuju ke kamar utama. Nicko membuka pakaiannya sendiri dengan tak sabar, sementara Nona Lucy hanya menyaksikan semua itu dengan senyum yang penuh kepuasan. Sesaat sebelum Nicko kembali meraih wajah nonanya itu, suara ketukan pintu dari pelayan membuat fokus Nicko pecah. “Ada apa?” tanya Nona Lucy dengan nada kesal. “Di depan Nona, sudah ada yang menunggu. Dia adalah Nyonya Cho. Tampaknya ada sesuatu yang sangat penting, sehingga Nyonya Cho jauh-jauh datang kemari.” “Baiklah. Katakan aku akan menemuinya segera.” Nona Lucy meraih kemeja Nicko dari lantai, menyerahkannya kepada pemuda itu. “Jangan terburu-buru. Istirahat saja untuk hari ini.” Sementara Nona Lucy akhirnya menutup pintu kamar utama mereka, Nicko berusaha keras mengatur napasnya. Ia harus menahan diri, meskipun sulit. Tapi, walaupun demikian, Nicko merasa senang. Nona Lucy seperti menikmati semuanya. Mungkin memang, pikir Nicko, usahanya untuk terus belajar tidaklah sia-sia. Tepat saat Nicko beranjak dari kasur, dan kembali mengenakan kemejanya, pemuda itu menemukan kartu nama yang tampaknya jatuh ketika ia membuka pakaiannya tadi. Sebuah kartu nama, yang tentunya menampilkan nomor telepon pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan, Anggun Sasmita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD