Sinar matahari sore menembus tirai yang terpasang di ruang kerja Nona Lucy, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji besi di lantai rumahnya yang mengkilap. Di sana, ada Nona Lucy yang duduk bak seorang ratu, sementara di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor bernama Nyonya Cho menyesap teh dengan perlahan-lahan.
“Sayangku, kau tahu aku selalu memikirkan masa depanmu.” Nyonya Cho meletakkan cangkirnya, matanya menatap penuh arti. “Pria muda yang kemarin bersamamu di acara lelang, dia bukan sekadar tampan. Dia lulusan universitas ternama, anak dari pemilik jaringan hotel terbesar di Asia. Dia akan menjadi pasangan yang sempurna untuk citra bisnismu. Tidak seperti simpanan kecil yang kau sembunyikan di rumah ini.”
Nona Lucy menyandarkan punggungnya, jemarinya memainkan pena berwarna emas di atas dokumen-dokumen yang sebelumnya sempat menjadi pembahasan mereka berdua. Ia kemudian melirik ke arah pintu, harap-harap cemas, takut Nicko mungkin sedang berada di sekitar ruangan.
“Ya, dia memang terdengar menarik, Nyonya Cho,” ujar Nona Lucy dengan nada datar. "Tapi aku bukan wanita yang terburu-buru. Aku akan pikir-pikir dulu. Lagi pula, sosok yang cerdas tidak selalu datang dari gelar universitas, bukan?"
Nyonya Cho tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar meremehkan. “Tentu. Tapi jangan sampai kau terlambat menyadari bahwa mainan yang cantik hanya akan berlangsung sementara.”
Nona Lucy tidak menjawab lagi. Jelas, ia tahu apa yang sudah ia lakukan. Memutuskan menikah dengan Nicko secara diam-diam memang terdengar seperti kekeliruan bagi kawan-kawan bisnis terdekatnya. Banyak dari kolega Nona Lucy yang bahkan tidak tahu kalau Nona Lucy sudah menikah. Tak heran jika Nyonya Cho menyebut Nicko sebagai simpanan.
Selepas Nyonya Cho pergi, ketegangan baru muncul. Getaran ponsel di atas meja memecah keheningan yang sedang Nona Lucy nikmati. Sebuah nama muncul di layar: Ayah Nicko. Lucy mengangkat alisnya, lalu menerima panggilan itu. Tak butuh waktu lama bagi wajahnya yang semula angkuh untuk berubah menjadi serius. “Apa? Rumah sakit mana? Baik, aku akan segera memberitahunya.”
Nicko, yang baru saja hendak masuk, terhenti di ambang pintu saat melihat ekspresi Nona Lucy.
“Sayang, kemarilah,” panggil Nona Lucy. Suaranya begitu lembut, membuat Nicko tak sungkan untuk mendekat. Saat Nicko sudah duduk di sampingnya, Nona Lucy meraih tangan Nicko dan menatap matanya dalam-dalam. “Jangan terlalu panik dengan apa yang akan kusampaikan. Barusan ayahmu menelepon. Ibumu dilarikan ke rumah sakit.”
Dunia Nicko seolah berhenti berputar. Rasa cemas seketika merayap di dadanya. “Ibu? Tapi kemarin dia baik-baik saja.”
“Pergilah sekarang. Supirku sudah siap di depan.”
Nona Lucy mengusap pipi Nicko dengan ibu jarinya, memberikan kecupan singkat namun penuh penekanan di keningnya. “Jangan pikirkan apa pun. Fokuslah pada ibumu. Jika kau butuh sesuatu, hubungi aku segera.”
***
Aroma obat-obatan yang menyengat dan lorong rumah sakit yang dingin menyambut Nicko, menularkan perasaan tidak tenang. Saat ia mendorong pintu kamar perawatan ibunya, langkahnya sejenak terhenti. Di sana ada Anggun yang duduk di tepian ranjang sang ibu.
Wanita itu sedang mengupas buah apel dengan sangat telaten, sementara ibunya tersenyum lemah, tampak sangat nyaman dengan kehadiran Anggun.
“Ah, Nicko! Kau akhirnya datang,” suara ibunya terdengar parau, tapi tetap ceria. “Lihat, Anggun sudah menunggui Ibu sejak tadi siang. Dia anak yang sangat baik, Nicko. Begitu sopan dan perhatian. Ibu tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada dia. Ibu sangat berterima kasih.”
Anggun mendongak, memberikan senyum tipis yang tampak penuh kemenangan di mata Nicko. “Sama-sama, Tante. Aku senang ada di sini. Dan Nicko mungkin sibuk dengan pekerjaannya di rumah besar itu. Jadi, dia tidak bisa datang lebih awal.”
Dan begitulah. Selama satu jam berikutnya, Nicko merasa seperti orang asing di antara mereka berdua. Ibunya tak henti-hentinya memuji Anggun, membanding-bandingkan betapa beruntungnya jika Nicko memiliki pendamping yang baik dan berbudi luhur seperti teman masa kecilnya itu. Setiap pujian untuk Anggun terasa seperti sindiran tajam bagi Nicko yang lebih memilih menjadi peliharaan seorang Nona Lucy.
Rasa sesak mulai menghimpit d**a Nicko. Ia merasa kesal, cemburu, dan tersudut. Padahal ibunya tahu, alasan ia menikah dengan Nona Lucy adalah untuk melunasi utang-utang sang ayah. “Ibu, aku keluar sebentar mencari udara segar,” pamit Nicko tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun.
Ia segera melangkah cepat menuju balkon di ujung lorong, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak berbau khas obat-obatan. Namun, suara langkah kaki kecil mengikutinya. Anggun berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan gaya yang jauh lebih berani daripada saat mereka bertemu di perpustakaan.
“Kesal karena ibumu menyukaiku?” tanya Anggun tanpa basa-basi.
“Pergilah, Anggun. Aku sedang tidak ingin berdebat.”
“Aku tidak ingin berdebat, Nicko. Aku hanya ingin menunjukkan kenyataan yang kau abaikan karena terlalu mabuk oleh cinta butamu.”
Anggun mengeluarkan ponselnya, menggeser layar beberapa kali, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Nicko. “Lihat ini. Ini diambil kemarin, di acara lelang terbesar.”
Di layar ponsel itu, sebuah video amatir memperlihatkan Nona Lucy yang tampak sangat memesona dengan gaun merah darah. Ia tidak sendiri. Seorang lelaki tinggi, atletis, dengan aura kekuasaan yang kental sedang merangkul pinggang Nona Lucy dengan posesif. Di sana, Nona Lucy tidak menolak. Ia justru tersenyum manis. Senyum yang Nicko pikir hanya miliknya. Wanita itu juga menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria tersebut saat mereka berjalan memasuki gedung.
Jantung Nicko berdegup kencang.
“Lelaki itu adalah calon suami berikutnya yang sudah disiapkan untuk Nona Lucy,” bisik Anggun, suaranya terdengar seperti racun yang merayap di telinga Nicko.
“Kau pikir pernikahan diam-diam yang sudah kalian lakukan itu berarti segalanya? Baginya, kau hanyalah mainan, Nicko. Hiburan saat ia bosan dengan dunia bisnis yang kaku.”
Anggun mendekat, menyentuh lengan Nicko yang gemetar. “Sebentar lagi, pria itu akan menduduki posisi yang kau impikan. Kau akan digantikan, dibuang. Apakah kau masih ingin bertahan di sana, menunggu sampai ia mengusirmu?”
Nicko menatap video itu berulang-ulang. Bayangan Nona Lucy yang tertawa di pelukan pria lain menghancurkan semua ilusi kebahagiaan yang baru saja ia rasakan pagi tadi. Bibir Nicko yang terluka kembali berdenyut perih. Ia merasa dunianya runtuh, bukan karena ibunya sakit, tapi karena ketakutan terbesarnya menjadi nyata: bahwa di mata Nona Lucy, ia mungkin benar-benar tidak pernah cukup.
“Dia tidak mungkin akan melakukannya,” gumam Nicko lirih, namun suaranya sendiri terdengar tidak yakin.
Anggun tersenyum pahit. “Pilihan ada di tanganmu, Nicko. Tetap menjadi pecundang yang menunggu dibuang, atau pergi bersamaku sekarang selagi kau masih punya harga diri.”
Nicko mengepalkan tangannya. Hatinya menjadi sangat kacau. Sementara di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, tapi masa depan yang Nicko rasakan seolah-olah semakin gelap dan penuh dengan tanda tanya yang menyakitkan.