Di ruangan perawatan sang ibu yang hanya diisi oleh denting kesunyian, Nicko duduk di kursi sembari menatap wajah sang ibu yang tampak begitu pucat. Kerutan di kening sang ibu membuat Nicko menarik napas panjang. Ia tahu bahwa kehidupan keluarganya sangat berat. Terutama sang ibu.
Sekarang, ibunya itu sedang tertidur pulas setelah meminum obatnya, meninggalkan Nicko sendirian dengan gejolak di hatinya yang masih terus berkecamuk. Semua rasa sakit seolah sedang bergelut. Semuanya campur aduk.
Selain itu, video dari Anggun tak henti terputar secara otomatis di benak Nicko. Tawa Nona Lucy, tangan lelaki asing itu di pinggangnya, dan cara Nona Lucy bersandar kepadanya. Setiap detail itu terasa seperti pisau yang mengiris-iris harga diri Nicko. Rasanya baru saja ia kembali percaya diri untuk merasa layak bagi Nona Lucy, tapi kini sudah dijatuhkan kembali oleh kenyataan tersebut. Nicko merasa tidak tahu apa-apa lagi. Ia merasa kian terasing.
Tepat pada saat itulah, pintu kamar terbuka perlahan. Ayah Nicko melangkah masuk dengan raut wajah yang lelah, membuatnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Ia menatap istrinya sejenak, lalu beralih menatap putra tunggalnya dengan tatapan yang penuh beban.
“Nicko,” ucap ayahnya dengan berat. Ia duduk di samping Nicko dengan tergesa-gesa.
Nicko tidak menyahut. Ia bahkan tidak menoleh, jemarinya hanya sibuk memainkan ujung kemejanya yang masih berbau parfum Nona Lucy, aroma yang kini terasa menyesakkan sekaligus ia rindukan. Hubungan antara ayah dan anak ini memang tidak begitu baik, apalagi setelah Nicko diserahkan kepada Nona Lucy demi melunasi utang mereka.
Ayahnya menghela napas panjang, lalu duduk di kursi sebelah Nicko. "Maafkan Ayah, Nak. Setiap kali melihatmu seperti ini, hati Ayah terasa sangat sakit. Kau seharusnya tidak berada di sana, mengalami semua yang tidak sepantasnya kau alami."
Nicko tetap diam, pikirannya hanya fokus kepada Nona Lucy.
“Ayah tahu kau terpaksa menghadapi ini semua," lanjut ayahnya dengan nada penuh penyesalan. “Menikah dengan wanita seperti Nona Lucy, itu bukan kehidupan yang layak untukmu. Menjalani hubungan yang tidak seharusnya kau tanggung demi kesalahan orang tuamu.”
“Cukup,“ potong Nicko dingin. Suaranya datar, tapi dipenuhi dengan kebencian yang tertahan.
Ayahnya tertegun. “Nicko, Ayah hanya ingin kau tahu bahwa kalau ada jalan keluar yang lebih baik, Ayah ingin membebaskanmu. Ayah ingin kita bisa kembali lagi. Suatu saat nanti.”
“Jalan keluar apa?” Nicko menoleh, matanya menatap tajam. “Setelah Ayah menyerahkanku padanya? Setelah aku harus menyerahkan seluruh hidupku untuk menjadi miliknya? Sekarang Ayah datang dan meminta maaf seolah itu bisa mengubah kenyataan bahwa aku sudah terlanjur terikat dengannya?”
“Ayah tidak bermaksud begitu, Nicko ....”
“Aku tidak butuh penjelasan.” Nicko berdiri dengan kasar.
“Simpan saja maaf Ayah untuk Ibu. Aku harus pulang. Aku masih punya banyak urusan. Sebaiknya Ayah menjaga Ibu dengan baik. Jangan sampai kejadian yang sama terulang lagi.”
Ayahnya tampak sangat kecewa.
“Pulang sekarang? Ke rumah itu lagi?”
“Rumah itu adalah tempatku sekarang, Ayah. Suka atau tidak,” ucap Nicko ketus. Ia pun melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan ayahnya yang tenggelam dalam rasa bersalah.
Sepanjang perjalanan pulang, Nicko hanya menatap kosong ke luar jendela mobil. Pikirannya tersangkut pada satu tanya, siapa lelaki yang ada di video itu? Jika Alfred adalah urusan bisnis yang bisa ia singkirkan dengan bubuk lada di dalam kopi, maka pria di video itu terlihat sangat setara dengan Nona Lucy. Bisa dikatakan mereka terlihat serasi. Pikiran itu membuat Nicko ingin berteriak. Apakah benar apa yang dikatakan Anggun? Bahwa ia akan segera digantikan?
Sesampainya di kediaman Nona Lucy, suasana di rumah tersebut terasa sangat berbeda. Nicko melangkah masuk dengan wajah yang lelah dan langkah yang berat.
“Selamat datang kembali, Tuan Muda Nicko. Apakah Anda ingin saya siapkan makan malam?” tanya salah satu pelayan dengan sopan.
“Diam. Jangan bicara padaku,” gertak Nicko tanpa menghentikan langkahnya. Pelayan itu terkejut, mundur selangkah karena tak menyangka melihat Nicko yang biasanya lembut kini berubah menjadi sangat agresif.
Nicko menaiki tangga dengan langkah tegas. Hal pertama yang ia cari adalah keberadaan Nona Lucy. Ia membutuhkan wanita itu. Ia membutuhkan penjelasan, atau setidaknya satu ciuman yang bisa meyakinkannya bahwa video itu tidak berarti apa-apa. Namun, saat ia membuka pintu kamar utama, ruangan itu kosong. Hanya ada keheningan dan aroma stroberi yang dingin.
“Di mana dia?” tanya Nicko pada pelayan yang mengekor di belakangnya dengan ragu.
“Nona Lucy sedang ada jamuan makan malam penting, Tuan. Nona berpesan agar Anda beristirahat lebih awal karena Nona mungkin akan pulang larut.”
“Kolega baru itu?!” suara Nicko meninggi, wajahnya memerah karena emosi. “Pria yang bersamanya tadi?”
“Saya, saya tidak tahu, Tuan. Nona hanya bilang itu.”
“Keluar! Pergi dari sini!” teriak Nicko.
Begitu pelayan pergi, Nicko meledak. Emosi yang ia tahan sejak di rumah sakit meluap seperti bendungan yang jebol. Ia meraih vas bunga kristal di atas meja rias dan membantingnya ke lantai. Serpihan kaca berserakan, sama hancurnya dengan perasaan Nicko pada saat ini.
Dan ia tidak berhenti begitu saja. Nicko menarik sprei kasur dengan kalap, menjatuhkan semua botol parfum mahal di meja rias, dan melempar bantal-bantal ke segala arah. Ia merasa dikhianati. Ambisinya untuk menjadi seseorang yang pantas bagi Nona Lucy terasa sia-sia jika Nona Lucy sendiri sedang asyik bergandengan tangan dengan lelaki lain di luar sana.
“Kau bilang aku milikmu!” raung Nicko pada dinding kamar yang bisu.
Nicko jatuh terduduk di tengah kekacauan itu, napasnya terengah-engah. Tangannya terkepal kuat. Rasa sakit di bibirnya kembali berdenyut, mengingatkannya pada hukuman tempo hari, tapi kini, rasa sakit di dadanya jauh lebih hebat.
Ia merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan, sekaligus merasa seperti monster yang sedang cemburu. Nicko terus menghancurkan barang-barang kecil di sekitarnya, melampiaskan rasa sesak yang tak kunjung hilang. Ia tidak peduli seberapa mahal barang-barang itu. Ia hanya ingin Nona Lucy pulang dan melihat betapa hancurnya ia karenanya.
Di tengah amukannya yang mulai melemah karena lelah, suara deru mobil Nona Lucy akhirnya terdengar memasuki halaman. Nicko seketika membeku. Amarahnya masih mendidih, tapi rasa takut akan reaksi Nona Lucy juga mulai menyelinap. Ia tetap duduk di lantai, di antara pecahan kaca dan barang-barang yang berserakan, menunggu badai yang mungkin akan segera datang sesaat setelah Nona Lucy membuka pintu kamar.