"Pria gagal move-on lagi ngelamun." Hardi menoleh pada dua sosok rekan seperjuangan. Sama-sama hidup dan makan dari gaji sebagai pelayan restoran, sama-sama pula menempati kos-kosan dalam satu tempat. Hardi tidak menggubris, apa pun itu, yang dikatakan mereka memang benar adanya. Ia tidak berhak mengelaknya. "Lupain aja kenapa, sih. Lagi pula manusia kayak kita gini musti tahu diri, lah. Masih digaji tepat waktu aja udah alhamdulillah, Di, Di. Gaya-mu mau nyaingi pria sekelas Mahadirga. Ingat dia CEO perusahaan minyak. Berat, Di, berat," ucap si usil berambut cepak. Tubuh kurus kering bagaikan tak pernah makan. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak. "Kalau Delia saja yang gadis biasa bisa menikah dengannya, apa aku tidak berhak memimpikan hal yang sama?" Hardi menghela nap