"Kak Adrian, perkenalkan, ini Aisha," suara Rendra bergema bangga di tengah riuh tepuk tangan yang mulai mereda. Ia menuntun Aisha mendekati pria yang baru saja melangkah ke tengah panggung.
Aisha merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di aula itu menghilang dalam sekejap. Di bawah kilatan lampu sorot, Adrian Mahendra berdiri tegak, memancarkan aura kekuasaan. Sepasang matanya yang pekat menatap ke arah Aisha, tanpa ada riak keterkejutan sedikit pun.
"Adrian Mahendra," ucap Adrian, mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Suaranya yang berat dan dalam mengirimkan gelombang getaran aneh yang langsung menusuk d**a Aisha.
Aisha memaksakan diri untuk tidak mundur. Dengan telapak tangan yang dingin karena syok, ia menyambut uluran tangan itu. "Aisha Pramesti, Kak... maksudku, Tuan Adrian."
Adrian tidak langsung melepaskan genggamannya. Ibu jarinya sengaja mengusap punggung tangan Aisha secara halus namun tegas selama beberapa detik—sebuah sentuhan rahasia yang membuat bulu kuduk Aisha meremang.
"Panggil Kak Adrian saja, Aisha. Kamu akan segera menjadi bagian dari keluarga ini," sahut Adrian dengan senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Rendra sangat beruntung mendapatkan wanita sepertimu."
Aisha cepat-cepat menarik tangannya begitu cengkeraman Adrian mengendur. "Terima kasih."
"Tentu saja aku beruntung, Kak!" Rendra terkekeh, merangkul posesif pinggang Aisha tanpa menyadari ketegangan hebat yang nyaris meledak di antara dua orang di dekatnya. "Oh ya, besok siang aku dan Aisha berencana meninjau lokasi proyek galeri seni baru kita di Bogor. Aisha yang akan menjadi kurator utamanya."
Adrian menaikkan sebelah alisnya. "Bogor? Di daerah perbukitan yang jalurnya baru dibuka itu?"
"Iya, Kak. Aku ingin dia melihat ruangannya langsung."
Sebelum Adrian sempat menanggapi, seorang sekretaris pria ber-setelan rapi bergegas naik ke atas panggung dan berbisik cemas di telinga Rendra. Wajah Rendra seketika berubah pucat.
"Apa? Sekarang?!" Rendra setengah berteriak, panik. Ia menatap Adrian dengan raut bersalah. "Kak... investor dari Singapura tiba-tiba meminta pertemuan darurat malam ini juga terkait kontrak pelabuhan. Aku harus ke bandara sekarang."
"Pergilah. Selesaikan urusanmu," jawab Adrian tenang, seolah semua ini sudah berada dalam prediksinya.
"Tapi bagaimana dengan Aisha? Dan survei lokasi besok?" Rendra menatap Aisha dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Sayang..."
"Tidak apa-apa, Rendra. Aku bisa pergi sendiri bersama tim teknis besok," sela Aisha cepat. Ia merasa ini adalah kesempatan emas untuk menjauh dari radius berbahaya Adrian.
"Tidak bisa," potong Adrian cepat. Matanya mengunci Aisha tanpa ampun. "Jalur ke lokasi itu sepi dan rawan longsor jika hujan. Aku tidak akan memizinkan calon adik iparku pergi ke sana tanpa pengawalan."
Adrian kemudian menatap Rendra. "Pergilah ke Singapura. Biar aku yang menyetir dan menemani tunanganmu ke Bogor besok."
Rendra langsung menghembuskan napas lega, matanya berbinar penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Kak! Kau memang bisa diandalkan. Aisha, kau aman bersama Kak Adrian."
Aisha hanya bisa mematung dengan bibir terkatup rapat.
Keesokan siangnya, perjalanan menuju Bogor berubah menjadi pemandangan yang mencekam. Langit yang semula cerah mendadak hitam pekat dan hujan deras langsung mengguyur mobil Rolls-Royce hitam milik Adrian.
Aisha duduk di kursi penumpang, mencengkeram sabuk pengamannya dengan erat. Sejak berangkat dari Jakarta, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Adrian fokus menyetir.
Kreek
Mobil tiba-tiba berguncang hebat saat melewati tikungan menanjak, di kelilingi hutan pinus yang gelap. Mesin mobil mendadak mati dan semua indikator di dasbor padam total.
"Sial," umpat Adrian rendah. Ia mencoba menyalakan mesin beberapa kali, namun tetap nihil.
Adrian melirik ke luar jendela. Hujan turun begitu lebat hingga jarak pandang tidak lebih dari satu meter. Petir menyambar bergantian, menciptakan kilatan cahaya yang menakutkan.
"Kita terjebak di sini?" tanya Aisha, suaranya sedikit bergetar karena hawa dingin AC yang mulai bercampur dengan udara lembap di luar. Adrian tidak menjawab. Ia melepas jas hitam mahalnya, lalu tanpa permisi menyampirkannya ke atas bahu Aisha.
"Aku tidak butuh—"
"Pakai, Aisha. Tubuhmu akan menggigil," potong Adrian tegas.
Aisha terdiam, mencium aroma maskulin kayu cendana dari jas Adrian. Jantungnya berdegup kencang saat Adrian tiba-tiba melepaskan sabuk pengamannya sendiri, lalu menggeser tubuhnya mendekat. Di dalam ruang mobil yang remang, sempit dan terisolasi dari suasana luar, Adrian menyudutkan Aisha hingga punggung wanita itu merapat ke pintu mobil.
"Apa yang mau kamu lakukan? Mundur, Adrian!" bisik Aisha panik, ia menggunakan kedua tangannya untuk menahan d**a bidang Adrian.
"Kamu akan tahu nanti?" Adrian berbisik serak, menangkap kedua pergelangan tangan Aisha dengan satu tangan kokohnya, lalu menguncinya di atas kepala Aisha. "Mengapa sekarang kamu mendadak menjadi wanita suci, Aisha?"
"Karena aku tidak tahu ternyata kamu adalah kakak Rendra!" air mata Aisha mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa bersalah yang menyiksa. "Lepaskan aku... ini dosa!"
"Aku tidak perduli, Aisha," bisik Adrian rendah.
Adrian menunduk, menatap bibir Aisha yang bergetar sebelum akhirnya membungkamnya dengan sebuah ciuman yang menuntut, panas, dan penuh kepemilikan. Aisha mencoba memberontak dengan memalingkan wajah, namun Adrian segera mencengkeram rahangnya dengan lembut, memperdalam pagutan mereka hingga akal sehat Aisha perlahan hilang, tergantikan oleh gairah terlarang yang membakar dadanya.
Tepat di tengah pagutan panas yang membuat napas mereka memburu, sebuah suara nyaring mendadak memecah keheningan di dalam mobil.
Bzzz... Bzzz... Bzzz...
Ponsel Aisha yang tergeletak di dasbor menyala terang di tengah kegelapan, menampilkan sebuah nama dengan lampu latar yang berkedip-kedip. 'Rendra Calling'