Keandre menyandarkan diri pada kursi mobil, menghela napas panjang. "Sayang, kita pulang ke rumah aku dulu aja ya, kayak biasa?" pintanya. "Aku capek banget. Daripada aku harus nyetir lagi buat nganterin kamu pulang, kita istirahat dulu, nanti agak sorean aku anter deh, abis istirahat." Alena sontak merasa gugup. Permintaan Keandre ini adalah undangan langsung ke medan perang, undangan untuk menerima 'pembalasan' yang baru saja diancamkan Darren. Ia tahu, jika ia kembali ke rumah itu, ia akan sendirian menghadapi pria dominan tersebut. "Enggak deh, babe. Aku langsung pulang aja, ya. Kasihan kamu, kalo harus bolak-balik gitu, aku bisa naik taksi," tolak Alena, berusaha terdengar prihatin. "Ayolah, Sayang," rengek Keandre, meraih tangan Alena. "Aku butuh ditemenin kamu sebentar. Please. A

