Hari itu akhirnya tiba. Hari pernikahan Mara dan Derryl. Mara duduk dengan punggung tegak, dan mata terpejam. Membiarkan seseorang memulas keseluruhan wajahnya. Pikirannya melayang. Pembicaraannya dengan sang kakak semalam terngiang-ngiang di telinganya. Mara mendesah dalam hati. Kenapa juga dia harus goyah? Tidak seharusnya dia memikirkan pria itu. Dia sendiri bilang, masa lalu itu sudah terkubur. Mara kesal dengan perasaannya sendiri. Wanita itu memasukkan sebanyak mungkin oksigen melalui sepasang bibir yang ia buka sedikit. Dia memerlukannya untuk mengembangkan paru-paru yang seketika mengempis. “Nah, sudah selesai. Kamu bisa membuka mata.” Mara sedikit tersentak saat merasakan tepukan di bahunya. Mara mengeratkan pejaman matanya, sebelum dua detik berikutnya membuka pelan. Kelopak

