ENAM PULUH DUA

2025 Words

Rian sudah selesai sarapan dengan istrinya, sementara itu anaknya dibawa oleh mamanya yang sedari tadi tidak menangis sama sekali. Satria malah dibiarkan di lantai beralaskan dengan karpet berbulu tebal dan dibiarkan tidur miring. “Ma kenapa nggak dibatasi pakai bantal?” “Biarin aja, dia belajar tengkurap.” Rian duduk di sebelah mamanya ketika Satria sedang mencoba tengkurap. “Terus sayang!” mamanya Rian menyemangati dan Satria malah berhasil tengkurap. “Apa nggak sakit dadanya, Ma?” “Nggak kok. Malah senang lho dia kalau dibiarin begitu. Biarin aja dia belajar.” “Lucunya ya, Ma.” “Kamu dulu sembilan bulan udah bisa jalan, Rian. Kamu jatuh pun nggak dipungut sama Papamu. Karena itu bikin kamu nangis. Jadi ya dibiarin, kamu nggak bisa merangkak lho, tapi malah bisa berdiri.” “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD