Gavin masih mengulurkan tangannya di udara, menunggu dengan sabar yang jarang dia miliki agar Vero mau melangkah mendekat. Namun, Vero tetap bergeming di posisinya. Gadis itu melipat kedua tangannya di d**a, mencoba menahan tubuhnya yang gemetar hebat karena kombinasi rasa takut, shock, dan dinginnya angin malam Jakarta yang menyelinap masuk lewat pintu depan. "Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Om. Semuanya udah jelas banget sejak tadi pagi," kata Vero, suaranya terdengar datar tapi bergetar di ujung kalimat. Vero berusaha mati-matian agar air matanya gak menetes di depan pria ini. Dia gak mau kelihatan lemah lagi di mata Gavin. "Veronika, jangan keras kepala," potong Gavin, suaranya memberat, tanda kalau kesabarannya mulai menipis. Pria itu menurunkan tangannya lalu memasukkannya

