Delima sedang menyapu halaman depan ketika langkah berat Nando terdengar mendekat. Pria itu sudah jauh lebih baik setelah berminggu-minggu di rumah, meski gerakannya masih pelan. Delima hanya melirik sekilas, lalu kembali menyapu seolah tak peduli. “Delima,” suara Nando terdengar dalam tapi lembut. “Kita bisa bicara sebentar?” Delima menghentikan sapunya. Tangannya mencengkeram gagang sapu lebih erat. “Kalau ini soal makan siang atau apa pun yang kamu mau, minta aja sama Nina. Dia kan lebih tahu apa yang kamu suka.” Nando menarik napas panjang. “Aku tahu aku salah, Delima. Aku minta maaf. Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu ngerasa tersisih.” Delima tertawa kecil, tapi getir. Tatapannya penuh luka. “Tersisih? Kamu ngomong gitu seolah aku cuma tamu di rumah ini. Padahal aku istrimu

