Faye berusaha menelan ludah dengan susah payah, akhirnya terpaksa ia mengangguk. Pasrah dengan apa yang Xander inginkan. Senyuman Xander yang menyeramkan kembali terlihat, membuat Faye segera melepaskan tangan lelaki itu dari pingganya. Ia beringsut mundur, lalu berlari kecil keluar dari ruangan. Melihat itu, Xander terkekeh. Merasa puas karena ancamannya berhasil. Tidak peduli dengan ketakutan yang terpancar jelas di wajah Faye tadi. Lantas ia mengambil ponsel dari meja, menekan nomor, dan sambungan terhubung langsung. “Siapkan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Pastikan tidak ada masalah, aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun.” Sebelum mendapatkan balasan, Xander sudah lebih dulu mematikan sambungan. Lelaki itu tersenyum lebar, tetapi dendam lamanya belum juga hilang. “Sa

