Faye menghela napas usai keluar dari kamar mandi, lalu dengan langkah gontai menghampiri Xander yang masih terbaring lemah di ranjang. Mata laki-laki itu masih terpejam, hampir sebulan ini Faye harus berada di sana—mengurusnya. Faye merasa lelah. Putus asa terkadang menguasai diri. “Kapan kamu sembuh, Xander? Kenapa kamu kembali membuatku di situasi rumit ini?” Decakan kesal itu keluar dari mulut Faye akhirnya. Hatinya sakit sekaligus cemas. Di satu sisi, ia merasa kesal karena harus merawat Xander di tengah kebencian yang dirasakannya atas sikap lelaki itu, tetapi di sisi lain rasa cemas akan keadaan Xander pun tak dapat terelakkan. Mata Faye terpejam kuat. Tangannya mencengkeram erat pinggiran ranjang pesakitan Xander kala ingatan bagaimana bengis dan jahatnya pria itu muncul. Keja

