Andreas terkekeh, lalu memutar badan dan duduk lagi di kursi. Xander makin sulit menahan emosinya, tapi tidak bisa berbuat banyak. Meski berada di ruang tertutup, mereka masih berdiri di satu gedung yang sama. Gedung pernikahan. “Sialan, bodoh! Jadi kamu memasukkan obat perangsang ke minuman istriku?!” ulang Xander menatap tajam setajam elang. Namun, seperti biasa, Andreas tidak terusik. Ia masih santai menghabiskan minuman di gelasnya. “Hm? Lantas apa? Apa yang harus aku lakukan karena semuanya sudah terjadi, Xander?” Pria itu menatap nyalang, lalu meletakkan kembali gelasnya dan bangkit mendekati Xander. Anak buah Xander bersiap-siap siapa tahu Andreas melampaui batasnya. “Biar kutegaskan sekali lagi padamu, Andreas. Mantan teman masa kecilku ... istriku hanya milikku. Dan kamu tid

