Di rumah Hanggara .... Suasana di ruang utama rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu gantung yang menyala temaram memantulkan bayangan panjang di lantai yang licin dan mengkilap, menciptakan kesan sunyi yang menekan. Aroma tembakau bercampur dengan bau darah yang samar menyusup di udara, seolah menjadi saksi bisu dari hukuman yang baru saja terjadi. “Masih belum puas kamu buat Kania mati, Bian?” Hanggara bertanya. Nadanya cukup rendah, tapi penuh penekanan. Ia menatap putra tengahnya yang kini bersimpuh dengan bertelanjang d.a.da, seperti menimbang apakah pria di hadapannya masih memiliki akal sehat atau tidak. Punggung pria itu mendapat banyak goresan dari cambuk yang dihantamkan olehnya. Lukanya abstrak, saling bertumpuk tanpa pola yang jelas. Tetes darah mengalir dari be

