BAB 48

1340 Words

“Guncangan turbulensi paling hebat itu bukan di udara, Thalia ... tapi saat integritas kita diuji oleh iri hati manusia di darat,” ucap Kapten Marshel lembut sambil menyeduh teh hangat untuk putrinya. Uap tipis beraroma melati meliuk-liuk di atas cangkir keramik putih yang diletakkan Kapten Marshel di atas meja kayu jati. Suasana ruang keluarga Danubrata malam itu terasa sangat hangat, kontras dengan hawa dingin yang sempat mengimpit d**a Thalia sepanjang hari di bandara. Lampu gantung bersinar keemasan, membiaskan ketenangan yang dirindukan Thalia sejak surat penonaktifan sementara itu mendarat di tangannya. Thalia meraih cangkir hangat itu dengan kedua telapak tangannya, menikmati kehangatan yang perlahan mengalir hingga ke ujung-ujung jarinya. Ia menatap ayahnya yang kini duduk di sof

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD