“Melihat kamu tersenum lepas begini tanpa beban headset menara, rasanya seperti mendarat di landasan paling mulus di dunia,” bisik Valen saat mereka berjalan berdua di Taman Bungkul Surabaya. Thalia menoleh cepat, lalu tertawa renyah mendengar perumpamaan manis yang baru saja meluncur dari mulut pria di sampingnya. Angin sore yang berhembus lembut menggoyangkan dedaunan pepohonan rindang di sekitar area taman, membawa kesegaran alami di tengah riuhnya suasana lalu lintas Kota Surabaya. “Kamu ini, Valen ... bisa-bisanya analogi penerbangan dibawa sampai ke taman kota,” sahut Thalia sembari merapikan beberapa helai rambutnya yang melambai tertiup angin. Valen tersenyum tipis, menatap Thalia dengan binar mata yang hangat. Sore itu, tak ada kemeja putih berpet pangkat tiga garis di bahu Val

