“Pak … Roy,” suara Lara nyaris tidak terdengar, tapi cukup membuat lelaki itu menegakkan tubuhnya. Ia melangkah mendekat dengan napas tidak beraturan. Tangannya gemetar, seolah ia sedang berdiri di ujung jurang dan hanya Roy yang bisa menjelaskan apakah ia benar-benar akan jatuh. “Pak Roy … Mas Niko … di mana?” Roy tercekat. Sepanjang perjalanan menuju vila, ia sudah menyiapkan kalimat demi kalimat di kepalanya. Tapi begitu melihat Lara berdiri di hadapannya dengan wajah pucat, mata sembap, dan tubuhnya yang seperti kehilangan pusat—semua susunan kata itu buyar begitu saja. Ia merasa bersalah. Begitu mendapat kabar bahwa Niko dibawa paksa oleh Richard, Roy langsung tahu satu hal: Niko pasti tidak sempat memberi kabar pada istrinya. Dan jika ada satu hal yang pasti ingin dilakukan tua

