Roy mengembuskan napas pelan. Rahangnya mengeras. “Maaf,” ucapnya tegas. “Nyonya Lara tidak punya janji apa pun dengan Tuan Richard.” Salah satu pria itu melangkah maju setengah langkah. “Ini bukan undangan, Pak Roy.” Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengancam. Lara menelan ludah. Jemarinya makin kuat mencengkeram jas Roy. Ia bisa merasakan ketegangan dari tubuh lelaki itu—kaku, siap siaga. “Pak Roy …” bisiknya lirih. Roy sedikit memiringkan kepala, cukup agar suaranya hanya terdengar oleh Lara. “Tenang, Mba. Saya di sini.” Namun pria di hadapan mereka kembali bersuara, kali ini lebih langsung. “Tuan Richard hanya ingin berbicara. Lima belas menit saja. Setelah itu, Nona bisa pergi.” “Dan kalau kami menolak?” tanya Roy dingin

