Langkah Lara langsung terhenti saat namanya dipanggil. Ia menoleh dan mendapati Marinka berjalan mendekat. Wanita itu sudah berganti gaun—lebih sederhana dari sebelumnya, namun tetap anggun. Wajahnya segar, senyumnya hangat. Ia memang cantik. Terlalu pantas berdiri di sisi Niko. Begitu jarak mereka menipis, Marinka tanpa ragu langsung memeluk Lara. “Ya ampun, Kania, kamu ke mana aja?” Pelukan itu tulus. Hangat. Tidak ada jarak, tidak ada kecurigaan. Ketika mereka melepas diri, Marinka menangkup wajah Lara dengan kedua tangannya, menatapnya penuh kekhawatiran. “Aku khawatir banget sama kamu,” ucapnya lagi. "Kenapa nggak ngabarin aku, sih? Kenapa kayak ngilang ditelen bumi." Di titik itu, da.da Lara terasa sesak. Setelah semua yang terjadi, setelah rahasia yang ia simpan sendirian, Mari

