Episode 2 : Embun, Si Wanita Perkasa

1359 Words
Pagi-bagi buta, Embun yang telah membereskan beberapa adonan kue dalam baskom berukuran sedang, bergegas menuju sebuah kamar berdinding bilik. Wanita ayu berusia dua puluh empat tahun itu membangunkan satu persatu anak yang tengah tertidur lelap di amben, dan tidaklah lain merupakan adiknya.  Ke empat adik Embun tersebut tidur sesuai urutan umur. Wulan adik tertua dan berusia empat belas tahun meringkuk di ujung amben sebelah kanan, Ibrahim adik ke dua berusia dua belas tahun berada di sebelah Wulan, Utari adik ke tiga berusia sepuluh tahun, sedangkan Ragiel si bungsu berusia lima tahun dan meringkuk di ujung amben sebelah kiri. Sebenarnya, Embun bukan anak pertama. Embun merupakan anak ke dua dari enam bersaudara. Namun, karena Purnama selaku anak tertua justru sudah menikah semenjak Embun berusia tujuh belas tahun, semenjak itu pula sebagian besar beban keluarga dilimpahkan kepada Embun. Meski jika diperhitungkan, sebenarnya Embun sudah ikut menanggung beban keluarga semenjak usianya sepuluh tahun. Bahkan demi membuat Purnama yang digadang-gadang bisa menjadi tulang punggung keluarga, Embun sampai rela hanya sekolah sampai kelas satu SMP. Akan tetapi, selepas SMA, Purnama justru langsung menikah dan melepas semua tanggung jawab keluarga.  Purnama memang menikahi wanita dari keluarga paling berada di kampung mereka tinggal. Istri Purnama merupakan anak dari juragan tanah yang memiliki usaha penyewaan keperluan hajatan sekaligus pesta, yang juga memiliki bengkel sekaligus toko elektronik. Hanya saja, pihak istri Purnama sungguh memutus silaturahmi Purnama dengan Embun sekeluarga. Bahkan meski Sutri ibu mereka kerap sakit dan membutuhkan biaya tak sedikit, tidak sekali pun Purnama memunculkan batang hidung. Jangankan mengeluarkan sepeser uang, sekadar mengunjungi keluarganya yang tinggal di gubuk reot saja tidak pernah Purnama lakukan. Mereka tak ubahnya orang asing yang ketika berpapasan saja harus pura-pura tidak kenal. Dulu, ketika ke empat adiknya berikut Sutri sakit, Embun sempat nekat datang ke rumah Purnama yang tinggal bersama sang mertua, mengingat Inggit istri Purnama, merupakan anak tunggal. Namun, karena Embun justru hanya mendapat cacian dari Inggit sekeluarga, di mana parahnya Purnama tak ubahnya patung tak berperasaan yang bahkan sama sekali tidak mau membela Embun, Embun sungguh kapok, tak lagi-lagi meminta bantuan, kendati Embun tidak bermaksud meminta, melainkan meminjam dan akan mengembalikan semuanya bahkan bila perlu bunganya. Semua tentang Purnama yang sempat menjadi harapan terbesar keluarga, memang hanya menyisakan luka dan duka. Duka mendalam yang kerap membuat hati terasa begitu perih, sampai-sampai, Embun sekeluarga sepakat melupakan satu-satunya keluarga mereka, dikarenakan mereka memang tak memiliki sanak saudara lain. Kini, hal pertama yang Embun lakukan adalah membimbing adik-adiknya untuk bersiap menunaikan salat subuh berjamaah. Tanpa terkecuali si bontot Ragiel yang turut mereka ikutkan. Sedangkan Sutri yang sedang kurang enak badan, sudah bersiap di amben ruang keluarga yang juga merangkap menjadi ruang tamu.  Sutri sudah mengenakan mukena lengkap dengan sebuah sajadah lusuh yang tergelar di hadapannya. Sedangkan di hadapan Sutri, di lantai tanah tanpa sentuhan pasir apalagi semen, sudah tergelar tikar anyaman daun pandan. Mereka siap menjalani salat subuh berjamaah yang akan dipimpin oleh Ibrahim, semenjak Purnama meninggalkan mereka. Terlebih sejak lima tahun lalu, Trisno bapak mereka juga sudah berpulang. Mengenai Trisno, bapak mereka meninggal setelah jatuh dari pohon kelapa, ketika pria itu menyadap nirai. Kala itu, gelegar petir menyertai hujan deras yang disertai angin kencang. Sedangkan jatuhnya Trisno yang langsung meninggal di tempat, juga bertepatan dengan kelahiran Ragiel.  Meski mereka sudah akrab dengan luka dan duka, mereka tetap tidak sanggup jika ke dua hal tersebut semakin lama membersamai apalagi sampai bertambah lagi. Namun, sebagai manusia biasa, Embun hanya mampu berupaya. Melakukan semua yang terbaik demi kebahagiaan keluarganya. Tanpa meminta dan sungguh akan selalu berusaha mengandalkan jerih payah sendiri. **** Kesibukan Embun dan adik-adiknya berlanjut di dapur. Hanya Ragiel yang tidak ikut karena bocah itu ditugaskan untuk menjaga Sutri yang masih menghabiskan waktu dengan meringkuk. Semenjak melahirkan Ragiel, kesehatan Sutri memang menjadi mengkhawatirkan. Apalagi satu bulan terakhir, Sutri divonis mengidap penyakit gula basah. Kenyataan tersebut pula yang membuat Embun membatasi aktivitas Sutri. Karena sedikit saja Sutri terluka, kenyataan tersebut akan berakibat fatal. Demi memenuhi kebutuhan keluarganya yang tidak sedikit, dari biaya makan, biaya sehari-hari tanpa terkecuali pendidikan ke empat adiknya berikut pengobatan Sutri, Embun memang melakukan semua pekerjaan.  Biasanya, Embun bangun sekitar pukul tiga pagi. Embun akan meracik bakal kue, gorengan, berikut aneka camilan termasuk nasi rames, yang akan dijual keliling oleh adik-adiknya sebelum mereka pergi ke sekolah. Andai pun adik-adik Embun libur sekolah, mereka tetap keliling untung menjual semua dagangan mereka, di mana tak jarang, mereka juga akan mangkal di pasar atau perempatan jalan yang ramai guna mendagangkan makanan jualan mereka. Embun sudah membiasakan adik-adiknya hidup mandiri. Di mana ketika adik-adiknya mendagangkan dagangan mereka, setelah menyiapkan semua keperluan Sutri di meja sebelah amben keberadaan Sutri, layaknya kini, Embun juga langsung pergi mengerjakan pekerjaan lain. Biasanya, Embun akan ke sawah tetangga yang menyewa jasanya. Dari untuk sekadar membersihkan rumput di sawah menggunakan sabit, mengolah tanah menggunakan cangkul, juga semua pekerjaan lain yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Bahkan jika ada tetangga yang menyewa jasa Embun untuk memetik kelapa, Embun dengan senang hati memanjat pohon kelapa tanpa perantara sejenis tangga.  Boleh dibilang, Embun memang wanita perkasa, pekerja keras, tak kenal lelah apalagi gengsi. Asal pekerjaan yang Embun kerjakan halal, asal adik dan ibunya tetap bisa makan, Embun akan mengerjakan semua pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Bahkan meski semua pekerjaan yang Embun jalani dari sekitar pukul tiga pagi, membuat Embun baru bisa beristirahat di pukul sembilan atau sepuluh malamnya. Kenyataan tersebut terjadi karena Embun harus menyiapkan sederet keperluan dagangan makanan mereka. Semuanya Embun lakukan tanpa pamrih, demi kelangsungan hidup keluarganya. “Mbun, besok pulang dari sawahnya jangan kesorean apalagi kemalaman, yah!” ucap Sutri mengingatkan. Embun yang sudah mengenakan pakaian panjang biasa ia kenakan saat ke sawah lengkap dengan tudung yang telah menutupi kepalanya, berangsur menoleh dan menatap Sutri dengan senyum terbaiknya. Sutri yang duduk di bibir amben beralas tikar, menggeleng tak habis pikir, bersama senyuman yang menyertai. “Besok kamu harus pulang lebih awal. Dandan yang cantik, wangi, biar nak Rustam merasa lebih spesial!” Ketika nama Rustam disebut, detik itu juga Embun langsung tersipu. Embun langsung berbunga-bunga seiring dadanya yang menjadi berdebar-debar. Seolah, banyak kupu-kupu tak kasat mata yang begitu cantik, berterbangan dari dadanya. Embun mengangguk-angguk paham. Di tengah senyum tertahan, ia berkata, “Iya, Bu. Besok, sebelum pukul lima, aku pasti sudah pulang. Sekalian masak sama bikin beberapa kue buat suguhan mas Rustam sekeluarga.” Karena sesuai rencana, besok malam, Rustam selaku pria yang selama satu tahun terakhir dekat dengan Embun, akan membawa pihak orang tuanya untuk datang melamar Embun.  Rustam memang bukan dari keluarga berada layaknya Inggit, tapi Rustam begitu peduli kepada Embun sekeluarga. Rustam masih tinggal di kampung yang sama dengan Embun. Mereka hanya beda RT, terlepas dari Rustam yang sudah dekat dengan keluarga Embun. Bahkan saking dekatnya, Rustam yang bekerja di bengkel orang tua Inggit, selalu mengantar Sutri di setiap Sutri berobat rutin. “Lamaran … besok malam, aku akan dilamar. Mas Rustam … semoga kita segera menikah dan menjadi keluarga yang sakinah … keluarga impian kita!” batin Embun yang menjadi sibuk tersipu. Yang membuat Embun sulit mengakhiri senyumnya, tak lain karena ia teringat sederet rencana dan telah ia susun bersama Rustam, selepas mereka menikah; hidup bahagia bersama anak-anak lucu. Karena baik Rustam maupun Embun, berencana memiliki banyak. Semuanya sungguh terasa indah. Nyaris sempurna. Dan Embun berharap, semua keindahan itu akan tumbuh menjadi nyata. **** Khusus hari ini, Embun rasa ada yang berbeda. Kesibukan Embun mengurus sawah, membereskan rumput liar di galengan sawah yang Embun urus menggunakan sabit, kemudian mencangkuli hamparan sawah seorang diri, di bawah terik matahari yang tiba-tiba digantikan hujan lebat, sama sekali tidak mengurangi semangat Embun yang hingga detik ini merasa sangat bahagia.  Embun masih merasa berbunga-bunga, hanya karena wanita perkasa itu tak sabar membayangkan lamaran yang akan diterima. Bahkan ketika petani yang lain berbondong-bondong menepi atau malah pulang lantaran suasana yang sudah tidak mendukung, dikarenakan langit sudah sangat gelap, Embun tetap mencangkul membiarkan tubuhnya terguyur hujan, sedangkan kaki hingga lututnya terendam air yang bercampur lumpur. Rasa lelah berikut dingin yang sudah membuat sendi-sendinya gemetaran, sengaja Embun abaikan. “Semangat, Mbun! Biar besok bisa pulang awal!” gumam Embun menyemangati dirinya sendiri. Wajah Embun sudah terlampau pucat. Bibir mungilnya tampak biru, sedangkan tubuh perkasanya telah menggigil hebat. Mengenai lamaran, Embun sungguh tidak sabar menunggu malam esok. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD