Namun, saat Ricky hendak mengatakan sesuatu pada Mawar, Bima datang memberitahukan pada Ricky jika Ranty telah menunggunya di ruang kerja. Ricky menghela napas. Kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan Mawar harus tertunda. Ia menatap Mawar dengan raut menyesal.
"Maaf, Mawar. Sepertinya kita harus menunda pembicaraan ini. Ranty sudah menunggu." Ucapnya dengan nada kecewa.
Mawar mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya. "Tidak apa-apa, Tuan. Mungkin lain waktu saja," jawabnya dengan senyum tipis.
Ricky berdiri dari tepi tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Mawar dan tersenyum padanya. "Sampai nanti."
Setelah Ricky pergi, Mawar terdiam di kamarnya. Ia merasa bingung dan penasaran. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Ricky? Mengapa pria itu terlihat begitu gugup dan gelisah? Mawar mencoba menebak-nebak, namun ia tak menemukan jawaban yang pasti.
Sementara itu, Ricky berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah berat. Ia merasa kesal karena Ranty selalu saja mengganggu waktunya. Ia tahu bahwa sekretarisnya itu memiliki perasaan lebih padanya, namun ia tak pernah menanggapinya. Ricky hanya menganggap Ranty sebagai seorang karyawan yang profesional.
Sesampainya di ruang kerja, Ricky melihat Ranty duduk di kursi dengan anggun. Wanita itu mengenakan gaun merah yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya. Rambutnya ditata sedemikian rupa sehingga terlihat mewah dan elegan. Ranty tersenyum menggoda saat melihat Ricky masuk ke ruangan.
Ricky menghela napas, merasa jengah dengan kehadiran Ranty. Sejak Nayla meninggal, Ranty semakin gencar mendekatinya, memanfaatkan setiap kesempatan.
"Selamat pagi, Pak Ricky. Aku sudah menunggumu sejak tadi." Sapanya dengan suara lembut.
Ricky menghela napas lagi. "Ada apa, Ranty? Mengapa kamu datang sepagi ini?" Tanyanya dengan nada datar.
"Tuan Ricky, saya membawa berkas yang anda minta." Suara Ranty terdengar lembut.
"Letakkan saja di meja. Lain kali, tidak perlu datang terlalu pagi." Jawab Ricky singkat, tanpa menatap Ranty.
Ranty berjalan mendekat, meletakkan berkas di meja, lalu sengaja menyentuh lengan Ricky. "Pak Ricky terlihat lelah. Apa perlu saya pijat?" Tawar Ranty dengan nada menggoda.
Ricky menarik lengannya. "Tidak perlu, Ranty. Saya sedang banyak pekerjaan."
Ranty mendengus kesal. Ia tahu, Ricky tidak tertarik padanya. Pikirannya dipenuhi oleh gadis desa itu, Mawar. Ranty semakin membenci Mawar, sudah beberapa kali Ranty datang ke mansion dan melihat Ricky dan Mawar terlihat sering bersama.
"Pak Ricky. Saya hanya ingin melihat keadaan Ken dan Luna sebelum ke kantor." Ucap Ranty dengan suara lembut.
Ricky mengangguk singkat, ia berkata, "Baiklah, saya juga ingin ke sana. Tunggu sebentar." Ucap Ricky memeriksa kembali berkas yang diserahkan Ranty padanya. Ricky masih merasa canggung dengan kehadiran wanita itu.
Kemudian Ranty pergi ke kamar bayi bersama Ricky, lalu dia mendekati box bayi, ia memandangi wajah Ken dan Luna dengan tatapan penuh kasih sayang. "Mereka lucu sekali ya, Pak Ricky. Mirip sekali dengan mendiang Bu Nayla." Ucap Ranty tersenyum lembut, namun sekilas dia menatap Mawar dengan tatapan dingin.
Ricky terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa tidak nyaman dengan pujian Ranty terhadap anak-anaknya. Ricky memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan Ranty. Namun, di lubuk hatinya, Ricky mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dari Ranty.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ricky sudah terbiasa dengan kehadiran Ranty di rumahnya. Wanita itu hampir setiap hari datang, selalu menemui Ken dan Luna. Awalnya, Ricky merasa risih, namun lama kelamaan ia mulai menerima kehadiran Ranty.
Dua bulan sudah berlalu sejak Nayla pergi. Para pelayan di rumah itu sudah akrab dengan Ranty. Mereka melihat Ranty sebagai sosok ibu pengganti yang baik bagi Ken dan Luna.
Akan tetapi, Bi Siti pengasuh bayi yang sudah lama bekerja di keluarga itu, tidak menyukai Ranty. Ia merasa Ranty memiliki maksud tersembunyi terhadap majikannya.
Di sisi lain, Ricky duduk di ruang kerjanya, mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun, pikirannya melayang pada Nayla. Ia merindukan istrinya itu, senyumnya, suaranya, sentuhannya. Bayangan Mawar juga hadir di benaknya. Kelembutan gadis itu menghangatkan hatinya. Ricky menghela napas panjang, apakah dia pantas mendapatkan cinta gadis itu?
Tiba-tiba, Ranty masuk ke ruang kerja Ricky tanpa mengetuk pintu. "Maaf mengganggu, Pak Ricky. Saya hanya ingin menyerahkan laporan keuangan bulan ini." Ucap Ranty dengan suara lembut.
Ricky menerima laporan yang disodorkan oleh Ranty, namun tatapannya berubah menjadi dingin. "Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu? Jangan sampai ini terulang lagi!" Ucap Ricky
"Baik Pak Ricky, maafkan saya." Ucap Ranty sambil mengepalkan kedua tangannya.
'Awas kamu Ricky, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku suatu hari nanti! Kamu tunggu dan lihat saja!' Batin Ranty dalam hati.
Setelah Ricky menerima laporan keuangan dari Ranty, ia mengucapkan terima kasih singkat, tanpa menatap mata sekretarisnya itu. Ranty, meskipun merasa sedikit tersinggung dengan sikap dingin Ricky, tetap senyum profesional.
Ranty tahu, Ricky masih belum bisa menerima kehadirannya sepenuhnya. Namun, Ranty tidak menyerah. Ia yakin, dengan sedikit usaha lagi, Ricky akan luluh padanya.
"Sama-sama, Pak Ricky. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap Ranty sambil melangkah mundur.
"Tunggu dulu!" Ucap Ricky tiba-tiba.
Ranty berhenti dan berbalik, menatap Ricky dengan tatapan bertanya. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak Ricky?"
Ricky tampak ragu sejenak. "Tidak, tidak ada. Kamu boleh pergi sekarang, Ranty!" Ucapnya akhirnya.
Ranty mengangguk dan keluar dari ruangan. Saat pintu tertutup, Ranty menghela napas lega. Ia merasa jantungnya berdebar kencang setiap kali berdekatan dengan Ricky. '
Tenang Ranty, sebentar lagi Ricky akan menjadi milikmu!' Bisiknya dalam hati.
Setelah menutup pintu ruang kerja Ricky, Ranty berjalan menuju pantry untuk membuat kopi. Saat sedang menunggu air mendidih, ia memikirkan cara untuk menjebak Ricky.
Ranty tahu bahwa Ricky tidak menyukainya, namun dengan Ricky memberikan kesempatan bagi Ranty untuk masuk ke dalam kehidupan Ricky, itu sudah termasuk memberikan sebuah peluang.
Ranty akan membuat rencana kedua untuk membuat Ricky terjebak dan tidur dengannya. Setelah menjebaknya, Ranty dapat menikah dengan Ricky dan menjadi istri seorang CEO muda, setelah itu Ranty dapat menguasai semua harta kekayaannya.
Ranty tahu, Ricky tidak akan mudah ditaklukkan. Ia harus menyusun rencana yang matang dan memanfaatkan kelemahan Ricky.
'Aku harus membuatnya tidur denganku! Setelah itu, aku bisa mengklaim bahwa aku hamil anaknya. Ricky tidak akan punya pilihan lain selain menikahiku.' Pikir Ranty.
Ranty tersenyum licik. Ia yakin, rencananya akan berhasil. Ia sudah lama mengincar posisi Nayla. Sekarang, ketika Nayla sudah tidak ada, Ranty akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Ricky dan semua kekayaannya.