Bab 5 - Ibu hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan

1125 Words
Sementara itu, di ruang kerjanya, Ricky menghela napas panjang. Ia merasa bersalah karena telah membentak Ranty. Sebenarnya, ia tidak bermaksud untuk bersikap kasar pada wanita itu. Ricky hanya masih belum bisa menerima kehadiran wanita lain di dekatnya. Ricky memijat pelipisnya, merasakan denyutan halus yang menandakan kelelahan. Pikiran tentang Nayla dan anak-anaknya terus berputar di kepalanya. Terkadang ia masih merasakan kesedihan, meskipun Bi Siti dan Mawar selalu ada untuk membantunya mengurus Ken dan Luna. Ricky duduk di kursinya, pandangannya kosong menatap berkas-berkas di mejanya. Sejak percakapannya dengan Ranty, ia merasa ada yang mengganjal. Bukan karena ia merasa bersalah, tapi lebih karena ia menyadari betapa besar tekad wanita itu untuk mendekatinya. Ia tahu Ranty adalah wanita yang ambisius, tapi ia berpikir, bisa saja ambisinya berubah menjadi obsesi yang berbahaya suatu hari nanti. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Pemandangan taman yang hijau tidak mampu menenangkan pikirannya. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk pelan. "Masuk," ucap Ricky tanpa menoleh. Mawar masuk dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong kue kering. "Maaf mengganggu, Tuan Ricky. Saya hanya ingin mengantarkan teh hangat ini." Ucap Mawar dengan suara lembut. Ricky berbalik dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Mawar. Kamu tidak mengganggu." Ia mendekat dan mengambil cangkir teh dari nampan. Aroma teh melati yang menenangkan sedikit meredakan ketegangan di pundaknya. "Tuan Ricky terlihat lelah. Apa ada masalah?" Tanya Mawar dengan nada khawatir. Ricky menghela napas sebelum menjawab. "Tidak ada apa-apa, Mawar. Hanya sedikit masalah pekerjaan." Ia tidak ingin menceritakan tentang Ranty. Mawar meletakkan nampan di meja dan menatap Ricky dengan tatapan penuh perhatian. "Baiklah kalau begitu, saya akan kembali ke kamar bayi, Permisi Tuan." Ucapnya pelan. "Baiklah Mawar, terima kasih." Balas Ricky lagi. Tepat saat Ricky merenung, pintu ruang kerjanya terbuka. Ayah dan ibunya, masuk dengan wajah prihatin. Mereka kebetulan berpapasan dengan Ranty di depan pintu. Ricky bisa merasakan aura ketidaksukaan yang terpancar dari kedua orang tuanya terhadap sekretarisnya itu. "Ricky, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ibunya dengan suara lembut, mendekat dan memeluk putranya. "Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit lelah." Jawab Ricky, mencoba tersenyum. Ayahnya menepuk pelan pundak Ricky. "Kami tahu ini berat untukmu, Nak. Tapi kamu harus kuat. Kamu kan punya Ken dan Luna yang membutuhkan kasih sayang darimu." Ricky mengangguk, merasa terharu dengan perhatian kedua orang tuanya. Ia tahu, mereka selalu ada untuknya, memberikan dukungan dan cinta tanpa syarat. "Ranty sering ke sini, Nak?" Tanya Dini, nadanya sedikit menyelidik. Ricky menghela napas. "Dia membantu mengurus beberapa pekerjaan kantor, Bu. Dia juga suka melihat Ken dan Luna." Dini mengerutkan kening. "Ibu tidak yakin dengan wanita itu, Ricky. Ibu merasa ada sesuatu yang disembunyikannya." "Bu, jangan begitu. Ranty hanya datang ingin membantu pekerjaan Ricky." Balas Ricky, mencoba membela Ranty. "Ibu hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan, Nak. Kamu harus berhati-hati padanya!" Timpal Ayahnya. Ricky terdiam. Ia tahu, kedua orang tuanya hanya ingin yang terbaik untuknya. Namun, ia juga merasa tidak adil jika langsung menghakimi Ranty tanpa alasan yang jelas. Ia memutuskan untuk tidak membahas masalah Ranty lebih lanjut. "Terima kasih atas perhatiannya, Bu, Yah. Aku akan baik-baik saja. Sekarang, mari kita lihat Ken dan Luna." Ucap Ricky, mencoba mengalihkan percakapan. Dini dan Dony mengangguk, merasa lega karena Ricky tampak lebih baik. Mereka pun bersama-sama menuju kamar bayi untuk melihat cucu kembar mereka. Ketika memasuki kamar, Mawar sedang memberi s**u kepada Ken, sedangkan Bi Siti menggendong Luna. Ketika Ricky masuk bersama kedua orang tuanya, Bi Siti memberi salam kepada Dini dan Dony, begitu juga dengan Mawar. Dini menatap Mawar lekat, memperhatikan penampilannya. "Kamu pengasuh anak-anak Ricky?" Tanya Dini penasaran. "Benar Bu, saya Mawar, pengasuh baru di sini." Ucap Mawar sopan. Ricky menambahi, "Mawar ini juga keponakan dari Bi Siti, Bu." "Oh, masih kerabat dari Bi Siti. Baiklah Mawar, saya harap kamu dapat menjaga Ken dan Luna dengan baik." Ucap Dini ramah. "Baik Bu, saya akan merawat mereka dengan baik." Ucap Mawar lembut, senyumnya merekah setiap kali membicarakan kedua malaikat kecil tersebut. Ricky mengamati interaksi antara ibunya dan Mawar. Ada sesuatu dalam tatapan ibunya yang membuat Ricky merasa lega. Sepertinya ibunya juga menyukai Mawar. Ayahnya hanya tersenyum hangat, mengangguk-angguk sambil memperhatikan Ken dan Luna yang tampak tenang dalam gendongan Mawar. Kehadiran kedua orang tuanya membawa ketenangan bagi Ricky. Ricky tersenyum, merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, ia tidak merasa sendirian. Meskipun ia masih merindukan Nayla, ia tahu bahwa hidupnya harus terus tetap berjalan. Ia berharap, suatu hari nanti, ia bisa menemukan kebahagiaan kembali bersama dengan kedua anak-anaknya. Ricky berjanji, ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama jika menyangkut masa depannya dan juga kedua anak-anaknya. Ia tidak ingin menyesal di kemudian hari. Sudah dua bulan ini Ricky tidak menginjakkan kaki di kantor. Ia masih berkutat dengan kesedihan dan berusaha membiasakan diri dengan peran barunya sebagai seorang ayah tunggal. Di ruang kerja, ayah Ricky duduk berhadapan dengannya. Ayahnya menghela napas, menatap putranya dengan tatapan penuh kasih sayang dan juga prihatin. Ia tahu, Ricky mengalami masa-masa sulit, namun ia juga tidak ingin putranya terus terpuruk dalam kesedihan. "Ricky, Ayah tahu kamu masih berduka. Tapi kamu tidak bisa terus seperti ini." Ucap Dony dengan suara lembut namun tegas. Ricky menunduk, tidak berani menatap ayahnya. Ia tahu, ayahnya benar. Ia tidak bisa terus mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang CEO. Perusahaan membutuhkan kehadirannya, karyawan membutuhkan kepemimpinannya. "Ayah mengerti, kamu masih berduka. Tapi kamu harus ingat, kamu punya Ken dan Luna yang membutuhkanmu. Mereka membutuhkan seorang ayah yang kuat dan tegar." Lanjut Dony, mencoba menyemangati putranya. Ricky mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan tatapan penuh haru. Ia tahu, ayahnya selalu memberikan dukungan dan semangat kepadanya. Kata-kata ayahnya menyentuh hatinya, membuatnya sadar bahwa ia tidak boleh menyerah pada keadaan. "Ayah benar. Aku tidak boleh terus seperti ini. Aku harus bangkit dan berjuang demi Ken dan Luna." Ucap Ricky dengan suara yang bergetar. Dony tersenyum lega, melihat semangat putranya mulai kembali. Ia tahu, Ricky adalah seorang pria yang kuat dan mampu menghadapi segala rintangan. "Ayah bangga padamu, Nak. Ayah yakin, kamu bisa melewati semua ini." Ucap Dony, menepuk pundak Ricky dengan bangga. "Terima kasih, Ayah. Aku janji akan berusaha melakukan yang terbaik." Balas Ricky, menggenggam tangan ayahnya dengan erat. "Ayah akan selalu ada untukmu, Nak. Jangan ragu untuk meminta bantuan Ayah jika kamu membutuhkannya." Ucap Dony, memberikan dukungan penuh kepada putranya. Setelah percakapan yang mengharukan dengan ayahnya, Ricky merasa lebih termotivasi untuk kembali bekerja dan menjalankan perusahaannya. Ricky tahu, ia tidak bisa terus terlarut dalam kesedihannya. Ia harus bangkit dan berjuang demi masa depannya, Ken dan juga Luna. "Ricky, Ibu dan Ayah pergi dulu ya. Jangan lupa istirahat yang cukup," Ucap Dini sambil mencium pipi Ricky. "Iya, Bu, Yah. Hati-hati di jalan." Jawab Ricky. Setelah kedua orang tuanya pergi, Ricky kembali duduk di ruang kerjanya. Kata-kata ibunya tentang Ranty masih terngiang di telinganya. Ia tidak ingin langsung percaya, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan firasat seorang ibu. Ricky memutuskan untuk lebih berhati-hati terhadap Ranty.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD