Bab 6 - Hanya seorang pengasuh

1054 Words
Keesokan paginya, Ricky bersiap untuk kembali ke kantor. Sudah dua bulan lamanya ia absen, dan ia tahu banyak pekerjaan yang menumpuk menantinya. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap, berusaha tampil profesional dan tegar, meskipun hatinya masih terasa berat. Sebelum berangkat, Ricky menyempatkan diri untuk melihat Ken dan Luna di kamar bayi. Mawar sedang menimang Luna dengan penuh kasih sayang, sementara Ken tertidur pulas di dalam box bayi. Ricky tersenyum melihat kedua buah hatinya. Wajah mereka mengingatkannya pada Nayla. Senyum Ricky mengembang saat mengingat betapa Nayla sangat menginginkan kehadiran mereka berdua. Mawar menoleh saat merasakan kehadiran Ricky. Ia tersenyum lembut, lalu mendekat ke arah Ricky. "Selamat pagi, Tuan Ricky. Tuan sudah mau berangkat?" Tanya Mawar dengan sopan. Ricky mengangguk. "Iya, Mawar. Sudah lama saya tidak ke kantor. Kamu hati-hati ya, jaga Ken dan Luna baik-baik." Ucap Ricky, memperhatikan wajah Mawar dengan tatapan lembut. "Tentu, Tuan. Saya akan menjaga mereka seperti anak saya sendiri." Jawab Mawar dengan tulus. Ricky terdiam sejenak, menatap Mawar dengan intens. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ia masih ragu. Ia takut, jika ia mengungkapkan perasaannya, Mawar akan menjauhinya. Namun di sisi lain, ia tidak ingin terus memendam perasaannya. "Mawar.." Panggil Ricky dengan suara pelan. "Iya, Tuan?" jawab Mawar, menatap Ricky dengan tatapan penuh tanya. "Emm... sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan denganmu. Tapi mungkin lain waktu saja, ya?" Ucap Ricky, mengurungkan niatnya. Mawar mengerutkan keningnya. Ia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Ricky. Namun ia tidak ingin memaksa. "Baiklah, Tuan. Kalau Tuan sudah siap, saya akan selalu siap mendengarkan." Ucap Mawar dengan senyuman manis. Ricky mengangguk, merasa lega sekaligus kecewa. Ia ingin segera mengungkapkan perasaannya, namun ia juga tidak ingin merusak hubungan baik yang sudah terjalin antara dirinya dan Mawar. Ia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat. "Papa berangkat kerja dulu ya, sayang. Tante Mawar akan menjaga kalian berdua." Ucap Ricky lembut, mengecup kening kedua bayinya bergantian. "Iya Papa, selamat bekerja ya.. Luna dan Ken akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Papa." Ucap Mawar lembut, membalas perkataan Ricky. Tanpa sadar senyuman kembali menghias wajah Ricky yang biasanya terlihat dingin. "Terima kasih, Mawar. Saya pergi dulu ya." Ucap Ricky, lalu mencium kening Luna dan Ken secara bergantian. Dengan berat hati, Ricky harus meninggalkan kamar bayi dan bergegas menuju kantor. Ardi sopirnya, sudah menunggunya di depan rumah. "Hati-hati, Tuan" Jawab Mawar, memperhatikan Ricky yang berjalan keluar dari kamar bayi. Setelah kepergian Ricky, Mawar menghela napas panjang. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia merasakan getaran aneh setiap kali Ricky menatapnya. Ia tidak tahu apa arti semua ini, namun ia merasa, ada sesuatu yang istimewa antara dirinya dan Ricky. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ricky berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan. Ia memeriksa laporan keuangan, membaca email-email penting, dan menyusun rencana kerja untuk hari itu. Ia tahu, ia harus kembali menjadi Ricky Pratama yang dulu, seorang CEO yang sukses dan berdedikasi. Setibanya di kantor, Ricky disambut oleh Denis, asisten pribadinya. Denis tampak lega melihat Ricky kembali bekerja. "Selamat datang kembali, Pak Ricky. Kami semua senang Bapak sudah kembali." Ucap Denis dengan senyum tulus. "Terima kasih, Denis. Saya juga senang bisa kembali bekerja bersama kalian." Balas Ricky, merasa sedikit terharu dengan sambutan hangat dari karyawannya. Sementara itu, Ranty juga sudah menunggu kedatangan Ricky dengan tidak sabar. Ia sudah menyiapkan berbagai macam rencana untuk menarik perhatian Ricky dan menyingkirkan saingan barunya si Mawar yang hanya seorang pengasuh bayi itu. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Saat Ricky tiba di kantor, Ranty langsung menyambutnya dengan senyuman yang dibuat-buat. "Selamat datang kembali, Pak Ricky. Saya senang Bapak sudah kembali bekerja." Ucap Ranty dengan nada yang dibuat semanis mungkin. Ricky hanya tersenyum tipis. "Terima kasih, Ranty. Saya harap kamu sudah menyiapkan semua laporan yang tertunda selama saya absen." Ucap Ricky dengan nada dingin. Ranty sedikit terkejut dengan nada bicara Ricky yang dingin. Biasanya, Ricky selalu bersikap ramah dan sopan kepadanya. Namun kali ini, Ricky tampak berbeda. Ranty merasa, Ricky menjaga jarak darinya. "Tentu saja, Pak. Semuanya sudah saya siapkan dengan baik. Mari saya antar ke ruangan Bapak," jawab Ranty, berusaha menutupi kekecewaannya. Ricky mengangguk, lalu berjalan mengikuti Ranty menuju ruang kerjanya. Ia merasa tidak nyaman berada di dekat Ranty. Ia merasa, Ranty menyimpan sesuatu yang buruk dalam hatinya. Ia harus berhati-hati. "Semua laporannya ada di meja, Pak." Ucap Ranty tersenyum manis. Ricky mengangguk singkat, mencoba untuk tidak terlalu memperhatikan Ranty. "Terima kasih, Ranty. Bisakah kamu buatkan saya segelas kopi?" Pintanya, tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. "Tentu saja, Pak Ricky. Saya akan membuatkan kopi yang paling enak untuk Bapak." Jawab Ranty cepat. Meja kerja Ricky sudah bersih dan rapi, semua dokumen dan berkas tertata dengan baik. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja. Ricky duduk di kursinya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai bekerja. Ia mulai memeriksa tumpukan dokumen yang sudah lama menantinya. Ranty bergegas menuju pantry, hatinya berbunga-bunga. Ia tahu, dengan kembalinya Ricky ke kantor, peluangnya untuk mendekati pria itu semakin besar. Dia tidak akan membiarkan Mawar yang hanya seorang pengasuh itu memiliki Ricky. Ia sudah merencanakan berbagai cara untuk menarik perhatian Ricky, mulai dari berpakaian lebih menarik hingga bersikap lebih perhatian. Ranty yakin, dengan sedikit usaha, ia bisa membuat Ricky jatuh ke dalam pelukannya. Sambil menunggu kopi selesai dibuat, Ranty menyempatkan diri untuk merapikan penampilannya. Ia memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala dan menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Ia ingin tampil sempurna di hadapan Ricky. Tidak lama kemudian, Ranty kembali ke ruang kerja Ricky dengan membawa secangkir kopi panas. Ia meletakkan kopi itu di atas meja Ricky dengan hati-hati, lalu berdiri di dekat pria itu, dan menunggu reaksinya. "Ini kopinya, Pak Ricky. Silakan di minum." Ucap Ranty dengan suara lembut. Ricky mendongak, menatap Ranty sekilas. "Terima kasih." Jawabnya singkat, lalu kembali fokus pada dokumen-dokumen di hadapannya. Ranty merasa sedikit kecewa karena Ricky tidak memberikan perhatian lebih padanya. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Ia tahu, ia harus lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Ricky. "Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Pak Ricky?" Tanya Ranty, mencoba untuk memulai percakapan. Ricky mengangkat bahunya. "Tidak ada. Kamu bisa kembali bekerja." Jawabnya tanpa menoleh. Ranty menghela napas dalam hati. Ia tahu, Ricky masih berduka atas kepergian Nayla. Namun, ia yakin, dengan kesabaran dan ketekunan, ia bisa menggantikan posisi Nayla di hati Ricky. Ia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya, bahkan jika itu berarti ia harus bermain kotor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD