Bab 7 - Saya tidak lapar

1017 Words
Ricky duduk di kursi kerjanya, memandang kota Jakarta dari balik jendela besar. Pikirannya masih tertinggal di mansion, bersama Mawar dan kedua buah hatinya. Bayangan Mawar terus muncul dalam benaknya. Ia teringat senyumnya, tatapan matanya yang teduh, dan kelembutannya saat mengurus Ken dan Luna. Namun, Denis membuyarkan lamunannya. Ia membawakan setumpuk berkas yang harus segera Ricky tanda tangani. "Semua ini sudah mendesak, Pak Ricky. Ada beberapa proyek yang tertunda karena Bapak cuti." Ujar Denis, meletakkan berkas di meja. Ricky mengangguk, mulai menandatangani satu per satu berkas tersebut. Ia berusaha fokus dalam pekerjaannya. Ricky menghela napas panjang setelah Denis keluar dari ruangannya. Ia merasa lega bisa menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya hari ini. Waktu berlalu dengan cepat. Ricky tenggelam dalam pekerjaannya, dan fokus pada tanggung jawabnya. Ia mengadakan rapat dengan para manajer, membahas strategi bisnis, dan mengambil keputusan-keputusan pentng. Di sela-sela kesibukannya, Ricky tidak bisa melupakan sosok Mawar yang kini masuk ke dalam relung hatinya, serta kedua anak-anaknya yang sangat menggemaskan itu. Ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon Mawar, menanyakan kabar Ken dan Luna. Ia ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Ricky berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi ayah yang terbaik bagi Ken dan Luna. Namun, kelelahan mulai menghantuinya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, memejamkan mata sejenak. Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka. Ranty masuk dengan senyum manis di wajahnya. "Pak Ricky, ini sudah waktunya makan siang. Saya bawakan bekal untuk Bapak." Ucapnya sambil meletakkan kotak makan di atas meja. Ricky membuka matanya, menatap Ranty dengan tatapan dingin. "Terima kasih, Ranty, tapi saya sudah makan siang." Jawabnya singkat, tanpa menyentuh kotak makan itu. Ranty tampak kecewa, namun ia berusaha menyembunyikannya. "Oh, begitu ya, Pak. Sayang sekali. Padahal, saya sudah repot-repot memasaknya sendiri." Ujarnya dengan nada sedikit merajuk. "Maaf, Ranty. Saya tidak lapar." Balas Ricky, kembali fokus pada layar komputernya. Ranty menghela napas dalam hati. Ia tahu, Ricky sengaja menjaga jarak darinya. Ia merasa semakin kesal dan iri pada Mawar. Ia tidak mengerti, apa istimewanya gadis kampung itu hingga Ricky begitu terpesona padanya. "Baiklah, Pak Ricky. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap Ranty dengan nada dingin, lalu berbalik dan keluar dari ruangan Ricky. Setelah Ranty pergi, Ricky menghela napas lega. Ia merasa risih dengan perhatian Ranty yang berlebihan. Ia tahu, sekretarisnya itu memiliki perasaan lebih padanya. Namun, ia tidak tertarik sama sekali. Hatinya sudah terpaut pada Mawar. Ricky meraih ponselnya, mencari nama Mawar di daftar kontaknya. Ia ingin mendengar suaranya, memastikan bahwa ia dan kedua anaknya baik-baik saja. Ia merasa tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan mereka. "Halo Mawar." Sapa Ricky setelah panggilannya tersambung. "Ya, Tuan Ricky. Ada apa ya?" Jawab Mawar dari seberang sana, suaranya terdengar lembut dan menenangkan hati Ricky. "Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin menanyakan keadaan anak-anak. Apa Ken dan Luna baik-baik saja?" Tanya Ricky, merasa hangat mendengar suara Mawar. "Ken dan Luna baik-baik saja. Mereka baru saja selesai minum s**u dan sekarang sedang tidur." Jawab Mawar, Ricky bisa membayangkan Mawar tersenyum saat mengatakannya. "Syukurlah. Mawar, sepertinya nanti malam saya pulang agak telat. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan." Ucap Ricky, merasa bersalah karena tidak bisa segera pulang dan menemani anak-anak. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti. Tuan Ricky hati-hati di jalan ya." Jawab Mawar. "Terima kasih, Mawar. Kamu juga jaga diri baik-baik ya. Sampai jumpa." "Sampai jumpa, Tuan." Setelah menutup telepon, Ricky merasa lebih tenang. Ia merasa bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mawar dan kedua buah hatinya. Ricky melirik kotak makan siang yang tadi dibawa Ranty. Ia merasa tidak enak hati menolaknya. Ia membuka kotak itu dan melihat isinya. Ternyata, Ranty memasak nasi goreng spesial dengan hiasan berbentuk hati di atasnya. Ricky menghela napas, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ranty. Ricky menatap nasi goreng berbentuk hati itu. Ia merasa bersalah pada Ranty, namun hatinya sama sekali tidak tertarik. Ia kemudian memutuskan untuk memanggil Denis. "Denis, bisakah kau membawakan ini untukmu? Aku tidak lapar," kata Ricky datar. Denis, yang selalu menurut, segera mengambil kotak makan itu tanpa banyak bertanya. Setelah Denis pergi, Ricky kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, bayangan anak-anaknya terus menghantuinya. Ia merasa bersalah karena harus bekerja hingga larut malam, meninggalkan mereka di rumah. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang untuk menemani mereka. Waktu terus berjalan, dan Ricky terus berkutat dengan pekerjaannya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan Ranty dan perasaannya. Ia hanya ingin fokus pada pekerjaannya dan keluarganya. Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Ricky akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Ia mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Saat ia keluar dari ruangannya, ia melihat Ranty masih berada di mejanya. Ranty menatapnya dengan tatapan penuh harap. "Pak Ricky, apa Bapak sudah mau pulang?" Tanyanya dengan nada lembut. Ricky mengangguk singkat. "Ya, Ranty. Saya harus pulang. Terima kasih atas bantuannya hari ini." Jawabnya singkat, berusaha untuk tidak memberikan harapan palsu pada Ranty. "Apa saya boleh ikut pulang dengan Bapak?" Tanya Ranty, tanpa ragu. Ricky terdiam sejenak. Ia tidak ingin Ranty salah paham, tetapi ia juga tidak ingin menyakitinya. "Maaf, Ranty. Saya sudah dijemput Ardi." Jawabnya akhirnya, berharap Ranty mengerti. Ranty tampak kecewa, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Oh, begitu ya, Pak Ricky. Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan ya, Pak." Ucapnya dengan nada yang sedikit dipaksakan. "Terima kasih, Ranty. Kamu juga hati-hati." Balas Ricky, lalu bergegas pergi meninggalkan kantor. Di dalam mobil, Ricky menghela napas lega. Ia merasa seperti lolos dari jebakan. Ia tahu, Ranty sangat menginginkannya. Namun, hatinya sudah tertutup untuk wanita lain selain Mawar. Ardi melirik Ricky dari kaca spion. Ia tahu, atasannya itu sedang gundah. "Apa ada masalah, Pak?" Tanyanya hati-hati. Ricky menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Ardi. Hanya sedikit lelah." Jawabnya singkat, tidak ingin membahas masalah pribadinya dengan sopirnya. Ardi mengangguk mengerti. Ia tahu, Ricky adalah orang yang tertutup dan tidak suka berbagi masalahnya dengan orang lain. Ia hanya bisa berdoa agar atasannya itu segera menemukan kebahagiaannya. Selama perjalanan pulang, Ricky terus memikirkan Mawar. Ia membayangkan senyumnya yang manis dan kelembutannya yang menenangkan. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengannya dan kedua anaknya. Ia merasa, Mawar adalah anugerah terindah yang pernah ia dapatkan setelah kepergian Nayla. Ricky menantikan saat di mana hatinya sudah siap mengatakan semua isi hatinya pada Mawar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD