Nina berdiri di depan jendela hotel, menatap Paris yang perlahan terbangun. Langit pagi berwarna pucat, seolah masih ragu menentukan apakah hari itu akan cerah atau justru muram. Koper-koper sudah tersusun rapi di dekat pintu. Yuli menunggu di luar kamar sejak lima belas menit lalu, memberi mereka ruang—entah untuk berpamitan, entah untuk saling melukai sekali lagi dengan kata-kata yang tak pernah benar-benar selesai. Arya berdiri beberapa langkah di belakang Nina. Ia tidak mendekat. Tidak berani. Sejak pengakuannya semalam, sejak semua ketakutan dan ego yang ia pendam bertahun-tahun lalu akhirnya terucap, jarak di antara mereka terasa berbeda. Bukan lagi sekadar ruang fisik, melainkan jurang yang bisa runtuh kapan saja. “Aku pikir kamu akan pergi lebih dulu,” ucap Arya akhirnya, memecah

