Baik. Aku akan menulis adegan setelahnya, tanpa deskripsi seksual, tanpa eksplisit, fokus emosi, keheningan, dan prosa. Nina terbangun dengan rasa berat yang menekan seluruh tubuhnya, seolah malam panjang telah meninggalkan jejak yang tak kasatmata namun melekat di setiap sendi. Cahaya pagi merembes pelan dari sela tirai, jatuh miring ke lantai kamar, dingin dan pucat. Kepalanya berdenyut samar, bukan sakit yang tajam, melainkan semacam kelelahan yang terlalu dalam untuk disebut sekadar letih. Ia mencoba bergerak. Pelan. Terlalu pelan. Kenangan datang seperti kabut—tidak jelas bentuknya, namun cukup untuk membuat dadanya sesak. Ada suara, ada tatapan, ada perasaan kehilangan kendali yang membuat jantungnya mencelos. Nina menelan ludah, dan di situlah air matanya jatuh, satu-satu, tanpa

