Nina tersentak sadar sepenuhnya saat rasa perih di pergelangan tangannya menjalar ke otak. Matanya membelalak. Kedua tangannya terikat kuat di sisi kanan dan kiri ranjang dengan tali kain yang tebal. Kakinya disatukan, juga terikat, membuatnya sama sekali tak bisa bergerak bebas. “APA INI?!” teriak Nina sambil meronta. Tali itu menegang, tapi tidak memberi celah sedikit pun. Ranjang berderit pelan akibat gerakannya yang kasar. Napas Nina memburu, panik langsung menyergap tanpa ampun. Pintu kamar terbuka. Seorang pria masuk dengan langkah tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Nina langsung memutar kepalanya ke arah suara itu. “Arya?!” suaranya meninggi, antara kaget dan marah. “Lepasin aku! GILA KAMU?!” Arya berhenti di dekat kaki ranjang. Wajahnya dingin. Tidak ada senyum

