Musik di dalam venue semakin menggila. Jarum jam sudah mendekati tengah malam, tapi Nina sama sekali belum ingin berhenti. Lampu strobo berkedip cepat, membuat pandangan terasa berputar, seirama dengan kepalanya yang mulai ringan. Marco masih di sisinya. Setiap kali gelas Nina hampir kosong, Marco selalu sigap menggantinya dengan yang baru. Senyumnya tak pernah lepas, tangannya kerap menyentuh lengan atau pinggang Nina dengan alasan menjaga keseimbangan. “Just one more,” katanya sambil menyodorkan gelas berisi cairan bening bercampur es. Nina sebenarnya merasa tubuhnya sudah terlalu hangat, kepalanya berat, dan langkahnya tak lagi stabil. Tapi ada dorongan aneh dalam dirinya—dorongan untuk terus lupa. Ia meneguk minuman itu tanpa berpikir panjang. “Marco…” ucapnya sambil tertawa kecil

