Musik kembali menggelegar ketika DJ mengganti track. Dentum bass terasa sampai ke d**a. Nina yang sempat duduk akhirnya kembali berdiri, terbawa suasana. Lampu sorot menyapu lantai dansa, membuat wajah-wajah terlihat silih berganti dalam warna merah dan biru. Di tengah kerumunan itu, seorang pria mendekat ke arah Nina. Tinggi, bahu lebar, tubuhnya terlihat terlatih seperti atlet. Kemeja hitamnya terbuka satu kancing, memperlihatkan d**a yang bidang. Rambutnya cokelat gelap, sedikit berantakan dengan gaya yang sengaja dibuat santai. Wajahnya simetris, rahangnya tegas, dan matanya tajam namun ramah. Ia tersenyum saat jarak mereka tinggal satu langkah. “Hi,” katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen Eropa yang ringan. “You look like you actually enjoy the music. Wanna dance?” Nina terdia

