Klub malam itu bising, lampunya menyilaukan, dan musik menghentak sampai d**a ikut bergetar. Siska berjalan di depan Tovic dengan percaya diri, seolah tempat itu adalah panggung dan dirinya adalah ratu. Beberapa karyawan klub membungkuk kecil memberi hormat. Tovic memperhatikan itu semua dengan bingung. “Kamu pemiliknya?” tanya Tovic setengah berteriak. Siska tersenyum sambil menggandeng lengan Tovic. “Tadi kan aku bilang… aku sekarang banyak usaha. Ini salah satunya.” Mereka duduk di ruangan VIP—kedap suara, nyaman, dan terisolasi dari dunia luar. Pelayan datang membawa dua botol minuman mahal yang bahkan belum pernah Tovic lihat. “Aku nggak terlalu kuat minum, Sis…” ucap Tovic ragu. Siska mendekat, menatap dengan mata yang sengaja dibuat sendu. “Hari ini kamu lagi kepikiran Aya,

