Saat Aya akhirnya sadar, suasana ruang rawat itu begitu tenang hingga jarum jam terdengar jelas. Namun ketenangan itu bukan kedamaian—melainkan hening yang menegangkan, hening yang dipenuhi kata-kata yang tertahan. Panji berdiri di dekat jendela, punggungnya membelakangi Aya. Ia tidak berani menyapanya. Tidak berani menatap mata yang dulu selalu ia jaga agar tak menangis. Aya memandang Panji beberapa detik, napasnya naik turun perlahan. Mereka sama-sama tahu alasan keheningan itu. Sama-sama tahu betapa rapuhnya mereka saat ini. “Panji…” suara Aya hampir hanya berupa gumaman. Panji tidak menjawab. Hanya bahunya yang sedikit menegang—pertanda ia mendengar, tapi belum sanggup merespons. Aya menelan air liurnya. Ada luka yang terlalu dalam, terlalu baru, terlalu membingungkan. Sela

