54

2209 Words

Beberapa jam setelah Panji mengungkapkan perasaannya, Aya mulai gelisah. Ada rasa kosong yang ia sendiri tidak bisa definisikan. Meski Panji berada di sisinya, menjaga, menghibur, memberikan ketenangan— tetap saja ada satu nama yang terus muncul di kepalanya. Tovic. Aya menggigit bibir. “Panji… Tovic nggak datang ya?” Panji terdiam. Ia tahu Tovic sempat muncul di rumah sakit, tapi ia memilih untuk tidak mengatakan apa yang ia lihat—tatapan hancur Tovic dari balik pintu, sebelum pergi tanpa suara. “…Kayaknya tadi sempat lewat deh,” jawab Panji akhirnya, hati-hati. “Tapi aku nggak sempat nyapa.” Aya menatap pintu, ada keresahan yang jelas di matanya. “Aneh,” gumamnya. “Harusnya dia… dia pasti datang. Dia pasti tanya keadaanku.” Panji menggenggam tangan Aya, hangat namun hati-ha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD