55

2640 Words

Malam itu hujan turun pelan, membasahi halaman kampus. Langkah Tovic berhenti di depan gedung tua tempat ia, Aya, dan Panji biasa berkumpul dulu. Tempat yang penuh kenangan… dan penuh bayangan Aya. Ia merogoh saku, mengeluarkan gelang kecil—hadiah yang dulu pernah ia siapkan untuk Aya, tapi tak pernah sempat diberi. Ia memandang gelang itu lama. Senyumnya muncul, perlahan, getir… lalu berubah tulus. “Aku cuma setengah jalan buat Aya,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dan Panji… dia adalah seluruh perjalanan Aya.” Tovic menutup mata. Kebenaran itu menenangkan sekaligus menusuk. Aya mungkin pernah menyimpan rasa padanya—tapi bukan cinta yang tumbuh, bukan cinta yang memilih. Hatinya… selalu condong ke arah Panji. Bahkan ketika Aya masih menyangkalnya. Dan Tovic… akhirnya melihat itu de

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD