56

2834 Words

Aya dan Panji akhirnya pindah ke rumah mungil di pinggir kota. Tidak mewah, tidak besar, tapi terasa rumah. Aya membuka tirai, membiarkan cahaya masuk. “Kebayang nggak, Ji? Kita tinggal berdua. Beneran berdua.” Panji mendekat dari belakang, memeluk pinggang Aya, dagunya bertengger di bahu istrinya. “Kamu rumah aku, Ay. Dimana pun kamu, aku pulang.” Aya senyum kecil, jari-jarinya memainkan tangan Panji yang melingkari perutnya. Panji punya kebiasaan baru, mencium kening Aya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Aya punya kebiasaan lain: merebut selimut Panji hampir setiap malam. “Sayang… itu selimut aku semua.” Aya menggulung diri seperti sushi. “Kamu kan hangat. Peluk aku aja.” Panji tak pernah menang. Dan setiap pagi, dia bangun dengan Aya yang sudah berada di bawah lengannya, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD