57

3053 Words

Hujan turun sejak subuh. Bukan deras, tapi rintik yang lembut—seakan langit sedang menenangkan dunia sebelum momen paling penting datang. Aya terbangun dengan rasa kram yang berbeda. Bukan seperti biasanya. Lebih teratur. Lebih kuat. “Panji…” panggilnya pelan sambil memegang perut. Panji yang masih setengah tertidur langsung bangun, menyalakan lampu kecil. “Kenapa, sayang? Mual lagi?” Aya menggeleng, menahan napas ketika sensasi itu kembali menyergap. “Kontraksi.” Panji membeku hanya satu detik—kemudian panik yang sangat manis merayapi wajahnya. “Kontraksi? Sekarang? Beneran? Aduh, tas rumah sakit di mana? Aku siapin dulu—kamu bisa duduk? Sakitnya berapa skala satu sampai—” “Panji… calon ayah paling heboh,” Aya tertawa meski menahan sakit. Panji buru-buru memeluk bahunya, membantu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD