Munafik (?)

1224 Words
Adric berdiri dengan cambuk di tangan. Pagi ini, waktunya memberi pelajaran pada para penjaga yang tidak becus itu. Empat pria setengah berdiri berderet di sisi kanan Adric. Sikap patuhnya seolah siap dieksekusi kapan saja. Adric melayangkan cambuk pertamanya. Memukul, tapi ingatannya justru tertuju pada kejadian semalam. Hadley keluar dari kamar Vallery dalam keadaan kancing baju yang terbuka. Mereka melakukan apa? Adric benci membayangkannya. "Dasar! Lain di bibir, lain pula tindakannya. Munafik sekali dia itu!" Empat pria mendengar umpatan dari Adric, tapi keempatnya memilih pura-pura tuli. Jauh lebih baik daripada menyahut, hukuman akan tambah berat dari yang sekarang mereka dapat. Gara-gara semalam gagal mengamankan para penyerang, konsekuensi pun didapat. Tidak diberhentikan saja masih beruntung dan cambukan kecil ini akan mereka hadapi. "Katakan bagaimana bisa Martinez menembus penjagaan semalam?" Pertanyaan Adric terlontar tepat setelah keempatnya menerima cambukan ke tiga. "Mereka menembak sistem keamanan lalu memukul kami, Tuan." "Kalian tidak melawan?" "Sudah. Tapi, kami kalah jumlah," sahut yang lain. Adric terdiam sejenak. Martinez memang tidak main-main. Semalam, yang ikut masuk ke dalam rumah saja hampir sepuluh orang, belum yang berjaga di luar. Masalah menjemput putrinya saja sampai sebegitunya? Adric jadi bertanya-tanya masalah apa di antara Martinez dan keluarga Rhys hingga hubungan putra-putrinya tidak direstui. "Adric." Panggilan datang membuyarkan lamunan singkat Adric. Si empu nama menoleh pada sumber suara. Hadley berdiri di anak tangga halaman rumah. Cambuk Adric lempar begitu saja lantas segera menemui tuannya. "Ya." "Ikut aku sekarang!" Adric mengangguk tanpa bantahan. Setelah meminta para penjaga kembali siaga di tempat masing-masing, Adric segera mengikuti langkah kaki Hadley ke dalam rumah. "Vallery bisa membobol sistem keamanan, kau membantunya?" Pertanyaan tiba-tiba saat keduanya masih berjalan menuju lift. Adric sedikit terkejut. "Jadi semalam, Vallery keluar kamar sendiri?" Hadley menoleh tajam. "Dengar ... aku tidak suka pertanyaanku dibalas pertanyaan. Apa kau pikir, aku akan menanyakan hal ini jika aku sendiri yang memberinya akses?" "Maaf, Tuan." "Dan, ya! Aku mempertanyakan ini padamu karena sebelumnya ... kau berusaha melindungi dia." "Maksud, Tuan?" Adric bergeming. Tatapan Hadley seakan mengulitinya dari ujung kepala hingga kaki. Hadley mulai curiga? Adric sedikit gugup. "Kau lupa di ruang kerjaku ada kamera pengawas?" Adric terdiam; menunduk. "Lupakan itu! Ikut aku sekarang!" Hadley masuk ke dalam kabin lift setelah pintu kendaraan vertikal itu terbuka lebar. Disusul Adric yang masih mencerna pertanyaan Hadley sebelumnya. Seharusnya dia tidak main-main sekarang, sampai tujuannya tercapai. Dan apa yang dia lakukan? Justru memecah fokus; mengacaukan rencana yang sudah tersusun. "Lihat ini!" Pinta Hadley setelah sampai di ruang bawah tanah. "Kau yang memeriksa dokumen ini sebelumnya, bukan? Kenapa akhir-akhir ini sepertinya kau tidak fokus? Kau membuat kesalahan besar dengan kebocoran data milik klien, dia sudah membayar kita lebih dari kesepakatan. Perbaiki sebelum semuanya tambah kacau." Sementara Adric memperbaiki kesalahan, Hadley justru membuat hal sebaliknya. Dia berusaha membobol sistem keamanan milik salah satu perusahaan ternama. Sedikit kebocoran akan mendatangkan banyak dollar untuknya. *** Dering ponsel berbunyi nyaring. Dia tidak segera mendial meski tahu siapa yang menghubunginya itu. Dering kedua, sepertinya sudah sangat mengganggu. Hadley masuk kamar sekembalinya dia dari ruang bawah tanah. Ikon hijau Hadley sentuh untuk menerima panggilan tersebut. "Yes, Mom? Ada apa?" "Hadley, kamu sibuk, Sayang?" "Tidak," jawab Hadley cepat. "Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan." "Pekerjaan? Ayahmu bilang, kamu tidak datang ke kantor hari ini." "Aku mengurusnya dari rumah." Hadley menjawab diplomatis. "Mom, meneleponku untuk ... ?" "Oh, iya, Sayang. Vallery ada?" "Dia ada di kamarnya." Hadley menjawab asal. "Di kamarnya? Memang kamu di mana, sekarang?" "Di kamar." Hadley memejamkan mata. Sial! "Maksudku, Vallery di kamar mandi, perlu kupanggilkan?" Tawa kecil di seberang sana dapat Hadley dengar. Sang ibu sepertinya sedang menikmati kegugupan Hadley sekarang yang seharusnya tidak terjadi. Tapi, bagus, dengan begitu Hadley tenang karena ibunya sama sekali tidak menaruh curiga. "Biarkan dia. Kamu sampe gugup seperti itu habis melakukan apa dengan Vallery, heum?" Nah, kan, pertanyaannya menjurus ke arah yang dapat Hadley tebak. "Kami tidak melakukan apa pun. Ini tengah hari." "Memangnya apa yang tidak boleh dilakukan pasangan di tengah hari? Kapanpun kalau kalian mau dan senggang. Lakukan saja!" Hadley meringis. ‘Lakukan saja!’ Dua kata keramat yang menggema di telinganya. "Jadi mau apa? Sudah cukup menggodaku?" Tawa nyonya Ethan Rhys makin renyah. "Tidak-tidak. Bawa Vallery malam ini ke rumah. Akan ada om dan tantemu datang makan malam." "Baiklah. Undangan makan malam yang menyasar ke mana-mana." Ibunya tertawa lagi. "Lain kali, bisa to the point saja." Hadley mendengkus. Panggilan berakhir. Hadley mengurut pelipis yang terasa berdenyut. Belum selesai kekesalannya pada Vallery semalam, dia sudah harus dihadapkan pada sandiwara bak pasangan romantis di depan keluarga. "Huh!" Hadley menelepon seseorang. Dia memesan gaun untuk Vallery kenakan malam nanti. Tidak butuh waktu lama, pesanan datang dan Adric yang mengantar. "Pesananmu, Tuan." Hadley menerima paper bag dari tangan Adric. Melongok isi di dalamnya tanpa minat. "Untuk acara apa ini, Tuan?" tanya Adric. "Aku dan Vallery mau makan malam di luar." Adric memicing. Dugaannya soal Hadley yang munafik kembali menjejali kepalanya. Sampai kemudian Hadley bersuara. "Nyonya Ethan yang mengundang kami. Jadi, jangan berpikir yang bukan-bukan." Hadley berlalu setelah menutup pintu kamar. Langkahnya mengayun menuju tempat Vallery, tapi tidak dengan Adric yang masih mematung di depan ruang pribadi Hadley. Hadley menarik tuas pada gagang pintu kamar Vallery. Tapi, bukannya terbuka, sensor justru berubah merah dan berbunyi. Hadley mengeluarkan ponsel, masuk ke dalam aplikasi yang dia gunakan untuk mengendalikan sistem keamanan. Sandinya sudah berubah. Vallery bukan hanya membobol keamanan tetapi juga mengambil alih kendali. Mendesis pelan; Hadley mendial nomor Vallery. Bisa-bisanya ada yang mempermainkan dirinya dan itu seorang wanita yang sebelumnya Hadley anggap lemah. s**t! Pintu terbuka bersamaan dengan berakhirnya panggilan. Vallery menurunkan ponsel dari sisi telinganya. "Tidak bisa mengetuk pintu?" Sinisnya. Bagaimana caramu bisa mengendalikan sistem keamanan? Ingin rasanya Hadley menanyakan itu. Tapi, jika dia lakukan, sama dengan terlihat lemah. Tidak! Hadley memilih segera mengangsurkan paper bag. "Bersiap nanti malam. Ibuku mengundang kita makan malam." "Oke." Vallery menerima paper bag tersebut dari tangan Hadley. Tatapan pria di hadapannya masih sama, dingin. "Katakan jika kamu butuh bantuan untuk bersiap." "Tidak perlu. Aku bisa sendiri," jawab Vallery cepat. "Ingat. Jangan sampai ibuku tahu kalau kita tidur terpisah." "Akan aku katakan kalau kita menempel satu sama lain, setiap saat." Hadley mendelik. Sungguh jawaban Vallery di luar prediksinya. Itu terdengar seperti sebuah lelucon. "Kenapa? Tidak suka. Perlu kuganti? Bagaimana kalau ... kita selalu bersama bahkan mandi pun bareng. Ibumu pasti senang mendengarnya, bukan?" "Hentikan itu! Apa menurutmu lucu?!" "Memangnya tidak, ya?" Vallery menggendikkan bahu. "Tidak akan ada pertanyaan sampai ke arah sana. Kau paham?!" "Tadi kamu bilang, jangan sampai ibumu tahu kita tidur terpisah. Sekarang tidak akan ada pertanyaan sampai ke arah sana. Jadi, mana yang perlu kupelajari supaya tidak salah menjawab nanti?" Ocehan Vallery membuat Hadley menahan napas sejenak. "Untuk berjaga-jaga sebab tadi aku salah bicara pada ibu." Pengakuannya lolos juga. "Owh." Vallery berdecak. "Seorang Hadley Rhys Jr. bisa keceplosan juga ternyata." Decakan beralih menjadi sebuah tawa kecil. Sial, Hadley malah menikmati itu, tawa Vallery. "Sudah tidak ada lagi, Tuan Hadley?" "Ah ... ya. Itu saja! Jangan buat aku malu nanti." "Kamu sadar? Kamu sedang mempermalukan dirimu sendiri, Sayang. Katakan kalau memang mau masuk. Akan aku kunci pintunya supaya tidak ada yang mengganggu kita berdua. Ayo!" Hadley langsung melotot mendengarnya. Tapi, tetap saja dingin seolah tatapannya kosong. "Terserah kalau tidak mau. Kamu boleh kembali ke alammu sana!" Pintu hampir tertutup rapat. "Aku tidak akan mengulang tawaranku," ucap Vallery lagi. "Tidak mau, ya, sudah." Pintu Hadley tahan. "Darimana kamu dapatkan keberanian seperti ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD