Makan Malam

1541 Words
“Dari mana kamu dapatkan keberanian seperti ini?” Suara bariton Hadley menggema di telinga Vallery. Dia meneguk ludah. Mencoba main-main dengan pria ini terlalu beresiko. Hadley bisa melenyapkannya kapan saja. “A-aku hanya mencoba untuk … .” Vallery menggigit bibir kelu. Kalau sudah begini, sekarang apa alasan yang bisa meredam emosi Hadley. “Begini saja!” imbuh Vallery, sepertinya menawarkan kesepakatan jauh lebih baik. Yakin seribu persen Hadley tidak akan banyak mengekangnya lagi. “Aku sudah terlanjur tahu banyak hal tentangmu,” ucap Vallery sambil berlalu masuk, membiarkan pintu kamar terbuka dan meninggalkan Hadley di sana. Tanpa dia minta, suaminya itu mengekor dengan langkah tegap di belakang. “Aku bisa tetap diam asal kamu juga tidak mengusikku." Vallery melanjutkan. "Kamu mau aku berperan jadi istrimu di depan keluargamu ... akan aku penuhi. Kamu tidak menginginkanku juga tidak masalah. Masih ada yang lain yang menginginkanku selain dirimu.” Dia berbalik menghadap pada Hadley yang kontan tersenyum miring. “Memangnya sebanyak apa yang kamu tahu, hah?!” Vallery menggelengkan kepala cepat. Kalimat Hadley masih memenuhi isi kepala dan itu sukses membuatnya merinding. Mungkin dia belum mengetahui semuanya. Tapi, sebanyak apa rahasia suaminya itu? Untuk sesaat, Vallery dibuat tidak fokus. Ingatannya masih tertuju pada kejadian sore tadi. Tatapan tajam Hadley memang sedikit melemah ketika dia menawarkan kesepakatan, tapi tidak dengan ucapannya. Menarik napas gusar, Vallery masih berkutat dengan riasan di depan cermin. Rambut disanggul asal dan sebagian kecil di sisi kanan-kiri dibiarkan terurai. Setelah memastikan penampilan wajahnya sempurna, Vallery meraih gaun yang ada di atas tempat tidur. Namun, baru saja tangannya menyentuh pakaian yang dikirim Hadley, ketukan pada daun pintu terdengar. Vallery sudah bisa menebak siapa pelakunya. Di luar, Hadley menilik arloji pada pergelangan tangannya. Masih ada waktu 30 menit untuk bisa sampai ke kediaman orangtuanya memang. Tapi, untuk bisa ke sana, Vallery sudah harus siap. Sedangkan gadis itu, menyahut pun tidak. "Kamu masih belum selesai?" Ponsel menempel di telinga kiri Hadley setelah upayanya mengetuk pintu tidak membuahkan hasil. "Sebentar lagi ... ini ... ." Sahutan dari seberang yang terdengar ragu membawa Hadley membuka aplikasi, mengecek CCTV di kamar Vallery. Terlihat jelas gadis itu tengah kesulitan dengan resleting gaun. Ponsel yang sedang menerima panggilan dari Hadley pun diapitnya di antara telinga dan pundak. "Masalah resleting tidak ada habisnya." Gerutu Hadley. "Apa?" Sambungan telepon masih terhubung; membuat Vallery menyahut. "Buka pintunya." "Aku belum selesai." "Tadi kutawari agar pelayan membantumu, kau tidak mau. Buka pintunya sekarang! Atau perlu kupaksa?!" Hadley mengulang; menekan kata perintah, membuat Vallery di seberang sana mencebik. Bunyi mekanik halus dari sensor pada pintu terdengar. Hadley segera masuk. Melangkah mendekati Vallery yang malah semakin bergerak mundur. "Berhenti di sana dan berbalik!" Dua kata perintah membuat Vallery gugup. Ragu, dia menuruti titah Hadley. "Bi-biasanya ini mudah. Tapi—" "Tapi, membukanya jauh lebih mudah?" Potong Hadley membuat Vallery memejamkan mata. "Sudah selesai. Kamu membuang-buang waktu, kita hampir terlambat." Hadley keluar lebih dulu diikuti Vallery yang sebelum pergi, dia mengambil tas; memasukkan ponselnya. Tak lupa, pintu Vallery tutup dan sistem lock otomatis aktif. Sudah menunggu di dalam kabin lift, Hadley menatap tidak sabar ke arah Vallery. "Lamban," ocehnya. "Kalau tidak pernah pakai high heels, jangan komentar lamban. Dan, ya, siapa yang memilih gaun seperti ini?" Vallery memutar bola mata. "Aku tidak suka. Aku kesulitan berjalan gara-gara ini." Gaun panjang berwarna marun kontras dengan kulit pucat Vallery. Terlihat anggun, tapi gadis itu malah menggerutu. Hadley melirik ketika Vallery sudah berdiri di sisi kirinya. "Jaga sikapmu di depan keluargaku nanti." Hadley tidak berkeinginan menanggapi ocehan Vallery soal gaun. "Iya, cerewet!" "Apa?!" "Apa?" Lift terbuka. Sudah ada Adric di sana yang tampak terpesona melihat penampilan Vallery. "Kau tidak perlu ikut. Pastikan rumah dalam keadaan aman," ucap Hadley membuyarkan fokus Adric yang semula hanya tertuju pada Vallery. Hadley bukan tidak melihat itu. Dia tahu Adric diam-diam memperhatikan istrinya. Tapi, Hadley juga tetap diam hanya sebatas ingin melihat sejauh mana Adric berani melangkahi. "Kau yakin tidak butuh pengawalan?" Adric memastikan. "Tidak perlu." "Baiklah." Asisten kepercayaan Hadley tersebut mengekor di belakang. "Mobil sudah siap." *** Makan malam berjalan cukup intim. Vallery sesekali menimpali ucapan ibu mertuanya, begitu juga dengan Hadley. Sekilas, keluarga ini terlihat hangat. Interaksi Ethan dengan saudara perempuan dan iparnya juga cukup bisa dikatakan akrab. Rhys selaku orang tua pun mengimbangi percakapan kedua putra-putrinya, walau tidak ketika Vallery atau ibu Hadley yang bicara. Baik Rhys atau Ethan sama-sama akan tak acuh mendengarkan. Itu hanya perasaan Vallery? Dia melirik Hadley yang duduk tenang di sisi kanan tanpa peduli bahwa istrinya gelisah. Hadley kemudian sadar dirinya sedang diperhatikan, dia turut menoleh. "Kamu mau ini?" Tawarnya. Mengangsurkan garpu yang sudah terdapat makanan di ujungnya. Vallery yang mendapat perlakuan manis—tiba-tiba—hanya bisa tersenyum kaku. Dia menggerakkan ekor mata, tapi Hadley tak jua menjauhkan tangannya. Terpaksa, Vallery menyambut suapan. Dia memegang tangan Hadley memasukkan potongan daging di garpu milik suaminya itu ke dalam mulut, lalu mengunyahnya tanpa minat. Gianna Ethan—ibu Hadley—tak pelak menebar senyum seraya berdehem melihat keakraban di antara anak menantunya. "Kalian lihat, perjodohan ini tidak terlalu buruk, bukan? Aku tahu, karena pilihan ayah mertua pasti yang terbaik." Ethan sendiri langsung berdehem seolah tidak suka dengan antusiasme yang ditunjukkan istrinya. "Tapi memang betul ... kalian tampak serasi." Komentar itu keluar dari mulut Eliza Rhys, adik Ethan. Makan malam selesai. Obrolan kecil mengalir di ruang tengah. Eliza kembali melempar tanya, "Kalian tidak menunda kehamilan, bukan?" Vallery yang baru meneguk air kontan terbatuk. Matanya melotot ke arah Hadley. "Tante yakin menanyakan itu sekarang?" Hadley berpindah tempat duduk, mendaratkan b****g—di tengah—di antara Vallery dan juga Eliza. "Kami baru kemarin menikah." Tangannya sigap mengusap punggung bagian atas sang istri, menetralkan batuk akibat tersedak air. Tentu saja tindakannya membuat Vallery sedikit terperanjak. Sementara itu, Eliza malah tertawa sambil menepuk pundak Hadley yang duduk di sampingnya. "Ya, kau tahu aku tidak bisa punya anak. Jadi, anakmu nanti bukan hanya cucu Kak Ethan, tapi cucuku juga. Karena itu aku antusias menantikannya." Hadley berdecak; menggelengkan kepala pelan. "Aku saja belum memikirkannya." "Lupakan masalah anak. Ibu juga tidak terburu-buru." Lagi-lagi Gianna melirik Ethan sebelum melanjutkan ucapannya. "Besok ada acara amal dan keluarga kita tamu kehormatan di sana. Jangan lupa bawa Vallery, Hadley ... ." Hadley menoleh. "Ibu ingin mengenalkan menantu keluarga Rhys ke hadapan semua orang," imbuhnya bangga. Ada hal yang tidak Vallery mengerti di sini. Nyonya Ethan alias ibu mertuanya tampak paling bersemangat dalam mendukung. Dia yang paling mengistimewakan Vallery. Berbanding terbalik dengan yang lain, seolah menganggap Vallery hanya sebatas orang asing yang terpaksa bergabung, tidak lebih. Termasuk Rhys, kakek tua yang katanya memilih Vallery sebagai jodoh Hadley—yang juga tampak biasa saja. "Tentu, Mom. Aku pasti bawa istriku. Mau, kan, Sayang?" Lagi-lagi Vallery tersentak. 'Sayang?' Manusia kutub ini sedang demam? Tiba-tiba bongkahan esnya mencair dan beralih hangat. Vallery mengangguk pelan menanggapi pertanyaan suaminya itu. Sebelum berpamitan, Vallery sempat diajak Gianna berbicara berdua. Hadley baru kembali dari obrolannya dengan Ethan, mengetuk pintu ruangan yang tidak sepenuhnya tertutup rapat itu. Gianna menoleh lebih dulu, mendapati putra semata wayangnya berdiri di depan kamar. "Masuk, Sayang. Lihat! Istrimu cantik sekali, bukan? Kamu membiarkannya tampak polos." Tatapan Hadley jatuh pada kalung berlian di leher Vallery. Istrinya memang tidak memakai perhiasan kecuali anting dan cincin pernikahan. Dia tidak begitu peduli, tapi ibunya justru memperhatikan hal tersebut. "Itu kalungmu, Vallery akan aku belikan nanti," ucap Hadley bermaksud agar ibunya tidak perlu memberikan apa pun pada sang istri. Gianna menggelengkan kepala. "Aku memberikan itu untuk menantuku dan calon ibu dari cucu-cucuku nanti, mengerti!" Tekanan pada kata 'cucu-cucuku' membuat bulu kuduk Vallery meremang. "Hadley benar, Mom, ini tidak sepantasnya diberikan padaku." Dia sudah hampir melepas kalung. "Jangan lakukan itu. Ayolah, Sayang. Terima, oke?" Melihat tatapan Gianna, Vallery tahu sekarang bahwa ini adalah tuntutan bukan tanda kasih. Terlebih, pembicaraan dia dan ibu Hadley sebelum Hadley datang, cukup membuat Vallery sadar posisinya saat ini. Mengangguk lemah, terpaksa Vallery terima 'beban itu' di lehernya. *** Adric masih menatap layar dengan decakan di bibirnya. Tangan dia mengepal kuat. Bagaimana mungkin rekaman CCTV di ruang terlarang yang memperlihatkan dirinya dan Vallery di dekat meja Hadley; tepatnya di depan komputer; masih ada. Seingatnya, sudah dia hapus sebagian. Hanya sampai Vallery mendekati meja, lalu dia datang dan membawa gadis itu keluar. Adric tahu Hadley tidak bodoh. Dia pasti menyadari lompatan waktu yang hilang kemudian memulihkan datanya. Maka pantas jika Hadley menyebut dia sedang melindungi istrinya itu. "Sekarang apa?" Geram Adric. "Harus kutuntaskan secepatnya?" Mengambil langkah. Adric menutup pintu ruangan pengawas kemudian keluar menuju gerbang. Masuk ke dalam mobil; pagar setinggi empat meter terbuka. Dia melajukan kendaraannya setelah menitip pesan kepada para penjaga. "Akan aku akhiri sekarang juga." Adric tidak sedang berbicara sendiri. Earphone menancap di kedua lubang telinga; tanda dia sedang dalam panggilan. "Tidak! Jangan gegabah, Adric. Sudah aku katakan jika aku ingin mereka melihat kemenangan kita nanti. Melenyapkan Hadley saat ini, tidak akan membuatku puas." "Kau mungkin tidak. Tapi aku menginginkannya." Adric mencengkram kemudi kuat-kuat. Gas pula dia injak kasar, kereta besinya melesat. "Apa ini karena gadis itu? Vallery? Istri Hadley membuatmu goyah." Masih suara perempuan yang sama di seberang sambungan. Dia berdecak. "Dengar ... kalau sekarang dia tidak bisa kamu ajak kerjasama dan malah menolakmu, kau bisa buat dia bergantung padamu. Buat dia membutuhkanmu. Jangan jadi bodoh, Adric!" Sambungan telepon berakhir tepat ketika Adric tiba-tiba mengerem disusul suara dentuman keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD