Tembakan Pada Mobil Hadley

1478 Words
"Aku tidak mengerti jalan pikiran Ayah. Ayah tau keluarga Rhys seperti apa, bukan? Lalu kenapa membiarkan putranya menikahi Kak Vallery?" Owen baru tiba sore ini di kediaman Hayes. Dia langsung mencecar sang ayah dengan banyak pertanyaan mengenai pernikahan dadakan kakaknya. "Keluarga Rhys akan memperlakukan Vallery dengan baik. Percayalah." Noah menjawab santai. Cangkir kopi yang baru dia seruput sedikit isinya dikembalikan ke atas meja. Suara berdenting pelan terjadi ketika gelas gagang dari keramik tersebut beradu dengan piring kecil bermaterial sama. "Dengan baik ... ." Owen berdecak; menggelengkan kepala. "Apa meretas nomor Ayah sampai Kak Vallery tidak bisa menghubungimu itu termasuk ke dalamnya? Memperlakukan kakakku dengan baik?!" Ada tekanan emosi di setiap kalimat Owen, tensinya meninggi di akhir. Noah menoleh tajam. Matanya menatap sang putra seolah ingin Owen mengulang ucapan. "Ya, Ayah tidak salah dengar. Apa Kak Vallery sudah menghubungimu sejak ke rumah suaminya itu? Tidak, bukan? Ayah menghubungi dia? Tidak juga? Berapa lama biasanya putri kesayangan Ayah bertahan tanpa bicara denganmu? Dia pergi ke asrama saja menangis bercucuran air mata. Sampai di asrama baru beberapa jam sudah puluhan kali menelepon. Apa itu terjadi sekarang?" Mendengar Owen mengatakan semua itu, Noah terdiam. Namun, dalam diamnya dapat Owen lihat, wajah sang ayah sedikit tegang. "Kau benar." Lantas itu yang Owen dengar dari mulut seorang Noah Everett Hayes. "Dia tidak bisa menguhubungimu karena jika, iya, sambungan teleponnya akan berakhir di ponsel Hadley. Cucu Rhys, menantu Ayah itu kurang ajar. Tapi, coba saja, mungkin jika Ayah yang menghubunginya, akan tersambung. Sebelum itu ... aku perlu tahu apa alasan Ayah memberikan Vallery pada mereka?" Noah menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab. "Aku merasa perlu menerima lamaran itu sebab ... ." Ada jeda di kalimat Noah. Dia berdiri kemudian berjalan membelakangi Owen. Ayah dua anak itu menatap keluar jendela. "Kakek Rhys sudah seperti ayah bagiku. Dia yang membantuku sejak kakekmu tiada, Owen. Saat itu aku masih muda dan aku tidak memiliki siapapun lagi selain Rhys." Owen terdiam. Untuk sesaat alasan ayahnya bisa dia terima. Karena setahu Owen; tentu dari cerita Noah—jauh sebelum terjadinya ikatan pernikahan—juga memang demikian. Rhys mungkin kejam di masa mudanya dan itu menurun pada Ethan dan sekarang ... mungkin Hadley. Tapi, selama Owen mengenal Hadley sebelum menikahi kakaknya, dia pria yang memiliki citra baik di luaran. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan apa yang diceritakan Vallery setelah menjadi istrinya. Awalnya, Owen juga sempat tidak percaya. Noah kembali mendekat pada Owen. Menepuk pundak putranya itu. "Ayah tahu kamu sayang pada kakakmu. Vallery bukan hanya saudari perempuan tapi juga seperti pengganti kepergian ibu kalian. Ayah ingin kalian selalu saling mendukung. Setidaknya ayah bisa tenang ketika nanti tiba waktunya ayah menyusul ibumu." Owen mendongak; tidak suka mendengar penuturan Noah. Apa-apaan membicarakan kematian! Duduk di samping Owen, Noah meraih ponsel yang semula tergeletak di atas meja, tepat di samping cangkir kopi. Dia mencoba menghubungi putrinya. Sambungan segera bersambut. "Ayah!" Suara Vallery yang antusias membuat garis bibir Noah terangkat. "Hallo, Sayang? Bagaimana keadaanmu?" tanya Noah. "Aku? Tidak begitu buruk. Tapi, tidak terlalu baik juga. Ayah apa kabar?" "Ayah sedikit terkejut saat aku memberitahu keadaanmu, Kak." Owen yang menyahut. Noah memang sengaja memakai mode loadspeaker agar putranya turut mendengar suara kakaknya. *** Dalam perjalanan pulang, Vallery mendapat telepon dari orang yang paling dia nantikan. Siapa lagi kalau bukan Noah? Cinta pertama seorang putri tentu ayahnya. Vallery antusias menjawab panggilan tanpa peduli pria lain di sampingnya—yang sedang mengemudi—melirik tajam. Hadley mengambil benda pipih dari sisi telinga Vallery. Tanpa meminta izin dari si empu ponsel, dia mengaktifkan mode loadspeaker. "Ayah sedikit terkejut saat aku memberitahu keadaanmu, Kak." Suara yang langsung Hadley dengar begitu pengeras suara aktif. Dia kembali melirik tajam. Vallery juga sama terkejutnya saat Owen mengatakan itu. Dia berdehem. "Aku baik-baik saja, Ayah. Owen berlebihan. Sudahlah, Ayah apa kabar?" Mengalihkan, Vallery tidak takut pada Hadley sekalipun. Tapi, dia lebih takut jika Owen menjadi target suaminya itu setelah tahu dia mengadukan keadaannya pada sang adik. Dalam hati Vallery melafalkan mantra agar Owen selalu dilindungi dari pria jahat seperti Hadley. "Aku juga merindukanmu, Ayah." Bulir bening menetes di pipi Vallery. Buru-buru dia menghapus jejaknya. Dia tidak lemah; tidak ingin terlihat lemah terutama di depan Hadley. "Kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah orangtuaku, Tuan Noah. Lain waktu kami akan berkunjung ke rumahmu juga." Vallery menoleh, tidak dia sangka Hadley akan mengucapkan kalimat itu. "Aku tahu putrimu merindukanmu. Tapi, bagaimana lagi, dia istriku sekarang dan aku terlalu sibuk. Tapi, aku akan mengambil waktu senggang untuk mengantarnya menemuimu. Atau ... kau bisa menemuinya. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian." Kalimat panjang; bahkan mungkin terpanjang dan ramah—yang pertama kali Vallery dengar dari mulut seorang Hadley. Dia bahkan melihat suaminya itu mengukir senyum hangat. Vallery meneguk ludah. Senyum hangat itu seolah sedang mengejeknya. Hadley mengangkat alis ketika Vallery menatap. Sepersekian detik kemudian, pria itu kembali fokus pada kemudi. Detik berikutnya, ada mobil dari arah berlawanan yang tidak seharusnya, sebab jalan yang ditempuh merupakan jalan satu arah—melaju cepat. Hadley terkesiap ketika suara tembakan terdengar bersamaan dengan mobil tersebut melintas di sisi kirinya. Kendaraan Hadley oleng. Vallery turut menjerit sementara sambungan telepon dengan Noah masih berlangsung. Gemuruh hebat tanda ban mengempis akibat terkena peluru—tak terelakkan. Hadley memutar kemudi. Mengendalikan kendaraannya agar tak sampai menabrak pembatas jalan. Bunyi decitan menyusul ketika Hadley menginjak pedal rem. Mobil berhenti di tengah, kendaraan lain mulai gaduh membunyikan klakson. "Kamu gak apa-apa? Ada yang terluka?" Hal pertama yang Vallery dengar dari mulut Hadley ketika mobil berhenti. Tidak terkesan basa-basi, Hadley terlihat serius menanyainya. Vallery menggelengkan kepala. "Kau sendiri?" "Aku baik," jawab Hadley seraya membukakan seatbelt Vallery, kemudian miliknya juga. "Ayo keluar!" Vallery mengangguk; membuka pintu dan keluar. Sementara Hadley berlari menuju mobil yang dikendarai si penembak, Vallery hanya diam mematung; memperhatikan dari kejauhan. "Siapa?" tanya Vallery langsung ketika Hadley kembali. "Tidak ada orang di dalam mobil. Mungkin dia sudah melarikan diri." Hadley mengatur napas setelah setengah berlari kembali ke dekat Vallery, yang kini menunggunya di sisi jalan tepat di tepi pembatas jalan layang. Kalau saja Hadley tidak berhasil mengendalikan kendaraannya, sudah pasti mereka berdua akan terjun bebas ke bawah sana. Membayangkannya saja sudah membuat Vallery bergidik. "Kamu tidak mengenali kendaraannya?" tanya Vallery lagi. Hadley bertolak pinggang, napasnya mulai kembali normal. Dia menoleh lagi ke belakang, melihat kendaraan tersebut. Ragu menatap Vallery. "Kurasa ... tidak." Bohongnya. Dia lantas mengeluarkan ponsel dari dalam saku jas untuk menghubungi seseorang. Mobil yang hendak menjemput pun tiba tak lama kemudian. Begitu juga dengan mobil derek, membawa kendaraan Hadley untuk diperbaiki. *** Noah dan Owen tiba dikediaman Hadley setelah sebelumnya menelepon Vallery menanyai keadaan mereka. Tepat saat Owen membuka pintu bagian kemudi, mobil yang membawa sang kakak tiba. "Owen!" Vallery segera menghampiri. Memeluk adik usilnya. Berjinjit, Vallery mengacak rambut pemuda yang hanya selisih 2 tahun lebih muda darinya itu. Tanpa peduli tatapan Hadley, Vallery berinteraksi sangat manis dengan adik kandungnya itu. "Aku merindukanmu adik usil." Celoteh Vallery. "Kamu makin tinggi atau aku yang pendek?" Owen mengangkat bahu dan kedua telapak tangannya sedikit ke atas. "Aku memang tinggi, kan? Kau yang kurang nutrisi, Kak." "Sialan." Vallery tertawa lepas. "Ayah!" Hebohnya kembali ketika dia menoleh dan ada di Noah muncul dari balik pintu sebelah kanan. Noah sempat menyalami Hadley sebelum akhirnya menyambut sang putri tercinta. Berbeda dengan apa yang terjadi saat memeluk Owen. Bukan candaan dan tawa riang yang hadir di diri Vallery. Gadis itu justru menangis ketika memeluknya. "Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Noah. Vallery mengangguk, tak kuasa menjawab. "Kalau begitu kenapa menangis? Mana senyum putri ayah yang manis?" Vallery menggelengkan kepala, semakin memeluk erat. Hadley melihat itu dan sisi hatinya sedikit tersentuh. Dia memisahkan seorang anak perempuan dari ayah yang begitu dicintainya. "Vallery ... ." Noah mengusap lembut punggung putri kesayangannya itu. "Dengar ... ayah percaya kamu gadis yang kuat. Maaf jika ayah sudah memaksakan kehendak padamu. Ayah ... ." "Tidak, Ayah. Kau tidak harus meminta maaf. Aku menuruti keinginan Ayah setelah mempertimbangkannya. Tapi, Kau selalu menuruti keinginanku tanpa berpikir panjang. Bukankah itu tidak adil?" Senyum kecil tersemat di bibir Vallery. Dia yang sudah mengurai pelukan lantas mengusap bulir bening yang jatuh di pipinya. Noah melakukan hal yang sama. Mengusap pipi putrinya itu. "Heum ... jangan menangis. Katakan pada ayah jika kamu tidak baik-baik saja, Nak." Vallery mengangguk samar; menoleh pada Hadley yang baru saja saling berbisik dengan anak buahnya. Vallery akan berusaha untuk bertahan dengan pria seribu wajah itu demi mengetahui kebenaran tentang mendiang kakeknya. Dia sudah terlanjur melihat walau hanya dari data, bahwa sang kakek ada di daftar orang-orang yang meninggal pada masa kejayaan industri Rhys generasi pertama. Tidak mungkin Vallery salah lihat atau salah membaca data. Dia hafal foto beserta nama lengkap sang kakek yang juga menjadi nama belakang keluarga termasuk dirinya. "Aku harus pergi, ada urusan sebentar." Pamit Hadley. "Kalian mengobrol saja di dalam." Selanjutnya, Hadley memerintah lewat gerakan mata pada para pelayan rumah untuk menghidangkan jamuan bagi tamu-tamunya. Mertua dan adik ipar—jika boleh—Hadley mengakuinya seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD