Sungguh sial bagi Adric yang mengikuti hawa nafsu. Dia tidak berpikir panjang meski sudah diingatkan. Bahkan dia baru sadar telah membahayakan Vallery juga. Adric tidak sempat mencaritahu keadaan Vallery maupun Hadley. Dia segera keluar dan bersembunyi ketika mobilnya yang justru menabrak pembatas jalan. Masih beruntung tak sampai terjun bebas dari overpass.
Adric yang saat itu memakai penutup wajah dan membawa senjata. Menodong pengendara lain untuk bisa ikut dan melarikan diri dari Hadley.
Dan saat ini, di hadapan Adric seorang pengawal dijadikan tumbal. Dia terpaksa Adric tuduh sebagai terdakwa demi menutupi kesalahannya. Di ruang bawah tanah, Adric memukuli pria berperawakan tinggi, tak jauh berbeda dengannya. Usianya sekitar 31 tahunan, dua tahun lebih muda dari Adric.
Hadley datang tak lama setelah mendapat kabar dari pengawalnya yang lain. Meninggalkan Vallery, ayah mertua serta adik ipar. Dia menatap pria yang berdiri dengan lutut; pipi kanan-kiri memar, juga tangan terikat.
"Kau yang menembak mobilku?" Suara Hadley menggeram emosi. "Jawab!"
Pria itu melirik Adric yang langsung dibalas tatapan tajam. Dia kembali menunduk tanpa menjawab tanya Hadley.
"Apa yang kau inginkan?" Ulang Hadley, masih tetap tak mendapat jawaban apa pun. Hadley meraih kerah dari kemeja hitam yang pria itu kenakan. Dia memukul satu kali di pipi kemudian satu lainnya di perut.
Tanpa perlawanan, pengawal atau anak buah Hadley yang disinyalir melakukan tembakan pada kendaraan Hadley dengan maksud mencelakainya itu, jatuh tersungkur.
"APA YANG KAU INGINKAN?!" Hadley sudah memegang senjata di tangannya. "Kau ingin aku mati? Atau ada seseorang yang menyuruhmu menjadi pengkhianat?!" Dia menodongkan senjata ke arah pria tersebut. "Katakan!"
Hadley berjongkok, ujung pistol menempel pada dahi si tersangka. "Kau mau mengatakannya, atau perlu kupaksa?"
"Ti-tidak, Tuan ... ." Suara ragu itu membuat Hadley memicing. "Sa-saya ... ." Kembali mendongak menatap Adric.
"Kau hanya membuang waktu dengan menginterogasinya, Tuan. Sudah jelas dia ingin kau tiada." Adric angkat bicara. Mematik api pada diri Hadley. "Aku sedang keluar tadi, memakai mobil itu dan sempat berhenti membeli kopi. Dia datang merebut kendaraan dan senjataku. Aku berlari mengejarnya, tapi itu tidak mungkin." Adric tersenyum smirk pasca karangannya selesai. Pantaskah dia dihadiahi nominasi sebagai pengarang terbaik? Adric tahu, Hadley pasti memeriksa setiap kamera pengawas. Itu mengapa dia menceritakan kebohongan.
Jika Hadley nanti melihat Adric lah yang keluar dengan menggunakan mobil tersebut, maka Hadley sudah mendengar lebih dulu karangannya.
"Kau!"
Adric sedikit terkejut ketika senjata justru Hadley arahkan padanya. Hadley sudah kembali berdiri, menodongkan pistol di tangan kanannya. Adric kontan mengangkat tangan.
"Bukankah aku memintamu menjaga keamanan di rumah ini? Kenapa kau malah berkeliaran hanya untuk ... kopi?"
"Sa-saya. Tuan, saya khawatir. Anda tidak membawa satu pengawal pun. Itu sebabnya saya keluar, hendak menyusul."
"Dan berhenti membeli kopi?" Hadley berdecak. "Keluar! Aku akan mengurusnya sendiri. Kau berikutnya," imbuh Hadley. Menunjuk arah pintu gerbang besi dengan senjata agar Adric meninggalkannya berdua dengan pria yang masih setengah berdiri dan menunduk itu.
***
"Kamu mau ke mana, Vallery?" tanya Noah begitu melihat Vallery sudah tergesa menyusul Hadley. Bahkan anak perempuannya itu tidak memakai alas kaki. Heels yang semula dipakai, ditaruh begitu saja di dekat sofa ruang tengah.
"Aku harus memastikan sesuatu, Ayah. Tolong tunggu di sini dan pura-pura saja tidak mengerti ketika aku atau Hadley kembali." Vallery sudah berlari ke arah tangga darurat menuju ruang bawah tanah.
Lift tentu saja sedang dipakai Hadley. Vallery tiba di salah satu pintu yang dia yakin menuju ruang rahasia Hadley. Tapi, pintu besi itu tertutup rapat. Vallery tidak tahu cara membukanya.
Owen muncul tak lama kemudian saat Vallery masih berusaha mendorong-dorong pintu dengan tenaga seadanya. Owen diminta Noah untuk mengikuti Vallery dan membawanya kembali.
"Kak."
"Owen? Kenapa kamu ke sini? Kembali ke atas!"
"Kak Vallery sendiri sedang apa di sini?" Owen balik bertanya.
"Aku harus memastikannya sendiri, Owen. Hadley akan berbuat sesuatu di dalam sini. Firasatku mengatakan begitu. Tapi, bahkan aku tidak bisa membukanya." Vallery hampir putus asa. Sampai kemudian, dia mendekat pada keberadaan kendaraan vertikal, tak jauh dari pintu besi menuju ruang bawah tanah.
Kabin elevator terbuka saat Vallery menyentuh tombol. Artinya, Hadley sudah di bawah sana. "Kamu kembali pada ayah, Owen. Tunggu aku di sana dan seperti yang kukatakan. Pura-pura tidak mengerti saat aku kembali."
"Tapi ... Kak."
"Owen, kumohon. Tolong."
Wajah memelas Vallery tak mampu Owen tolak. Dia memindai sang kakak dari atas hingga ke kaki Vallery yang tanpa alas. "Tapi, Kak. Lihat dirimu!"
"Aku tidak peduli diriku. Aku yakin Hadley melakukan sesuatu di sana." Ulangnya dengan kalimat yang sama. "Aku hanya ingin tahu." Vallery sudah masuk ke dalam lift. Kendaraan itu membawanya pada keberadaan Hadley.
"Dasar keras kepala. Kalau sudah tahu Hadley orang yang kejam, lantas kenapa malah dipedulikan. Kak Vallery masih punya kesempatan untuk berlari." Owen menggerutu. Tapi, percuma. Sebab sampai berbusa pun, Vallery tidak mendengarnya.
Dia sudah sampai di lantai bawah. Vallery, ragu keluar dari kabin lift. Menengok kanan-kiri. Ada satu lorong yang di ujungnya terdapat gerbang besi. Lebih besar ukurannya dari pintu lift, tapi hampir mirip. Dia melangkah menuju ruangan tersebut. Namun, baru saja Vallery mengikis jarak, gerbang itu mengeluarkan bunyi halus tanda akan terbuka. Buru-buru Vallery bersembunyi di balik tembok pembatas menuju ruangan lain.
Adric keluar, tertangkap rungu Vallery dia menggerutu. Detik berikutnya, bunyi tembakan hampir meruntuhkan pertahanan Vallery. Gadis itu terpaku di tempat persembunyiannya dengan mulut terbuka yang coba dia tutup menggunakan telapak tangan agar tidak mengeluarkan suara. Jeritannya tertahan di d**a hingga Vallery merasai sesak. Adric kembali menoleh pada gerbang yang tertutup rapat.
Lampu di sekitar ruangan berkedip. Adric mendongak heran. Tembakan mengenai apa? Tumbalnya? Lantas kenapa lampu turut kena imbasnya? Tanda tanya Adric tidak berakhir sampai di sana. Hadley yang tak segera keluar pun membuat Adric heran. Dia hampir membuka kembali gerbang. Tapi, sial! Pintu tidak bisa Adric buka lagi.
"Terkunci dari dalam?" Gumam Adric, memukul kesal dan tangannya kini yang merasai sakit. "Oh, s**t!"
Hampir lima belas menit barulah Hadley keluar sendiri. Adric melongok ke dalam, tapi tidak ada jejak pembantaian sekalipun di dalam sana. Ruangan masih tetap sama seperti saat dia meninggalkannya.
"Mana pria itu? Kau menghabisinya, bukan?"
Hadley mengangkat alis lantas tersenyum. "Kau penasaram sekali sepertinya?"
Adric menggeleng pelan.
"Kalau bukan karena ada ayah mertua dan adik iparku di sini. Aku tidak akan membereskannya dengan tanganku. Dan kau ... urusan kita belum selesai!"
Hadley berlalu meninggalkan Adric yang masih terpaku di tempatnya. Mencerna setiap perkataan Hadley. 'Membereskannya'. Apa itu artinya, jasad pengawal tersebut sudah diamankan? Di mana? Adric tidak dapat memeriksa sebab gerbang dikunci rapat. "Sensor tidak merespon. Sandinya berubah?" Adric menendang gerbang meski tahu tindakannya akan kembali menimbulkan rasa sakit.
***
"Kamu di sini?" Hadley terkejut melihat keberadaan Vallery di dekat pintu lift. Dia tadi berlari ketika Hadley sibuk berbincang dengan Adric.
Istri Hadley mundur perlahan ketika suaminya mendekat. Mata Vallery tertuju pada tangan Hadley yang baru saja dipakai menghabisi nyawa orang lain. Tarikan napas Vallery tidak beraturan. Masih antara terkejut dan takut.
"Kamu mendengarnya?"
Vallery tidak menjawab. Dia masuk ke dalam lift dan buru-buru menutupnya. Hadley terpaku di tempat, jejak darah di lantai mengalihkan atensi. Vallery terluka? Kepala Hadley menoleh hingga ke lorong menuju tempat dia tadi, mengikuti jejak darah dan berakhir di tempat Vallery bersembunyi. Ada serpihan kaca dari botol bekas minuman di balik tembok. Vallery terluka karena sampah itu? Hadley segera menyusul ketika lift kosong. Dia tiba tepat saat Vallery kembali dari pintu utama dan jejak darah kembali Hadley lihat, di dalam kabin; juga di lantai ruang tengah.
"Kamu ... mana ayah dan Owen?" tanya Hadley menyadari keduanya tidak ada di sana. "Kamu menyuruh mereka pulang?" Terdengar suara mesin mobil dinyalakan.
Vallery masih bungkam. Dia hampir berlalu meninggalkan Hadley kalau saja tangannya tidak ditahan pria tersebut. "Lepaskan tangan kotormu dariku!"
"Aku tahu kamu takut. Dengar! Yang kau saksikan di bawah, bisa aku jelaskan," ucap Hadley membujuk.
"Aku mungkin belum tahu banyak tentang dirimu. Tapi sampai detik tadi, rasanya aku tidak sanggup tahu lebih banyak lagi." Suara Vallery bergetar. "Aku dinikahi siapa? Kau ... ."
"Aku bisa memberimu penjelasan jika kamu mau mendengarnya. Tapi, sebelum itu ... obati lukamu."
"Kau peduli pada luka kecil? Tapi nyawa orang bahkan kau sepelekan?" Vallery berdecak.