Beberapa lembar foto jatuh dari tumpukan berkas Martinez yang tidak sengaja Rhea senggol. Dia baru saja masuk ke ruang kerja ayahnya, sekadar ingin menemui pria cinta pertamanya itu. Informasi yang di dapat Rhea dari sang ibu membawa gadis itu di ruangan Martinez.
Rhea membungkuk demi menjangkau kertas-kertas bergambar tersebut. Foto mereka saat makan malam bersama Aiden. Rhea melihat keseluruhan foto. Rata-rata jepretan kamera menangkap gambar saat dia tertawa; atau hanya tersenyum sambil menoleh pada Aiden.
"Dad ... ." Rhea berbalik ketika Martinez datang. Ayahnya itu muncul dari balik ruangan lain—masih di tempat yang sama. Setahu Rhea, ruangan tersebut tempat menyimpan banyak buku dan arsip lama perusahaan. "Daddy, foto-foto ini ... untuk apa?"
Martinez menolehkan kepala pada tangan Rhea yang terangkat. Putrinya menunjukkan foto yang semula dia simpan di atas meja. "Kamu menemukannya?"
Rhea kebingungan. "Ini saat Daddy mengajakku makan malam dan membahas pekerjaan dengan tuan Aiden. Maksudku, kenapa Daddy mengambil foto?"
"Bagaimana Aiden menurutmu?"
Rhea memicing. Pertanyaan yang dibalas pertanyaan membuat gadis itu menggeleng pelan. Tangannya terangkat seolah masih membutuhkan jawaban.
"Menurutku dia cukup mapan, memangnya?"
"Cerdas juga," imbuh Rhea ketika Martinez tak segera menjawab dan malah berlalu ke arah sofa.
"Kamu menyukainya?"
Rhea berdecak, ke sana ternyata arah sang ayah menanyainya pendapat soal Aiden. Dia menyimpan kembali foto ke atas meja. "Menyukai dalam hal apa dulu ... kalau sebagai kriteria laki-laki ... dia bukan tipe-ku, Dad."
"Hadley sudah menikah. Sekarang kamu harus kembali fokus pada masa depanmu," ujar Martinez.
Rhea terdiam sejenak. "Tapi sepertinya tidak dengan Aiden juga."
"Dia tidak kalah tampan dan mapan dari mantan kekasihmu itu."
"Aku tahu." Rhea turut mendaratkan b****g di seberang Martinez; terhalang meja kaca berbentuk persegi panjang. "Tapi, aku masih mencintai Hadley dan itu tidak akan mudah berubah."
"Hadley sudah beristri. Lagi pula dia sudah tahu aku akan menjodohkanmu dengan Aiden."
Martinez sepertinya tidak berniat mengatakan itu. Dorongan emosi membuat pria paruh abad tersebut meloloskan kalimat yang membuat Rhea kembali berdiri.
"Jadi ... Daddy gunakan foto-foto itu untuk menunjukkan kedekatanku dengan Aiden pada Hadley? Benar begitu?"
Rhea menggeleng tidak percaya. Pantas semua foto seolah hanya fokus padanya dan Aiden, lebih-lebih dia terlihat bahagia di dalam foto. Hadley pasti sudah salah paham begitu melihatnya.
"Saat aku menanyakan apa kesalahanku sampai dia menikah dengan wanita lain, Hadley justru memintaku untuk menanyakan itu pada diriku sendiri. Dan ini jawabannya?" Rhea menatap Martinez. "Ini tidak adil."
"Rhea ... ."
"Stop, Dad! Aku tidak mau mendengar apa pun lagi."
Rhea keluar ruangan dengan emosi memuncak. Dia membanting kasar pintu tidak bersalah itu. Hanya saksi bisu dari perdebatan ayah dan anak yang berakhir menjadi alat pelampiasan. Malang sekali.
"Aku tidak percaya ini!"
Begitu Rhea tiba di kamar, dering ponsel gaduh minta perhatian. Nama Aiden yang tertera di sana. Ya, saat pertemuan makan malam, dia dan Aiden memang bertukar nomor.
"Ya, tepat sekali kau menelepon." Sambar Rhea.
"Memangnya? Kamu sedang memikirkanku?" Jawaban dari seberang sambungan yang Rhea dengar. Oh, bukan jawaban tapi lebih ke pertanyaan dan itu terdengar menyebalkan di telinga Rhea.
"Tidak penting memikirkanmu. Tapi, aku baru saja membahasmu dengan Daddy."
"Soal?"
"Lupakan itu. Kau menghubungiku untuk apa?"
"Heum ... tidak ada, hanya ingin menanyai kabarmu. Sejak kita satu penerbangan saat berangkat ke Aussie; beberapa kali bertemu di sana dan kau kembali setelah urusanmu selesai, aku belum mendengar kabarmu lagi."
Benar, Rhea baru ingat dia dan Aiden satu penerbangan, bahkan di Australia sempat dua kali bertemu. Mereka duduk bersama dan Aiden sempat meminta selfi dengannya. "Tunggu!"
"Apa?"
"Tidak ada. Kabarku tidak cukup baik saat ini. Bye!" Sambungan Rhea tutup sepihak. Dia beralih melihat laman media sosial dan masuk ke akun Aiden. Benar saja dugaannya, foto selfi mereka, Aiden unggah di sana. Foto di pesawat dan saat mereka makan serta jalan-jalan di sebuah taman.
Aiden memang tidak men-tag akun Rhea. Tapi, dia yakin Hadley sudah melihatnya. "Apa si Aiden itu sengaja membututiku sampai ke Aussie segala? Ah, sial, ini jebakan!" Gerutu Rhea. "Daddy pasti sengaja merencanakan ini.
Kalau sudah begini ... bagaimana?" Rhea mengerang frustasi.
***
"Kamu harus diobati, Vallery."
Vallery menepis kasar tangan Hadley yang sudah menyentuh kakinya.
"Jangan keras kepala! Luka akibat kaca bisa infeksi."
"Aku bisa mengobatinya sendiri. Jauhkan tanganmu!" Tetes bening luruh di pipi Vallery dan itu menjadi pusat perhatian Hadley.
"Kamu menangis karena sakit atau karena aku menyentuh kakimu?"
"Keduanya ... sudah pergi sana!" Rasanya kepala Vallery semakin berat. Dia mengurut pelipis. Hadley sudah berdiri dari semula duduk di tepian ranjang tempat Vallery.
Hadley memanggil pelayan untuk membantu Vallery. "Ganti pakaianmu," ucapnya pada Vallery sembari memberi isyarat agar pelayan mengambilkan baju ganti dari dalam lemari.
Dua pelayan wanita kembali. "Mari kami bantu, Nyonya," kata salah satu dari mereka.
"Apa aku harus mengganti pakaian sementara kau masih di sini?" Vallery menatap nyalang pada Hadley.
Tanpa menjawab, Hadley sudah melangkah. "Akan ada dokter yang memeriksamu, pastikan kamar tidak perlu kau kunci."
"Ya, dan jangan memeriksa kamera pengawas!" Ultimatum Vallery. Hadley menoleh ke atas, dia tersenyum tipis.
Selesai diobati, dokter juga sudah pergi. Vallery baru saja hendak merebahkan tubuh ketika Hadley muncul lagi di ambang pintu. Kalau saja pelayan sudah keluar sebelum Hadley datang, maka dipastikan pria itu tidak ada di sana sebab pintu akan sudah Vallery kunci dari dalam.
Pelayan mengangguk; menundukkan kepala melewati Hadley. Langkah kaki pelan—namun tegas—membawa pria berperawakan tegap itu ke dekat ranjang. Vallery menegakkan tubuh, bersandar pada dinding tempat tidur.
Hadley mengeluarkan senjata; menunjukkannya pada Vallery. "Kamu takut ini?"
Napas Vallery dua kali lebih cepat. Dia menatap waspada pada pergerakan tangan Hadley. "Ka-kamu mau apa?"
"Dengar ... aku ingat perkataanmu tempo hari. Kamu bilang, kalau aku tidak menginginkanmu itu tidak akan masalah bagimu karena masih ada yang lain yang mau padamu."
Vallery memicing. "Kenapa bahas itu sambil menodongkan senjata? Kamu mau membunuhku?" Dia hampir turun dari ranjang.
"Diam!" Hadley melangkah lebih dekat. Tangannya yang bebas senjata turut terangkat. "Diam di tempatmu. Kakimu masih terluka. Jadi, jangan banyak bergerak." Ultimatum Hadley sudah seperti suami yang khawatir karena istrinya terluka. Tapi, suami yang perhatian tentu tidak akan menodongkan senjata, seperti yang dilakukan Hadley. Dia menakutkan!
Hadley merogoh ponsel saat keberadaannya sudah di samping Vallery. "Kunci pintu!" Titahnya. Vallery hanya menatap lurus. "Kamu yang memegang kendali sekarang, bukan? Jadi ... kunci pintunya." Ulang Hadley yang terpaksa Vallery turuti maunya. Dia meraih gawai di atas nakas, lalu mengaktifkan sandi. Bunyi lock pun terdengar samar.
Setelah pintu terkunci dari dalam, Hadley membuka galeri; memutar video yang tersimpan di sana. Dia mengarahkan ponsel pada Vallery agar wanita itu melihatnya.
Dapat Vallery lihat, itu rekaman CCTV di ruang bawah tanah. Dari mulai Hadley datang sampai Adric keluar, termasuk isi percakapan di dalamnya Vallery mendengarkan.
"Untuk apa kamu menunjukkannya? Aku sudah cukup medengar semua dari luar ruangan itu. Kamu mau membuatku semakin takut? Hah?!"
Bersamaan dengan meningginya suara Vallery. Hadley mengangkat tangan ke udara. Bunyi tembakan menggelegar dan Vallery kontan menjerit.