Vallery menjerit mendengar Hadley melepas tembakan. Matanya beralih dari ponsel ke atas, kembali lagi pada ponsel Hadley. Lampu di kamar Vallery berkedip. Hal yang sama terjadi di ruang bawah tanah. Vallery melihat lampu-lampu di sana berkedip pasca tembakan.
Vallery merebut ponsel dari tangan Hadley, kembali memutar rekaman yang tadi Hadley tunjukkan. Video berakhir ketika Hadley menembak, layar tampak retak kemudian menggelap. Tidak terlihat atau terdengar apa pun lagi setelahnya.
"Jadi yang kamu tembak itu kamera pengawas?" Vallery mendongak lagi. Kamera yang dimaksud yang ada di kamarnya pun bernasib sama. Hadley menembaknya dan bukan Vallery. Dia hampir jantungan sebab baru kali ini melihat langsung—secara dekat—peluru dilepaskan.
"Ya," jawab Hadley singkat. Dia duduk di samping Vallery; mengambil kembali ponselnya. "Sudah paham sekarang? Aku tidak menghabisi siapa pun. Atau mungkin belum," imbuhnya sambil menatap ujung pistol.
"Mungkin belum?" ulang Vallery.
"Sekarang, jawab pertanyaanku. Orang lain yang mau denganmu ... ." Suara berat Hadley terdengar serak; tertahan. "Apa itu ... Adric?" bisiknya kemudian. Tangan Hadley berada di kedua sisi tubuh Vallery. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya.
Hanya berjarak satu jengkal wajah Hadley dengan Vallery, membuat gadis itu menahan napas.
Mulutnya sedikit terbuka. "A-aku hanya bercanda. Lupakan itu." Vallery berpaling.
"Kamu yakin?"
"Hah?"
"Hanya bercanda?"
Mendorong pelan bahu Hadley. "Menjauh sedikit! Ya. Memangnya apa lagi?"
"Tapi aku yakin dia Adric. Dan aku mau kamu mendekatinya."
Vallery melotot. Ada suami minta istrinya mendekati pria lain? Sinting! Kalau Hadley tidak menginginkannya tidak masalah. Tapi jangan meminta hal aneh seperti itu! Vallery menggeram tertahan. Rasa dipermainkan, rasa terbuang, dan entah rasa apa lagi yang hinggap di dadanya. Membuat sisi hati Vallery merasa kosong; hampa.
Mengatur napas, Vallery kemudian kembali menatap Hadley. Memindai wajah tampan suami 'gilanya' itu. Ya, dia memang tampan. Vallery menyukai garis wajah Hadley yang tegas. Sorot mata yang tajam. Sayangnya tidak ada kehangatan di sana yang dapat Vallery temukan. Kesan pertama Vallery tentang Hadley adalah pria muda yang mapan. Hadley yang dermawan dan punya citra baik di luar sana. Sedikit terkejut ketika Vallery tahu Hadley yang sebetulnya justru 180 derajat berbanding terbalik dari apa yang dia dan publik tahu selama ini.
"Bagaimana?" Setelah cukup lama hening mengambil alih keadaan, Hadley kembali bersuara.
Vallery mengerjap mata. "Kalau aku ingin, sudah aku lakukan. Tapi ... aku bahkan tidak tertarik pada kalian berdua."
Vallery melipat tangan di depan d**a. Membuat dua gunung kembarnya sedikit lebih mencuat. Mata Hadley turut mengerjap pelan. Dia mengangguk, lalu mengalihkan pandangan. "Tapi yang kuucapkan bukan permintaan yang bisa kau tolak. Itu perintah. Aku tidak mau mendengar penolakan."
"Kamu ... gila, Hadley!"
Hadley mengangkat alis.
Vallery mencebik; memukul Hadley agar menjauh. "Minggir sedikit, kenapa?" Dia menarik selimut yang semula tertindih bagian sampingnya oleh tubuh Hadley. "Suami waras mana yang minta istrinya mendekati laki-laki lain. Kalau tidak gila, ya, sinting!"
Hadley tertawa. Dan sumpah demi apa pun, Vallery baru melihatnya. Dia menertawakan? Apa Vallery terdengar seperti istri yang sedang menuntut hak pada suaminya, sampai si suami terbahak? Rasanya, Vallery semakin ingin membungkus dirinya menggunakan selimut dan tidur lelap. Ini terlalu melelahkan. Denting jam sudah menunjukan pukul 11.30 malam. Vallery mengantuk. Tolong siapa pun, keluarkan makhluk astral ini dari kamarnya, Vallery ingin tidur!
"Jangan tertawa! Kamu terlihat sinting beneran! Akan aku pertimbangkan permintaanmu itu. Tapi aku mau tidur dulu." Vallery menguap. "Dan minta si Adric itu potong rambut. Aku tidak suka modelnya," imbuh Vallery. Mengatakan itu sambil melihat rambut Hadley yang tak jauh berbeda. "Jelek!"
Hadley mendelik. "Dengar ... aku tidak sedang bercanda."
"Dengar ... dengar ... dari tadi juga didengarkan." Gerutu Vallery. "Dari tadi juga aku tahu kamu tidak sedang bercanda. Memangnya kanebo kering sepertimu bisa bercanda?"
Hadley mendekat lagi pada Vallery. Tatap matanya seolah tidak suka disebut 'kanebo kering'. "Pria yang di ikat di ruang bawah tanah itu ... dia Adric sebut yang menembak mobil kita. Aku belum memberi hukuman apa pun karena aku ragu. Satu-satunya yang bisa membawa dia pada kebebasan atau sebaliknya, kematian ... itu kamu." Serius mode on kembali.
"Kamu curiga pada Adric?"
Hadley mengangguk.
"Kau ... apa yang membuatmu percaya padaku? Sampai kamu memintaku untuk mendekati asistenmu itu?" tanya Vallery.
"Tidak tahu. Aku hanya percaya saja kalau kamu bisa membantuku."
"Lalu apa yang bisa kupercaya darimu. Aku tidak tahu, mungkin Adric ada di pihak yang benar, kamu yang salah. Mana tahu, bukan?"
Hadley menarik napas pelan. "Lupakan kalau memang kamu ragu. Tidak masalah, akan kuselidiki sendiri."
***
Keesokan pagi, Hadley sudah meminta Vallery tetap di rumah. Tidak perlu ikut ke acara amal. Hadley bahkan sudah memberitahu ibunya agar dia bisa memaklumi ketidakhadiran Vallery.
Namun, demi kesepakatan semalam, Vallery memaksakan diri. Luka di telapak kakinya sudah tidak mengeluarkan darah. Hanya sedikit ngilu saat berpijak dan masih bisa dia tahan. Semalam, saat Vallery tanya; Hadley mengatakan jika pertemuan pertama dia dan Adric itu di acara amal panti asuhan. Lima tahun lalu, Adric menjadi salah satu tim keamanan di acara tersebut.
Kekacauan terjadi, dan Adric menyelamatkan Hadley dari penyerangan. Hari ini, acara yang sama, panti asuhan yang sama, dan kecurigaan Hadley, membawa tekad Vallery untuk turut hadir. Bukan sekadar membantu Hadley, melainkan mencari serpihan kebenaran tentang mendiang kakeknya. Siapa tahu setelah motif Adric terungkap, dia bisa punya celah membalas Hadley.
Acara baru saja dimulai dengan sambutan manis dari Gianna Ethan. Hanya ibu mertua Vallery yang hadir. Ethan sedang sibuk katanya. Vallery tersenyum kecil begitu namanya disebutkan. Semua mata hampir tertuju padanya diiringi bisik-bisik.
"Oh, jadi ini menantu keluarga Rhys."
"Cantik, ya."
"Sangat cocok dengan Hadley."
Senyum kecil berubah kaku ketika Hadley menoleh padanya. Tangan Vallery yang masih bertaut di lengan Hadley perlahan turun. Dia ingin melepaskan diri, tapi apa daya, Hadley menariknya lagi bahkan kali ini, dia menepuk punggung tangan Vallery. Membuat Vallery menghela napas pendek.
Hadley diminta memberi sambutan juga. Vallery akhirnya bisa bernapas lega walau mungkin itu hanya sesaat. Melihat suaminya di depan ratusan pasang mata, termasuk tatapan-tatapan polos anak yatim, Vallery benar-benar tertampar kenyataan. Bahwa Hadley memang tidak sembarangan membangun citra baik. Dia begitu terlihat hangat menyapa anak-anak, bercanda, bahkan tertawa. Lalu, kenapa semua itu tidak pernah Vallery lihat di rumah? Kecuali semalam, Hadley menertawakannya.
Vallery gugup begitu aksinya sedang memperhatikan Hadley diketahui pria tersebut. Hadley tersenyum ke arahnya, kemudian meminta Vallery ke depan.
"Kalian mau kenalan dengan kakak cantik? Dia istriku, namanya ... Sayang, ayo!"
"Hah?" Kenapa harus memanggil 'sayang'. Mendadak sekali, Vallery jadi makin kikuk. Dia menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk ke depan.
Vallery menolehkan kepala pada Gianna sebelum melangkah. Gianna yang semula sedang berbincang dengan salah satu pengurus yayasan, mengangguk. Namun, baru saja setengah perjalanan menuju ke tempat Hadley. Tubuh Vallery seolah ada yang menarik dari keramaian dan lenyap di balik tembok pembatas. Hadley melihat itu dari depan. Dia segera turun dan menyusul Vallery setelah meletakan asal mikrofon hingga terdengar bunyi-bunyi tidak beraturan.
Gianna langsung berdiri melihat putranya turun podium dan berlari ke luar gedung acara. "Hadley, kamu mau ke mana? Anak itu ...!" Kesal Gianna.
"Vallery!" Panggil Hadley. Akan tetapi tidak ada sahutan pun tak terlihat gadis itu di mana-mana.
"Tuan." Adric ikut muncul dari belakang.
"Aku melihat seseorang memakai burka dan membawa Vallery." Hadley tak sepenuhnya melihat Adric, dia sibuk meneliti setiap sudut mencari ke mana perginya Vallery.
"Aku akan menangani ini. Kau, kembalilah."
Hadley ragu. Apa benar dia harus kembali? Mementingkan acara atau mencari Vallery. Mana yang harus Hadley dahulukan? Gianna datang menyusul.
"Ada apa, Hadley?"
Adric sudah pergi entah ke mana, mencari keberadaan Vallery yang dia yakin belum jauh.
"Ada yang menculik Vallery, Mom," ucap Hadley.
"Shutt!" Gianna segera menempelkan telunjuk di bibir. "Jangan membuat kegaduhan. Biarkan gadis itu, Adric yang tangani. Kamu masuk ke dalam. Beri alasan apa pun tentang istrimu itu. Acara tidak boleh kacau hanya gara-gara dia." Dia yang dimaksud Gianna ialah Vallery, memangnya siapa lagi. Wanita itu kemudian berlalu lebih dulu masuk kembali ke gedung acara. Gianna menoleh saat dirasa Hadley tak juga mengikutinya. "Hadley!"
"Tapi, Mom ...?" Hadley menghela napas begitu tatapan Gianna seolah tidak ingin dibantah. "Oke!" Hadley mengekor di belakang wanita yang melahirkannya itu, kembali ke podium.
Hadley meneruskan ucapan sebelumnya, meminta maaf karena ternyata Vallery tidak bisa hadir di depan. Sepanjang acara berlangsung yang tentu disaksikan awak media, Hadley sedikit tidak fokus. Pikirannya terus tertuju pada Vallery. Kegiatan amal rutin yang dilakukan perusahaan Industri Rhys, berjalan cukup lancar meski insiden kecil terjadi. Hadley sudah turun, sumbangan sejumlah yang disebutkan sudah diberikan pada yayasan. Begitu juga hadiah untuk anak-anak.
Hari ini, acara tetap berlanjut meskipun tetap saja ada yang mengacau. Tapi anehnya, ini bukan penyerangan besar seperti sebelumnya. Ini dilakukan secara halus, membawa Vallery dan coba memecah fokus Hadley. Siapa dalangnya? Yang tidak ingin Hadley terlihat baik.