Seseorang yang memakai pakaian tertutup itu membawa Vallery ke sebuah bangunan tua. Vallery tidak tahu pasti. Dia bahkan tak bisa teriak untuk meminta tolong atau lari sekalipun sebab ada senjata api yang ditodongkan ke perut—sepanjang meninggalkan aula.
"Siapa kamu? Di bawa ke mana aku?" Lantang Vallery begitu dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya yang sempat terhuyung. Vallery didorong masuk ke sebuah ruangan.
Vallery membuka tas. Buru-buru mengambil ponsel untuk bisa menghubungi Hadley atau siapapun yang bisa menolong. Tapi, usahanya gagal sebab ponsel direbut paksa oleh si penculik.
"Kembalikan!"
"Kau mau diam atau dengan terpaksa kubuat diam!" Senjata api kembali ditodongkan.
Vallery kini tahu siapa dia. Dari suaranya, si penculik itu perempuan. Reflek mengangkat tangan. "Apa maumu?" lirih Vallery.
"Mauku? Kau! Kau yang membuat pionku mulai goyah."
"Pion?"
"Karena kehadiranmu, dia mulai gegabah." Wanita yang masih tidak menunjukkan wajahnya itu melanjutkan.
"Sebelum Hadley benar-benar mengendus tujuannya gara-gara kau." Wanita itu berdecih di ujung kalimat. "Maka akan jauh lebih baik bagiku, melenyapkanmu dan mengirimnya ke neraka!"
"Siapa yang kamu maksud itu?" Vallery menggeram. Isi kepalanya seolah berputar; mencari siapa kira-kira pion yang dimaksud wanita di hadapannya.
Si wanita tertawa. "Kau tidak perlu tahu. Tapi, bukankah hidup bersama Hadley itu terlalu membosankan? Biar kuberi kau nasehat gratis. Lebih baik memilih opsi tiada daripada bertahan dengan pria seperti dia. Yang bahkan, mencarimu pun tidak." Vallery menengok ke arah pintu. Memang tidak ada tanda Hadley menyusul.
"Berharap apa?" Imbuhnya. Kalau saja tidak memakai penutup wajah, mungkin Vallery bisa melihat senyum angkuh yang terkesan mengejek dari wanita tersebut.
"Kamu lihat ini, " ucapnya lagi setelah mengeluarkan ponsel miliknya sendiri dari dalam saku jubah. Dia masih mendominasi pembicaraan sedangkan Vallery hanya diam. Video dalam gawai menunjukkan Hadley yang sedang bicara di podium. Pria itu tetap melanjutkan acara meskipun tahu Vallery ada yang membawa pergi. Keterlaluan!
"Luar biasa keterlaluan, bukan? Jadi, lebih baik kau mati saja menyusul ibumu."
"Ibu.... " Lirih Vallery. Wanita itu tahu ibu Vallery sudah tiada? Siapa dia? Vallery tidak ingin mati saat ini. Dia masih harus tahu kenapa kakeknya ada di daftar hitam generasi Rhys.
Pistol sudah hampir siap menembakan peluru ketika pintu terbuka. Adric muncul di sana. Baru saja menendang alat penghubung antar ruangan sambil pula mengarahkan senjata.
"Adric?" ucap Vallery yang membuat si wanita menoleh lengah.
Vallery memukul tangan wanita itu hingga pistol di genggamannya terlepas. Buru-buru dia mengambil senjata tersebut. Membalik keadaan. Giliran wanita itu yang mengangkat tangan ketika Vallery menodongkannya.
Si wanita menoleh pada Adric. Tatapan keduanya bertemu dan seketika Adric tahu siapa dia. “Tidak, Vallery. Turunkan senjata itu dan keluarlah.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Jangan gegabah. Kau pernah memegang senjata sebelumnya? Tidak, bukan? Turunkan dan keluar sekarang juga! Biar dia jadi urusanku.” Titah Adric dengan tangan masih menodongkan senjata ke arah lawan.
Vallery memang menurunkan senjata, tapi tidak sampai melepaskannya. Dia masih membawa pistol tersebut hingga ke dekat pintu, setelah sebelumnya mengambil ponsel yang dilempar wanita itu ke lantai. Untung saja tak sampai retak dan gawai tersebut masih berfungsi saat layarnya dinyalakan.
Adric memastikan Vallery sudah benar-benar menjauh. Dia kemudian mendekat pada wanita itu. “Kau! Apa yang kau lakukan?” Gertaknya setengah berbisik.
“Apa?! Kenapa kau menggangguku? Hah!”
“Sudah kukatakan aku akan membereskannya.”
“Kau lamban, Adric! Sudah habis kesabaranku dan sekarang kau malah ceroboh gara-gara wanita itu!”
“Oke. Kemarin aku membuat kesalahan. Aku akui itu. Tapi tolong, jangan seperti ini lagi.” Adric berlalu meninggalkan tempat setelah mengatakannya.
***
Vallery buru-buru berlari sambil membawa heels di kedua tangannya setelah sempat kembali ke dekat ruangan itu dan berhasil mencuri dengar. Luka yang belum sepenuhnya kering terasa sangat perih. Namun, Vallery abaikan itu hanya agar Adric tidak mendapatinya masih di dalam bangunan tua. Dia berhasil menjangkau keberadaan mobil Adric dan di saat bersamaan Hadley datang. Pria itu muncul dari balik pintu kemudi.
Vallery yang terengah-tengah menengok ke belakang. “Huh.” Embusan napas lega keluar dari mulutnya. Tangan Vallery juga turut mengusap d**a.
Hadley langsung menghampiri; meraih pudak Vallery dan membawanya ke dalam pelukan. “Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?”
Bingung dengan sikap Hadley; juga takut Adric melihat mereka, Vallery melepaskan diri. “I’m okay,” ucapnya singkat. Kembali menoleh ke belakang dan Adric muncul di sana.
“Kamu lama sekali. Apa dia menyerangmu?” tanya Vallery begitu Adric mendekat. Berusaha bersikap normal, Vallery mengatur degup jantungnya yang tak karuan.
“Tidak … ya, sedikit. Tapi tidak masalah. Sudah ku atasi.” Adric menjawab ragu.
“Biar kuhabisi dia.” Hadley sudah akan melangkah melewati Vallery. Namun, tangannya ditahan. Vallery mengedipkan mata singkat, bermaksud memberi isyarat.
“Tidak, Tuan. Dia hanya perusuh yang coba membelah fokusmu. Sungguh sudah kuatasi. Kupastikan dia tidak akan berani mengganggumu atau Vallery lagi.”
Adric yang coba mencegah Hadley membuat Vallery semakin yakin dengan apa yang didengarnya di dalam. Pion yang dimaksud si wanita berjubah hitam, tak lain adalah Adric. Dia juga mencegah Vallery saat mencoba menodongkan pistol tadi, seakan Adric takut wanita itu terluka.
“Kau yakin sudah menghajarnya?”
“Ya.” Adric mengangguk. “Sudah kuberi pelajaran,” imbuhnya yang tentu Vallery tahu itu sebuah kebohongan.
“Sebaiknya kalian pulang lebih dulu.” Adric kembali bicara. Hadley mengangguk kemudian menggerakkan ekor matanya. Adric yang paham segera membukakan pintu samping kemudi untuk Vallery.
“Hati-hati,” ucapnya ketika Vallery masuk. Tangan Adric siaga; mengudara di atas kepala Vallery agar dia tidak sampai terhantuk.
“Adric … .” Pria yang dipanggil namanya sedikit membungkuk, melihat ke dalam mobil yang pintunya sudah kembali dia tutup. “Terima kasih untuk datang tepat waktu. Kalau tidak … .” Vallery menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak bisa membayangkannya, sungguh. Sekali lagi terima kasih.” Mengucapkan itu sembari mengulas senyum semanis mungkin. Vallery harus bisa membuat Adric merasa tersanjung.
Adric sempat melihat ekspresi Hadley yang mendengar ucapan Vallery sebelum akhirnya dia merespon. “Tidak masalah. Itu sudah menjadi tugas saya melindungi istri Tuan Hadley.”
Vallery mengangguk singkat dan kembali melempar senyuman. Mobil melaju setelahnya. Memutar arah dengan tidak sabar seolah yang mengemudi sedang terbakar. Apa? Yang terbakar. Vallery menoleh ke sisi kiri. Melihat Hadley dari samping dengan tangan kokohnya yang memegang kemudi. “Kamu kenapa bisa tahu aku ada di bangunan itu? Bukankah kamu tetap melanjutkan acara dan tak segera menyusulku?”
“Seluruh ponsel anak buahku termasuk Adric, ponselmu, juga kendaraan yang dipakai, semua dalam kendaliku. Aku bisa tahu kalian berada di mana. Masih kamu tanyakan itu?”
“Oke.” Vallery paham sekarang. “Heh! Handphone ku … juga?”
Hadley mengangkat alis. “Dan setelah aku periksa, sinyal pemberitahuan dari ponsel Adric berada di titik lokasi tembakan kemarin malam. Kepercayaanku padanya mulai goyah, tapi kamu malah memberinya apresiasi berlebihan.”
“Waw, Hadley? Ada apa denganmu ini, heum?”
Hadley tidak menjawab. Dia hanya menilai hal yang ditunjukkan Vallery terlalu berlebihan. Hadley tidak memahami apa pun selain itu, termasuk perasaannya sendiri.
***
Di rumah, Rhea sepertinya sudah menunggu lama. Dia langsung menghambur ke pelukan Hadley begitu tiba. Tanpa peduli adanya Vallery di sana, Rhea memeluk suami orang seenaknya.
Hadley melepas tautan tangan Rhea di pinggangnya. “Ada apa lagi ini?” tanyanya datar.
“Kamu salah paham denganku, Hadley. Aku tidak pernah menyetujui keinginan Daddy. Bahkan aku baru tahu sekarang niatnya mendekatkan aku dengan Aiden,” tutur Rhea. Gadis itu mendongak menatap wajah Hadley yang sama sekali tidak membalas tatapannya.
“Kalian bahkan berlibur bersama.”
“Aku ada pekerjaan di sana. Aku memberitahumu lewat chat, tapi kamu bahkan tidak membalas dan kami tidak sengaja bertemu di Bandara. Lalu, di negara itu secara kebetulan kami juga di satu kota yang sama, jadi ada dua kali kami bertemu. Tapi, sungguh aku sama sekali tidak mengajaknya. Dia yang menemuiku.” Rhea memegang kedua lengan Hadley. “Percaya padaku. Aku tidak tahu mungkin memang itu bagian dari rencana ayahku, tapi aku tidak menginginkannya. Perasaanku masih tetap sama padamu.”
Hadley mulai menurunkan pandangan. Menatap Rhea seperti mencari kejujuran dari balik kata-katanya. Melihat itu, Vallery berlalu dengan sebelah kaki sedikit berjinjit. Perban masih menempel di telapak kaki dan sudah sangat kotor.
Vallery sadar posisinya di rumah ini hanya sebagai istri Hadley. Di rumah, bukan di hatinya. Padahal, dia sempat berpikir Hadley cemburu saat ucapan terima kasih pada adric dinilai terlalu berlebihan. Sudahlah! Vallery menjangkau keberadaan lift, masuk ke kabin. Sebelum pintu dari kedua sisi menutup rapat, Vallery melihat Hadley menolehkan kepala dan menatap ke arahnya.
“Kamu yang saya pilih untuk jadi menantu Rhys dan memberi keturunan bagi penerus Hadley, kamu tahu kenapa? Karena aku tahu kamu gadis baik-baik. Hadley sangat mencintai Rhea, tapi kami tidak menyetujui hubungan mereka. Tugasmu cukup mudah. Buat Hadley benar-benar jatuh hati padamu, karena saya tahu, yang ditunjukkannya tadi hanya sandiwara itu pun, bahkan saya yang meminta.”
Vallery teringat ucapan Gianna kemarin saat datang untuk makan malam. Dari sanalah Vallery tahu kalau Gianna yang memilihnya, bukan kakek Rhys. Pantas kalau si tua bangka itu bersikap tak acuh padanya, membuat Vallery bertambah yakin bahwa kepergian kakeknya memiliki hubungan kuat dengan Rhys. Bukan sekadar kematian biasa.