Perang antara Hati dan Logika

1472 Words
Hadley baru saja mendekat pada kamar Vallery yang tak lagi jadi kamar rahasia. Jika sebelumnya hanya dia dan Adric yang tahu, kini pelayan sudah diijinkan untuk keluar-masuk ruangan tersebut jika Vallery membutuhkan bantuan. Termasuk dokter yang kemarin mengobati lukanya. Namun begitu, Hadley tetap membatasi, hanya dua pelayan—yang sama—yang dia percaya. Dan keduanya sekarang ada di sana. “Kalian … tidak bisa masuk?” tanya Hadley. Pelayan mengangguk; menunduk. “Ada Tuan Adric di dalam, Tuan,” jawab salah satu dari mereka yang membuat Hadley sedikit terkejut. Tangannya mengibas; isyarat agar kedua pelayan itu pergi. Hadley mengetuk pintu, tapi tak mendapat jawaban. Mendial nomor Vallery pun berakhir sama. Panggilan tak tersambung. Hadley mendesis kesal. “Sedang apa mereka di dalam?” Gerutunya. Ingat kamera pengawas juga sudah rusak akibat ulahnya sendiri. Alih-alih ingin Vallery merasa nyaman dengan menyingkirkan CCTV tersebut, malah berakhir dia yang gelisah karena tak bisa memantau keadaan di dalam. Hadley kembali ke kamarnya sendiri. Mondar-mandir seperti setrikaan. Sejurus kemudian, pesan masuk ke laman chatting nya. [Kamu mengetuk pintu? Memangnya sudah selesai urusanmu dengan kekasihmu itu?] [Kupikir lanjut ke kamar] Pesan kedua dari Vallery berbunyi demikian. Kornea mata Hadley melebar saat membaca deretan huruf itu. [Kamu sendiri sedang apa berduaan dengan Adric? Menuduh orang lain sembarangan.] [Oh, hai … Tuan Suami! Kau yang menyuruhku mendekatinya. Lupa?] Hadley menggelengkan kepala. [Tiba-tiba? Adric bukan pria bodoh. Dia bisa curiga padamu.] [Momentumnya tepat. Paling tidak, dia akan berpikir bahwa aku terkesan padanya karena dia sudah menyelamatkanku] Balasan pesan dari Vallery membuat Hadley terdiam sejenak. Kemudian, seperti teringat sesuatu, Hadley keluar kamar lalu ke lantai bawah, menuju garasi. [Pastikan kamu baik-baik saja. Jangan bertindak gegabah sampai aku kembali!] Ultimatumnya pada Vallery setelah berada di dalam mobil. Hadley melajukan kendaraannya tersebut. *** Apa-apaan, jangan bertindak gegabah? Dia khawatir? Vallery membatin pasca membaca pesan dari Hadley. Dibumbui kalimat ‘Sampai aku kembali’. “Memangnya dia mau ke mana?” Gumamnya pelan. “Siapa?” Adric yang membantunya mengganti perban, selesai menempelkan plaster, memastikan perban baru terpasang dengan baik—dia pun lantas melempar tanya. “Heum? Ini? Owen. Adikku.” Bohong Vallery. “Sudah selesai, ya? Terima kasih. Aku jadi banyak merepotkanmu. Harusnya tadi biar pelayan saja yang membantuku.” Basa-basinya. Padahal, Vallery memang sengaja memanggil Adric ke kamarnya bertepatan dengan pelayan yang hendak mengurus luka Vallery—yang sepertinya itu perintah Hadley. Namun begitu, mengganti perban bukan bagian dari tujuannya, itu inisiatif Adric sendiri. “Tidak masalah. Ini hanya pekerjaan kecil. Kamu memanggilku untuk?” “Kamu bilang … kalau aku tidak akan bertahan lama dan saat aku menyerah, kau orang pertama yang akan aku temui,” ujar Vallery. “Jadi kamu menyerah,” “Bukan, tapi aku mulai takut. Penembakan kemarin dan penculikan tadi. Mereka semua musuh Hadley?” Adric mengangguk. “Kamu tahu mereka siapa?” “Yang pasti, mereka punya dendam terhadap keluarga ini.” Giliran Vallery yang mengangguk. “Wanita yang tadi membawaku … dia juga sepertinya sangat membenci Hadley. Kau tahu dia siapa?” Adric menatap Vallery intens dan Vallery menangkap raut keterkejutan di matanya. Mungkin Adric tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Sampai kemudian, Adric membalas pertanyaan Vallery dengan pertanyaan lagi. “Kamu yakin ingin mengetahuinya?” Vallery mengangguk antusias. Hadley bilang dia cerdas, tapi tidak sesulit itu ternyata menginterogasi Adric. “Apa yang bisa kamu berikan untukku?” Glekk! Vallery meneguk ludah. Menggigit kecil bibirnya. Hadley sudah mengingatkannya bahwa Adric tidak bodoh! “Sudah pernah kukatakan, aku menginginkanmu, bukan? Jadi … .” Adric mengangkat alis; mendongak ke atas. Dugaannya benar, Hadley merusak CCTV dan mungkin itu juga yang dia lakukan di ruang bawah tanah hingga Adric tak bisa melihat apa pun lagi dari layar pemantau dan pengawal yang jadi tumbal, Adric tidak tahu Hadley apakan pria itu. ‘“A-aku.” Vallery ragu. “Kamu ragu? Karena Hadley?” “No!” sanggah Vallery. “Bukan karena dia. Untuk apa? Kamu lihat sendiri, bukan? Kekasihnya datang lagi dan setahuku, Hadley sangat mencintainya. Aku hanya … .” Vallery menggantung kalimat. “Hanya?” “Hanya ingin tahu … seberapa banyak musuh Hadley dan alasan mereka. Aku akan lakukan apa pun untukmu setelah aku mengetahuinya, itu saja!” Negosiasi yang luar biasa. Adric tersenyum seolah dirinya benar-benar menyukai cara Vallery menaklukannya. Dia berdehem kemudian gerak tubuhnya semakin dekat pada Vallery. “Tidak ada lagi yang mengawasi kita berdua. Hadley sedang bersama Rhea dan kamu bersamaku.” Adric meraih dagu Vallery membuat gadis itu sedikit mendongak. Vallery menggigit lagi bibirnya mengalihkan kegugupan. Napasnya terengah seiring degup jantungnya yang semakin menggila. Kepala Vallery dipenuhi bayangan Hadley saat yang ada di hadapannya justru Adric. Dari sikap Hadley saat makan malam di rumah Rhys. Walaupun Vallery tahu itu hanya sandiwara, tapi entah kenapa dia merasa bahagia diperlakukan manis. Kemudian tadi saat tiba-tiba Hadley memeluknya. Lalu, ingatan Vallery jatuh pada saat suaminya itu bersama Rhea. Buyar semua! Vallery menarik napas kasar. Bibirnya kini sudah saling berpagutan dengan Adric dan sialnya, dia yang memulai karena dorongan emosi yang tak semestinya. Pintu kamar diketuk dari luar. Panggilan setelahnya terdengar membuat Vallery maupun Adric mengakhiri kegiatan mereka. “Sorry!” lirih Vallery. Adric tersenyum menyeringai. Dia sudah membuka dua kancing teratasnya, tapi panggilan dari luar kembali terdengar. Kali ini, bukan suara pelayan, melainkan … Rhea. “Jadi ini kamar wanita j*lang yang berani mengambil Hadley dariku itu!” Rhea mengikuti langkah pelayan yang hendak melaporkan kekacauan yang dia buat di lantai bawah. Ya, Rhea berusaha meredam amarah pasca Hadley menolak dan malah meninggalkannya sendirian di kamar tamu. Dia tak menyusul, memilih menghabiskan minumannya sampai merasa puas. Namun tetap saja, rasanya ada yang mengganjal hingga Rhea akhirnya membuat kegaduhan. Dia mengira, Hadley ada di dalam bersama Vallery. “Itu Rhea,” ucap Adric. Mengancingkan kembali kemejanya. Dia sudah berdiri dan hampir beranjak. “Apa yang akan dia pikirkan kalau tahu kamu di sini.” Cegah Vallery. “Biar kubuka, kamu … sembunyi saja dulu.” Adric tersenyum menatap Vallery. Keduanya sudah seperti pasangan selingkuh yang takut tertangkap basah. Dan bukankah memang begitu? Dia dan Vallery sudah memulai. *** Vallery membuka pintu, mendapati Rhea berdiri angkuh di depan kamarnya. “Kau … mau apa di sini?” tanya Vallery sambil melirik pelayan yang menunduk takut. Vallery memberi isyarat agar pelayan itu meninggalkan tempat. “Aku tidak tahu apa yang jal*ng sepertimu berikan hingga Hadley tidak lagi menatapku dengan cinta. Tapi, kalau kau bermimpi bisa bahagia hidup dengannya, maka lupakan saja! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Rhea mengarahkan telunjuknya pada Vallery. “Lakukan saja! Lakukan apa pun yang kau mau, karena kenyataannya aku dan Hadley sudah menjadi pasangan.” Vallery tersenyum mengejek. “Wanita sepertimu bisa apa memangnya?” Mendengar Vallery merendahkannya, Rhea kontan melotot. “Akan kupastikan Hadley meninggalkanmu dan kembali padaku.” “Ya … ya, kubilang lakukan saja!" balas Vallery. "Jika bisa,” imbuhnya. Rhea meneriaki Hadley, masih mengira lelaki itu ada di dalam. “Dengar! Aku tidak akan semudah itu melepasmu, Sayang.” Rhea tertawa. “Sudah banyak yang kita lewati, dan aku tahu kamu hanya mencintaiku, Hadley. Keluarlah! Ini tidak adil untukku sebab aku tidak pernah ingin dijodohkan dengan siapa pun. Kamu mengambil keputusan menikahi wanita ini.” Tunjuknya pada Vallery. “Hanya karena mengira aku bersama yang lain.” Rhea menangis setelahnya. Vallery menghela napas pendek. Ingin marah melihat Rhea, tapi sadar wanita itu dalam pengaruh alkohol. Vallery malah jadi iba dibuatnya. Percayalah, ucapannya hanya membalas keangkuhan Rhea yang menyebut dirinya j*lang. Vallery tidak bisa membiarkan siapapun menghinanya seperti itu. Rhea ambruk di lantai. Kacau sekali keadaannya. Vallery meraih pundak Rhea yang langsung ditepis kasar. “Kau mau tetap di sini, ya, sudah!” Vallery beranjak. Hampir masuk ke dalam kamarnya lagi, Vallery menoleh. Sebagai sesama perempuan, akankah dia melakukan hal yang sama jika ada di posisi Rhea? Bukankah itu sama saja seperti mengemis cinta? Dia melihat ke arah lorong penghubung antara kamarnya dengan kamar Hadley. Lelaki itu bahkan entah pergi ke mana; tak peduli pada wanita yang menangisinya di sini. Vallery berdecak. “Hadley masih mencintaimu.” Rhea mendongak begitu mendengar ucapan Vallery. “Kukira begitu, karena dia tidak ada di sini bersamaku. Jadi, bangunlah. Jangan seperti ini di hadapanku.” Vallery benar-benar meninggalkan Rhea sendiri. Dia kembali ke kamar dan mendapati Adric berdiri tak jauh dari pintu. “Kenapa kamu lakukan itu? Memberi Rhea harapan?” Vallery mengedikkan bahu. “Berharap apa memangnya? Aku dan Hadley?” Dia menggelengkan kepala. Tujuannya tidak akan berubah, begitu tahu kronologi kematian kakeknya, Vallery akan pergi meninggalkan Hadley dan menepis rasa yang mungkin mulai tumbuh. Permintaan Gianna? Vallery tidak peduli itu! “Kau tahu aku punya tujuan lain sejak melihat komputer Hadley hari itu dan aku tahu kau juga memiliki niat lain. Jadi, kalau kau bisa membantuku … akan aku penuhi keinginanmu.” Setelah melewati berbagai perang antara logika dan hatinya, kalimat itu lolos dari bibir Vallery tanpa beban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD