Melihat kembali lokasi penculikan Vallery, Hadley mendapati jejak kaki di lantai berdebu. Ada beberapa termasuk milik Vallery.
"Kalau Adric itu cerdik, dia pasti melihat ini. Tapi kalau dia masuk ke dalam permainan Vallery, tandanya dia tidak secerdik itu." Gumam Hadley.
Dia sudah akan kembali saat suara benda jatuh menjadi pusat atensinya. Ada seseorang di bangunan tua ini? Hadley melangkah lebih ke dalam mengikuti arah suara berasal. Satu ruangan dengan pintu sedikit terbuka, Hadley mengintip dari celah. Untuk berjaga-jaga, senjata dia genggam erat di tangannya.
Dapat Hadley lihat, ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam dan tertutup hingga kaki sedang berdiri membelakangi keberadaan pintu. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Hadley.
Merogoh saku, Hadley ingat selalu membawa SPY Camera cadangan lebih dari dua. Satu tadi dia letakkan di kamar yang biasa Rhea tempati, sengaja ingin memantau gadis itu. Satu dia letakan di luar kamar Valley pasca mendapat informasi Adric masuk ke ruang pribadi istrinya. Dan masih tersisa satu, Hadley meletakkannya di atas meja tak jauh dari keberadaan pintu. Setelah memastikan kamera kecilnya aman, Hadley melangkah pelan keluar dari gedung itu.
Mencari tempat yang aman untuk memantau tindak-tanduk orang yang menculik Vallery. Belum apa-apa, Hadley sudah merasa jengkel mengingatnya. Terlebih, Adric mengatakan sudah memberi si penculik pelajaran. Nyatanya, dia masih terlihat baik-baik saja.
"Sebentar lagi, ayah. Beri dia waktu untuk bisa membalaskan rasa sakit ayah. Aku tau dia lamban. Tapi itu karena dia cukup hati-hati. Beberapa aset bahkan sudah berpindah nama sejak setahun terakhir, Hadley tidak menyadarinya. Klien banyak yang sudah berpindah, lebih mempercayai dia untuk menangani masalah mereka. Pelan-pelan dia belajar cara kerja cucu Rhys itu. Agar bukan hanya harta kekayaannya yang jatuh ke tangan kami, tapi juga sumbernya."
Kalimat panjang itu dapat dengan jelas Hadley dengar. Sialnya, Hadley masih belum mengerti. Siapa 'dia' yang dia maksud? Suaranya jelas seorang wanita. Dia memegang pigura foto yang dapat Hadley lihat dari layar ponsel ketika Wanita itu meletakkannya di paku yang menancap pada dinding.
Sepertinya, Hadley mengenali sosok dalam foto berukuran 10 R itu. Laki-laki yang dipanggil ayah oleh wanita berpakaian serba hitam tersebut. Pernah melihat entah di suatu tempat. Hadley berusaha keras mengingat, sampai kemudian, sadar wanita itu mendekat ke arah pintu. Tangannya bertumpu di atas meja tempat Hadley menyimpan kamera. Detik-detik menegangkan sebab semua akan kacau kalau wanita itu menyadari keberadaan kamera Hadley.
Namun, penglihatan Hadley tertuju pada jari manis si wanita yang terlihat memakai cincin, persis yang dipakainya di jari tengah sebelah kanan. Cincin peninggalan sang nenek. Hadley memperhatikan jemarinya sendiri, beralih lagi pada layar. "Aku ingat sekarang. Laki-laki di foto itu ... ." Hadley menyalakan mesin mobil yang sengaja tadi dia parkirkan cukup jauh dari bangunan tua.
Kembali ke rumah, Hadley tak segera masuk. Hanya duduk diam di balik kemudi mobilnya yang sudah terparkir sambil memantau kamera di luar kamar Vallery. Cukup hening. Jangankan lalu-lalang manusia, bahkan detik jarum jam pun tidak terdengar. Bebepa menit hanya ada kebisuan saja. "Adric lama sekali di kamar Vallery." Hadley bergumam yang seketika membuat kepalanya berdenyut terisi banyak spekulasi. Belum masalah wanita bercadar itu Hadley tuntaskan, masalah Vallery kini menghantuinya. Ada apa dengan perasaannya? Kenapa Hadley merasa hatinya tidak rela mengingat Vallery bersama pria lain?
"Tidak! Secepat itu?" Hadley menggeleng kuat. "Vallery hanya istri yang kakek berikan untukku. Dan aku tidak pernah menyukainya!" Sangkal Hadley. Dia lantas segera keluar. Langkah membawa Hadley ke arah kamar Rhea setelah tadi dia melihat gadis itu di depan kamar Vallery lewat rekaman. Ingin memastikan, sudah pulang atau belum.
Akan tetapi, baru saja Hadley akan menjangkau keberadaan kamar tersebut, dia melihat Adric masuk ke sana. Setelah istrinya, sekarang si b******k itu mendatangi Rhea. Ada apa ini? Dua wanita Hadley sepertinya sedang bermain-main. Kesal, langkah Hadley bawa ke tempat Vallery. Mengetik sesuatu di layar ponsel sebelum mendekat pada pintu kamar.
***
Hadley duduk di tepian ranjang menunggu seseorang keluar dari balik kamar mandi. Suara-suara air masih mendominasi tanda aktifitas di dalam masih berlangsung. Tak berselang lama, Vallery muncul dari bilik tersebut dengan memakai bathrobe dan satu handuk membungkus kepalanya. Dia terlihat kaget begitu melihat Hadley.
Mata Vallery menatap tajam ke arah Hadley, kemudian beralih pada pintu. Bagaimana suaminya itu bisa masuk? Seingatnya dia mengunci pintu.
"Kamu bingung?" Hadley berdiri. Ponsel yang masih memutar video dia letakan di atas tempat tidur. "Kunci manual juga supaya lebih aman, karena siapapun berpotensi membobol area privasimu." Hadley memindai Vallery dari atas hingga ke bawah.
Vallery mengembus napas. Tungkai sudah akan melangkah ke arah lemari kalau saja Hadley tidak mencegah. "Habis melakukan apa hampir satu jam bersama Adric dan ... mandi?" Alis Hadley terangkat.
"Tidak ada yang terjadi." Vallery menggigit bibir dan aksinya sukses membuat Hadley meneguk saliva.
"Itu yang kalian lakukan?" Hadley mendekat.
"A-apa?" Vallery menengok kamera pengawas. Apa kamera itu masih berfungsi walau sudah Hadley tembak hancur? batinnya. Vallery mengerjap pelan.
Tapi bukan kamera, melainkan aksi gigit bibir yang membuat Hadley tahu bahwa itu yang Vallery lakukan dengan Adric. Berciuman. Dia mendesis kesal. Sejurus kemudian sudah meraih tubuh Vallery lebih dekat. Hadley sedikit menunduk demi bisa menjangkau bibir Vallery. Pagutannya berlangsung cukup lama, meski sempat menolak, Vallery berhasil mengimbangi Hadley.
"Aku hapus jejak Adric. Dia melakukan ini, bukan?" bisik Hadley setelah pagutan berakhir.
"Kamu tau?"
"Aku tau."
"Kenapa harus dihapus?" tanya Vallery.
"Itu ... aku tidak tau." Suara bariton Hadley terdengar serak. Dia mendekat lagi, pagutan kedua berlangsung. Hadley membuka handuk di kepala Vallery. Mengusap rambut yang masih lembab itu. Dapat dia hidu aroma shampoo yang dipakai Vallery. Pagutan berakhir dan berpindah ke leher.
Vallery sendiri, dia ingin menolak. Tapi, sial, tubuh dan jiwanya berkhianat. Rasanya, Vallery lebih membutuhkan sentuhan Hadley dibanding mengikuti isi kepalanya.
"Aku tau kamu tidak menginginkan ini. Tapi, aku juga tau, ibuku mendesakmu untuk memberi keturunan. Benar?"
Mata Vallery membola. "Dari mana kamu tau?"
"Itu kenapa aku membantumu menolak kalung yang akan ibuku berikan. Tapi, dia memaksa dan kamu pasrah saja," ucap Hadley. "Apa pasrah sepeti itu berarti kamu akan mempertimbangkan kemauan nyonya Gianna, suatu saat nanti?"
"Kamu benar. Seharusnya aku menolak keras jika aku betul-betul tidak menginginkannya. Bukan malah pasrah." Vallery menatap Hadley yang sorot matanya tidak seperti biasa. Tidak lagi kosong. Namun, menatapnya penuh damba, atau hanya sebatas nafsu.
Belum sampai pikiran itu berakhir, Hadley sudah menjawabnya dengan tindakan. Vallery dibopong dan dibawa ke atas ranjang. "Apa suatu saat nanti itu, sekarang?" tanya Hadley. Vallery tidak mampu menjawab.
Hanya mampu memejakan mata merasai setiap sentuhan lembut Hadley. Hingga kemudian, tanpa sengaja, kaki Vallery menendang ponsel Hadley yang tadi di simpan di sisi ranjang. Benda pipih itu terjatuh, mengalihkan kegiatan mereka. Vallery terduduk saat Hadley berusaha meraih gawainya; meletakkan asal di atas nakas.
Posisi ponsel terletungkup. Namun, sepertinya video masih memutar. Suara des*han terdengar membuat Vallery menoleh tajam. Hadley sedang melihat video apa selagi Vallery mandi tadi? Dia mengambil ponsel itu, meski Hadley mencegahnya.
"Mereka?" Mulut Vallery terbuka lebar. Terkejut, dia menatap Hadley. "Kamu tiba-tiba begini karena mereka?"
"Tidak. Tapi, karena aku memang menginginkanmu."
"Bohong!"
"Kamu tidak percaya?" Hadley terduduk di tepian ranjang dengan hasrat yang belum tersalurkan.
"Rhea bilang dia sangat mencintaimu."
"Kebohongannya lebih besar, bukan? Dan itu bukan yang pertama." Bibir Hadley menunjuk ponsel.
"Maksudmu?"
"Aku pernah memergoki mereka sebelum hari ini." Dan itu menjadi alasan Hadley meletakkan kamera di kamar Rhea. Manatahu hal yang sama terjadi. "Itu kenapa aku bertingkah waspada saat tau dia juga menginginkanmu. Kamu mungkin tidak menyadarinya," imbuhnya.
"Kamu tau sudah lama mereka seperti ini, tapi tetap diam?"
"Aku baru sadar sekarang, bahwa mungkin aku terlalu bergantung pada Adric. Dia seperti kakak bagiku, tapi dia lintah yang perlahan menghisap darahku hingga aku merasa lemah. Tapi, tetap saja aku tidak ingin terlihat lemah." Hadley mengembus napas berat.
"Perasaanmu pada Rhea membuatmu tidak berdaya?"
"Andai kakek tidak memaksaku menikahimu, mungkin aku masih Hadley yang lemah. Tapi sekarang, aku punya kamu. Aku mempercayaimu. Apa kamu bisa kupercaya?"
Vallery meneguk saliva. Hadley mempercayainya, tapi dia sendiri memiliki tujuan lain. Vallery harus bagaimana?
"Kamu bisa aku percaya?" ulang Hadley setelah tak mendapat jawaban.
"Aku ... ."
Pikiran dan hatinya kembali bertarung. Detik berikutnya, Vallery menjawab dengan tindakan. Dia sudah meraih pundak Hadley yang sebelumnya duduk menyamping agar mengahadap padanya. Vallery mengusap wajah Hadley.
"Apa aku juga bisa mempercayaimu?" Vallery melihat ke dalam mata Hadley, berusaha meyakinkan dirinya dan mencari ketulusan di sana. "Kamu belum selesai dengan masalalumu, apa aku bisa masuk?"
Hadley mengerjap pelan. Tatapannya turun ke bibir Vallery dan memulai lagi kegiatan yang sempat tertunda.