Di bawah Kendali Gianna

1431 Words
Terbangun dengan tubuh polos dan tidak sendiri. Vallery merasa bahagia dan hancur secara bersamaan. Di sampingnya, Hadley menggeliatkan tubuh. Pria yang menggagahinya semalam masih belum membuka mata. Bagaimana rasanya disentuh pria yang ingin kamu selidiki silsilah keluarganya? Sisi hatinya sedang mengejek Vallery sekarang. Lupa janji pada dirinya sendiri, pun melupakan tekad dan niat. Baru kemarin dia meneguhkan hati, hari ini ... malah berpaling. Vallery mengusap wajah. Bulir bening seketika luruh. "Aku harus apa sekarang?" Gumamnya. Hadley terbangun. Dia menyamakan posisi dengan Vallery yang duduk bersandar pada dinding ranjang. Sementara itu, Vallery buru-buru menghapus jejak air di matanya, walaupun aksinya itu tetap saja tidak berhasil menyembunyikan kesedihan. Hadley menyadarinya. "Kamu menangis? Apa kamu menyesal?" Dua pertanyaan lolos dari bibirnya. Vallery menoleh pelan, kemudian menggeleng ragu. "Tidak." "Lalu?" "Aku tidak tau." Tangan Hadley terulur mengusap rambut Vallery hingga ke punggung. Dia tersenyum kecil mengingat pergumulannya dengan wanita itu semalam. Vallery sedikit terperanjak begitu telapak tangan Hadley kembali menyentuh kulit. Hadley mencondongkan wajah, menjangkau kening Vallery. Dia menciumnya lembut. Menyatukan keningnya dengan milik Vallery. Menatap begitu dekat, hingga rasanya Hadley tidak tahan untuk melewatkan lagi bibir wanita yang 4 tahun lebih muda darinya itu. Pagutan berakhir dan lagi-lagi, Vallery tidak mampu menolak. "Aku pikir, kamu sudah akan meninggalkanku setelah mendapat apa yang kamu mau." Hadley tertawa ringan. "Aku bukan sedang memakai wanita sewaan. Kamu istriku, kan? Tidak mungkin aku melakukan itu padamu. Dan, ya, aku tau kenapa kamu menangis. Sakit? Itu pengalaman pertamamu, bukan?" Vallery mengangguk saja. Dia sedih karena berbagai alasan, bukan hanya karena merasai sakit hampir di seluruh bagian tubuhnya. "Aku heran. Gadis sepertimu memangnya tidak pernah pacaran?" imbuh Hadley. "Gadis sepertiku? Memangnya aku bagaimana?" Vallery merasa tersinggung dengan sebutan yang bahkan tidak jelas artinya seperti yang baru saja diucapkan Hadley. "Maksudku ... Ini bukan kota kecil. Pergaulan dan s*x bebas bukan lagi jadi hal tabu di sini. Tapi, kamu ... ?" "Aku ... apa aku berbeda? Keseharianku hanya belajar, melukis, membaca. Semua dilakukan di rumah. Selama ini, aku hanya keluar saat harus pergi ke sekolah. Selebihnya, tangki cintaku dipenuhi ayah hingga rasanya aku tidak butuh pria manapun." Hadley tersenyum getir. "Termasuk aku?" Vallery menoleh. "Entah setelah ini." Dia menatap Hadley kemudian beralih pada jam di atas nakas di samping suaminya itu. "Sudah pagi. Kamu tidak keluar?" "Mengusirku?" "Bukan begitu. Nanti ada yang curiga." "Biarkan! Adric, bukan?" tebak Hadley. "Sudah seharusnya kita seperti ini sejak hari pertama." "Tapi kau memilih mengurungku." "Tadinya kupikir aku tidak akan tertarik padamu." "Lalu, sekarang?" Hadley tertawa seperti menertawakan dirinya sendiri. "Kamu milikku. Dan aku hampir dengan bodoh melewatkanmu. Pria sinting ini malah menyuruhmu mendekati Adric." "Mengaku juga akhirnya." Ejek Vallery. "Aku ke kamarku dulu. Kamu kalau mau ... tidur saja lagi. Dan, ya ... tidak perlu mencaritahu apa pun lagi tentang Adric, aku sudah memiliki petunjuk. Akan kuselidiki sendiri." Vallery mengangguk dengan senyum tersemat di bibir; melupakan sejenak penyesalannya. *** Gianna mengangsurkan amplop coklat ke hadapan seorang pria. Tanpa membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, Gianna duduk di depan meja. "Terima kasih untuk selalu melakukan pekerjaanmu dengan baik," ucap Gianna. "Apa pun itu, Nyonya. Menjaga kehormatan keluarga Tuan Rhys sudah menjadi tugas kami." Terima kasih yang Gianna ucapkan pada pimpinan awak media itu tentunya untuk pekerjaannya kemarin. Menjaga kehormatan keluarga dengan tidak menampilkan hal negatif. Kejadian di setiap acara amal termasuk penculikan Vallery kemarin, tidak pernah dipublikasikan. "Anda selalu melindungi kehormatan keluarga, dan itu sudah terjadi sejak lama." "Bagaimana lagi, sudah menjadi kewajibanku sejak ibu mertua tiada," balas Gianna yang kemudian pergi meninggalkan tempat. Gianna Ethan Rhys masuk ke dalam sebuah mobil. Duduk di bagian penumpang dan sopir di depan siaga mengantarnya. Gianna ingin menemui Hadley. Berkunjung ke rumah putra satu-satunya itu. Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah. Mension besar yang Hadley bangun di usianya yang saat itu baru menginjak angka 26 Tahun, setahun setelah Ethan memberinya kepercayaan mengelola bisnis gelap. Hingga saat ini, Hadley menjadi satu-satunya keturunan Rhys yang sukses di usia muda. "Dulu ayahmu begitu membutuhkan dukunganku untuk bisa menjalankan perusahaan. Tapi, kamu ... bisa melakukannya sendiri dengan baik," gumam Gianna. Membuka kaca mata; menatap buah kesuksesan putranya. "Aku hanya membantu namamu tetap harum di luar, Hadley." Tungkainya mengayun hingga sampai ke ruang tengah. *** Meskipun rasanya Vallery ingin kembali tidur pasca Hadley meninggalkan kamar, kenyataannya dia tidak bisa memejamkan mata. Kepalanya terus dipenuhi apa dan bagaimana. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana ke depannya? Merutuki diri. Vallery bangkit meski rasanya seluruh tubuhnya remuk. Tertatih menuju kamar mandi. Selesai membersihkan diri, Vallery mematut penampilannya di depan cermin. Pakaiannya sudah rapi dan dia pun turun menggunakan lift. Tepat di ruang tengah, dia bertemu dengan Hadley. Vallery melempar senyum tipis, sementara Hadley hanya menatapnya. Adric yang juga ada di sana segera bertanya, "Sepertinya Anda hendak keluar, Nyonya Hadley?" Dia menghampiri Vallery. Vallery mengangguk singkat. "Aku mau ke rumah ayah," ujarnya. Hadley yang sempat menengok ponsel, kembali menoleh pada sumber suara. "Aku merindukan ayahku. Boleh aku pergi?" Bukan seperti Vallery yang suka asal bicara dan menantang keberanian di hadapan Hadley, dia mengatakannya seperti ada tumpukkan beban. Hadley yang menyadari itu lantas menatapnya. "Perlu kutemani?" "Tidak perlu. Kamu pasti sibuk. Aku bisa pergi sendiri." Gianna muncul saat baru saja Vallery hendak melangkah setelah mengatakan niatnya pada Hadley. "Vallery, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Gianna. "Mom ... ." Vallery menoleh lagi pada Hadley. "A-aku ... ." "Vallery baru saja pamit untuk ke rumah ayah mertua." Hadley memberitahu ibunya. "Oh, ya?! Dalam rangka apa?" "Tidak ada acara apa pun. Aku hanya merindukannya." Gianna mengangguk-angguk. "Oke. Hadley ... kamu tidak mengantar istrimu?" Hadley menatap Vallery sebentar. Sebetulnya, dia punya pekerjaan lain. Tapi, mengantar Vallery juga bukan hal yang buruk. "Tidak perlu, Mom. Aku pergi sendiri." Vallery bersuara saat baru saja Hadley hendak mengiyakan. Istrinya menatap penuh makna hingga membuat Hadley tak memaksakan kehendak. Dia mengerti Vallery butuh ruang mungkin untuk sekadar bersama ayahnya tanpa gangguan. Hadley mengangguk. "Sopir akan mengantarmu. Hati-hati," ucapnya. Vallery tersenyum kecil, kemudian mengulang pamit. Tungkainya mengayun ke pintu utama melewati ruang tamu. Tanpa dia sadari, Gianna memperhatikan cara Vallery berjalan. "Apa kakinya yang terluka itu masih sakit?" Hadley tersenyum kaku ketika Gianna menodongnya dengan tatapan. Bahkan, Adric pun turut menoleh. "Mungkin." Respon singkat Hadley membuat Gianna menggelengkan kepala sambil berdecak. "Mom, ada apa? Tumben datang?" tanya hadley kemudian mengalihkan fokus Gianna dari cara Vallery berjalan. Gianna mendekat pada keberadaan sofa. Mendaratkan b*k*ng di sana. "Apa aku harus bicara sambil tetap berdiri? Kalian tidak sopan membiarkan seorang ibu merasai pegal, tanpa menawari tempat duduk," gerutunya. Hadley hanya menatap datar sementara Adric tertawa kecil. "Jadi apa? Mom, datang untuk ... ?" "Memangnya aku dilarang menemui putraku sendiri di rumahnya, begitu?" "Bukan seperti itu." Hadley turut duduk beseberangan dengan sang ibu. "Kenapa tidak menemani Vallery?" "Dia ingin menemui ayahnya. Biarkan saja." "Dia tidak berulah lagi, bukan?" Gianna menatap lurus. Perubahan mimik pada diri Hadley menjadi pusat perhatiannya. "Kami ... baik-baik saja." Hadley memanggil Adric kemudian menggerakkan ekor mata, meminta asistennya itu pergi. "Kamu sibuk, Hadley?" Pertanyaan berikutnya keluar dari mulut Nyonya Ethan setelah mengucap terima kasih pada pelayan yang mengantar secangkir minuman. "Aku ingin kamu segera fokus pada pernikahanmu. Biar kuurus liburan kalian." "Mom ... ." Hadley ragu. "Aku belum membutuhkannya." "Kau tau apa yang ibumu ini inginkan, bukan?" Suara Gianna meninggi. "Kakekmu hanya akan mengesahkan seluruh kekayaannya menjadi milikmu jika kamu sudah memiliki keturunan. Kau mau si tua bangka itu pergi sebelum semuanya jatuh ke tanganmu, begitu?" "Mom ...! Maaf. Tapi, bagaimanapun dia kakekku. Tidak bisakan Mom menyebutnya dengan lebih sopan?" Hadley yang kejam di hadapan musuh, berbanding terbalik jika ibunya yang dia hadapi. Hadley tidak mampu membantah meski terus menurutinya pun dia tahu itu lebih salah. Gianna mendelik tidak suka. "Hanya kakekmu yang kamu dengar ucapannya, bukan? Jadi lakukan semuanya karena itu juga keinginan kakekmu. Dia ingin mengamankan asetnya padamu dan putramu kelak. Karena seperti yang kamu tau, kakek Rhys memiliki anak di luar pernikahan yang bisa kapan saja datang merebut semuanya. Ayahmu? Aku tidak berharap banyak karena dia juga sama saja." "Aku butuh waktu. Tapi ... mom tenang saja. Aku sudah mendapatkan kepercayaan Vallery. Setidaknya, aku akan memulai kehidupan dengan gadis itu." "Baguslah." Gianna beranjak. "Jaga dirimu." Hadley mengangguk lantas mengantar kepulangan ibunya hingga ke teras rumah. "Siapa anak Rhys di luar pernikahan?" Di balik tembok pemisah antara ruang tengah dan ruang samping yang terhubung ke Pavilion, Adric tidak hanya mencuri dengar. Dia menyelesaikan rekaman videonya; memasukkan kembali gawai itu ke dalam saku celana. Dia bergumam, memutar memori di kepala saat pertama kali bergabung dengan keluarga sok suci ini. Seingatnya, tidak pernah ada bahasan tentang skandal si kakek tua. Namun, pembicaraan Gianna dan Hadley sepertinya membawa permainan ini lebih menarik. Adric berdecak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD