Sumber Pengkhianatan Besar

1285 Words
Masih memikirkan perkara anak haramnya 'Rhys'. Adric dibuat senewen dengan berbagai hal yang terjadi belakangan ini. Kekacauan dimulai ketika Vallery datang. Tidak tahu; Adric tidak memahami apa pun, yang dia tahu hanya ... Vallery memiliki daya tarik. Dia menyukainya. Ingatan membawa Adric pada kejadian penculikan Vallery. Andai gadis itu benar-benar berubah pikiran dan mau membantunya, Adric tentu akan merasa bahagia. Kenyataan justru sebaliknya. Adric mendapati tapak kaki Vallery mengarah kembali ke ruangan tempat dia dibawa. Ada dua jejak kaki, yang artinya, Vallery tidak benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Kemungkinan wanita itu mencuri dengar semakin diperkuat ketika tiba-tiba saja dia mengakrabkan diri seolah menyambut uluran tangan Adric sebelumnya. Vallery coba bermain-main dengannya. Adric hampir berhasil menikmati tubuh gadis itu kalau saja Rhea tidak menganggu. Sial! Menit berikutnya setelah Vallery menemui kekasih Hadley di luar kamar, Adric mendapat pesan. [Aku butuh kamu. Ke kamar sekarang.] Pesan yang Rhea kirim semalam masih sama. Adric menekan pesan tersebut hingga keluar icon tempat sampah. Menghapusnya, mengosongkan laman chat dengan kontak Rhea Martinez tersebut. Jalang kecil yang berkoar-koar mengatasnamakan cinta. Adric sudah beberapa kali jadi pemuasnya tatkala Hadley menolak. Untung, bukan? Kucing diberi ikan mana bisa menolak. Adric tersenyum lagi sendiri, hampir bisa dikatakan sinting kalau orang lain melihatnya. Detik berikutnya, layar gawai Adric berkedip tanda pesan masuk. Dia segera membuka laman chatting, tertera nama si pengirim di sana. [Aku menemukan benda mirip kamera di atas meja, di ruangan kemarin. Kau yang meletakkannya? Kau mengawasiku untuk apa?] Bunyi pesan yang dikirim membuat kerutan di dahi Adric makin kentara. [Bukan aku] balasnya. [Kau yakin? Lalu siapa?] [Mana aku tau kalau kau ceroboh. Ingat-ingat lagi, apa ada yang datang ke tempatmu selain aku?] Adric menggeram kesal. Apa lagi ini? Ponsel dalam genggamannya dia remas kasar. Spy Camera, siapa kira-kira yang meletakkan itu di tempat kejadian. "Hadley." Tebak Adric. Siapa lagi yang kembali ke TKP kalau bukan tuannya itu. [Apa saja yang kau lakukan di sana selama kamera itu mengawasimu?] [Entahlah. Siapa orang yang sedang mengawasiku memangnya?] [Mungkin Hadley.] Adric menutup layar. Memasukan gawai ke dalam sakunya, lantas segera keluar dari kamarnya. Adric menuju ruang bawah tanah. Benar, Hadley ada di satu kamar yang bahkan dia tidak lagi bisa membukanya. *** "Ayah." Vallery menghambur ke dalam pelukan Noah. "Aku merindukanmu. Maaf karena saat Ayah ke rumah, aku malah meminta kalian untuk cepat pulang." "Karena kejadian itu, Ayah jadi khawatir. Kakak tidak mendapat masalah, bukan?" Owen yang menyahut. Adik Vallery itu muncul dari arah belakang Noah, tepatnya dari dapur. Owen meletakkan cangkir satu di dekat ponsel Noah. Sementara satu cangkir lain, dibawanya mengitari meja untuk duduk di seberang sang ayah. "Tidak ada. Malam itu aku mendengar tembakan di ruang bawah tanah. Tapi, Hadley ternyata bukan menembak seseorang melainkan hanya kamera pengawas yang dia hancurkan. Aku takut malam itu, karenanya meminta kalian cepat pulang." "Lalu?" Noah menatap lekat putrinya. "Kamu baik-baik saja?" "Ayah yakin menanyakan itu setelah mengirim putrimu pada pria paling berbahaya? Ayah ... Hadley punya banyak rahasia. Dia tidak senormal yang kita lihat selama ini. Atau ayah justru sudah tahu?" "Hadley anak yang baik." "Sama seperti Ayah, bahkan aku juga sudah terlanjur masuk kedalam jeratnya." Vallery mendesah kuat. Kilatan kejadian semalam memenuhi isi kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa sebodoh itu? "Jangan katakan kau mulai jatuh cinta pada Hadley, Kak!" Owen menebak dan tebakannya nyaris tepat. "Aku jatuh cinta?" tanya Vallery lebih pada dirinya sendiri. "Jatuh cinta itu seperti apa? Selama aku tumbuh, aku hanya mengenal cinta kalian." Vallery menatap sang ayah dan Owen bergantian. "Jatuh cinta itu saat kamu merasa harus menjauhinya, tapi sisi hati menariknya lebih dekat. Saat seharusnya kamu marah, tapi malah tersenyum di hadapannya. Saat seharusnya kamu sedih, tapi kamu malah bahagia melihatnya atau bahkan berada di dekatnya. Jatuh cinta itu ibarat—" "Stop, Owen! Stop, it! Jangan dilanjutkan." Vallery menangkup wajah. "Apa yang membuatmu gelisah? Jatuh cinta itu hal yang biasa. Bahkan seharusnya kau sudah merasakan perasaan itu sejak lama. Memang apa yang salah? Apa karena Hadley tidak membalasmu?" Noah membelai lembut putri polosnya itu. Vallery jarang bergaul hingga Noah tidak merasa heran ketika dia ketakutan bahkan hanya karena jatuh cinta. "Tapi, ini salah, Ayah. Tidak seharusnya." "Apanya yang salah?" tanya Noah. Owen yang mendengarkan sampai menggelengkan kepala. Vallery lebih seperti adik kecilnya daripada kakak. Saat seharusnya adik yang belajar dari kakaknya, Owen justru mengalami hal sebaliknya. Dia yang harus mengajari Vallery, bahkan untuk sekadar menghadapi perasaannya sendiri. "Hais! Drama Queen sekali perkara cinta ini. Ayolah, Kak. Kakak bukan gadis remaja yang baru mengenal laki-laki." "Memang siapa laki-laki yang pernah dekat denganku selain kalian? Ini juga gara-gara kau, Owen. Aku mengikuti saranmu untuk menggoda Hadley, jadi keterusan, kan?" Vallery mencebik sementara Owen malah terbahak. "Aku hanya memberi saran. Soal rasa dan soal Hadley, itu urusan kalian." Vallery kembali mencebik lebih kesal dari sebelumnya. "Lupakan itu! Aku datang ke sini bukan untuk diledekin kamu, Owen. Ada yang ingin aku tanyakan." "Apa itu?" "Ayah ... ." Noah menunggu Vallery melanjutkan. Sepertinya anak perempuannya itu ragu. Vallery tampak sedikit berpikir sebelum bibirnya kembali terbuka. Sampai kemudian, celah dari kedua bibir Vallery mengeluarkan kata. "Ayah ... bagaimana kakek dulu bisa meninggal?" tanyanya. "Kamu yakin masih mempertanyakan itu?" Noah mengerut dahi. "Aku hanya ingin tau." "Kau sudah tau sebelumnya, lantas kenapa menanyakannya lagi." "Ayah bilang, kakek meninggal karena tertembak, bukan? Tertembak atau sengaja ditembak?" Owen yang semula duduk santai sambil memainkan gawai, kembali duduk tegak saat kalimat Vallery mengusik gendang telinganya. "Dari mana kamu bisa mendapatkan pemikiran seperti itu?" Noah menatap tajam. Kaca mata yang dia kenakan sedikit turun hingga tangannya yang semula menyentuh punggung tangan Vallery, terangkat membenahi. "Aku melihatnya." "Lihat apa?" Owen turut serius mendengarkan. "Data pada dokumen yang menampilkan daftar perusahaan jatuh ke tangan Rhys pasca pemiliknya meninggal dunia. Termasuk data kakek ada di sana. Apa itu hanya kebetulan?" Noah menghela napas pendek saat keterangan yang diberikan Vallery berakhir dengan pertanyaan. "Kakekmu memang meninggal saat kejayaan Dinasty Rhys dan perusahaannya diambil alih. Tapi, bukan karena sengaja ingin merebut. Ayah saat itu baru berusia 20 tahun, masih terlalu muda untuk memimpin. Jadi, kakek Rhys yang mengatur kendali perusahaan. Lagi pula, itu perusahaan kecil. Besar dan berkembang di masa Rhys yang memegang." "Apa usaha itu dikembalikan pada Ayah?" "Tentu. Yang kamu nikmati sampai detik ini." Vallery menilik sekeliling. Benarkah? Tapi, kenapa rasanya masih ada yang mengganjal. Noah menyentuh pundak Vallery membuat dia menoleh kaget. "Apa pun itu, Hadley tidak tau apa-apa. Semuanya terjadi di masa lalu, yang bahkan kamu sendiri belum ada. Ayah belum menikah, belum mengenal ibumu, boro-boro ada kamu, kan? Jalani pernikahanmu dengan baik." Pesan Noah membawa senyum Vallery kembali. *** Tumpukan dokumen Hadley periksa satu-persatu. Matanya tidak berhenti memelototi kertas-kertas di dalam map tersebut. Dia tidak salah melihat, bukan? Kenapa kepemilikan tanah seluas 10 hektar di Colorado menjadi atas nama Maura Vale. "Beberapa aset bahkan sudah berpindah kepemilikan." Sepenggal kalimat wanita bercadar itu kembali Hadley ingat. "Inikah yang dia maksud? Dia Maura Vale?" Tidak hanya lahan kosong. Kepemilikan Villa dan mension yang Hadley bangun setahun lalu juga sudah berpindah menjadi atas nama ... . Hadley meremas kertas tersebut. "Adric Vale, Maura Vale." Suaranya menggeram tertahan. Matanya bergulir cepat dari map satu ke map yang lain. Desakan emosi masih bisa Hadley kendalikan. Dia mengumpulkan lagi semua berkas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah brankas. Menyeting ulang kode keamanan yang sebelumnya berhasil dia bobol, kemudian keluar dari ruangan tersebut. Adric sudah ada di luar saat Hadley keluar. Sebisa mungkin bersikap tenang seolah tidak ada yang terjadi. "Kau di sini, Tuan?" "Ya. Kau sendiri?" Hadley menilik jam. "Tadinya aku mencarimu. Apa yang kau lakukan? Kenapa aku bahkan tidak dilibatkan?" Hadley mengangkat alis tinggi-tinggi. "Sebab tidak terlalu penting. Aku akan keluar sebentar." Hadley baru saja melangkah ketika ayunan tangan Adric mengenai bagian belakang kepalanya dengan keras. Hadley terhuyung ke depan dan seseorang menangkap tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD