Bab 03

1142 Words
Keesokan harinya. Pagi hari ini Naufal mengajak Cahaya untuk tinggal di Apartemen miliknya. Naufal begitu bahagia ketika mendapat izin dari kedua orang tuanya dengan alasan ia ingin hidup mandiri bersama Cahaya. Ternyata mudah sekali membohongi kedua orang tuanya, pikir Naufal. “Naufal, jaga istrimu dengan baik! Pak Ardani dan Bu Syafira menitipkan putrinya pada kami.” ujar Arkana “Iya, Pa.” Naufal menjawab seadanya karena terlalu malas berdebat dengan orang tuanya. “Baiklah. Papa pegang ucapanmu.” Naufal mengangguk sebagai jawaban. “Pa, Ma, Cahaya berangkat dulu! Assalamualaikum.” pamit Cahaya “Waalaikumsalam. Hati-hati, sayang!” “Kalau sudah sampai Apartemen beritahu Papa dan Mama!” ujar Kirana “Iya, Ma.” Naufal dan Cahaya masuk ke dalam mobil. Cahaya melampaikan tangannya pada Ayah dan Ibu mertuanya ketika Naufal mulai menjalankan mobil. Ada rasa ragu ketika Naufal tiba-tiba mengajaknya tinggal berdua di Apartemen, namun pikiran tersebut ia tepis sejauh mungkin agar tidak jatuh fitnah pada suaminya sendiri. “Semoga setelah ini awal kebahagiaan rumah tanggaku dengan Kak Naufal.” batin Cahaya berucap Tanpa Cahaya sadari sesekali Naufal menatap ke arahnya sembari tersenyum smrik. Apa yang telah ia rencanakan berjalan dengan sempurna. “Setelah ini awal penderitaan kamu, Cahaya!” batin Naufal berucap Beberapa menit kemudian. Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di Apartemen milik Naufal. Setelah memarkirkan mobilnya Naufal segera keluar lalu pergi meninggalkan Cahaya yang masih berada di mobil. Buru-buru Cahaya keluar sebelum langkah suaminya semakin jauh. “Kak Naufal, tunggu!” panggilnya “—“ Naufal mengabaikan panggilan istrinya dan tetap melangkah menuju Apartemennya. Cahaya mempercepat langkahnya lalu menghadap Naufal dengan berdiri tepat di depan laki-laki itu. “Kak, tunggu!” ujar Cahaya dengan nafas memburu “Kenapa?” tanya Naufal “Barang-barang kita yang ada di mobil bagaimana?” “Itu urusan kamu, bukan urusan saya!” “Tapi, kak…” Tanpa menunggu perkataan Cahaya selesai Naufal langsung melangkah pergi begitu saja meninggalkan istrinya itu. “Huhh,,” Cahaya menghela nafas kasar. “Yaudah, nggak papa. InsyaAllah, aku sanggup membawa barang-barang itu ke Apartemen Kak Naufal.” gumam Cahaya Cahaya kembali berjalan ke mobil untuk mengambil barang miliknya dan barang milik Naufal. Ia tidak ingin berdebat dengan suaminya. Selagi ia mampu akan dirinya lakukan sendiri. “Huft,” helaan nafas Cahaya Cahaya kesulitan ketika membawa dua koper besar sekaligus, belum lagi tas yang ia bawa. “Kak Naufal tega banget membiarkan aku sendiri membawa semua barang-barang ini.” gerutunya Di sisi lain, Naufal langsung keluar dari lift setelah pintu terbuka. Dari jarak beberapa meter ia melihat keberadaan seorang perempuan cantik yang sedang berdiri di depan Apartemennya. Naufal tersenyum manis menatap perempuan itu. Naufal mempercepat langkahnya karena tidak sabar ingin memeluk kekasihnya itu. Langkahnya tidak disadari oleh kekasihnya karena perempuan itu berdiri dengan posisi membelakanginya. Brugh “Sayang!” panggil Naufal sembari memeluk kekasihnya dari belakang. Perempuan itu terkejut karena tiba-tiba merasakan pelukan dari arah belakang. Ia tersenyum ketika mengetahui siapa yang telah memeluknya. Naufal menupukan dagunya di bahu perempuan itu dengan mesra. “Maaf, nunggu lama ya?!” ujar Naufal “Hm,” gumam perempuan itu “Ngapain aja sih lama banget?Bersenang-senang dulu sama istri baru kamu itu, iya?!” “Kok bilang seperti itu, hm? Ada sedikit drama dari Papa dan Mama sebelum berangkat.” “Baiklah!” Naufal melepas pelukannya lalu menarik lengan kekasihnya membuat mereka saling berhadapan. Perempuan itu bernama Zaskiya Ariani, kekasih Naufal yang sangat ia cintai. “Maaf!” ujar Naufal sembari mengelus pipi kekasihnya. “Hm,” gumam Zaskiya dengan malas Zaskiya mengernyitkan keningnya ketika melihat Naufal hanya sendirian, lalu di mana istri kekasihnya itu? “Nyari apa?” tanya Naufal “Di mana perempuan itu? Kamu ke sini bersamanya kan?” Naufal mengangguk. “Iya. Tadi aku tinggal di bawah.” Jawaban Naufal membuat Zaskiya tersenyum puas. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan istri kekasihnya lalu memberikan pelajaran pada Cahaya karena telah berani merebut kekasihnya. “Yaudah, masuk yuk!” Zaskiya mengangguk sebagai jawaban. Naufal dan Zaskiya masuk ke dalam Apartemen tanpa peduli dengan kondisi Cahaya yang saat ini sedang kewalahan membawa barang-barang mereka. Inilah alasan Naufal meminta tinggal berdua dengan Cahaya di Apartemen. Baru masuk ke dalam Apartemen tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. “Siapa, sayang?” tanya Zaskiya “Sepertinya perempuan itu!” “Huhh,,” Zaskiya menghela nafas kasar. Ia tahu siapa yang dimaksud kekasihnya. “Yaudah, buka sana!” Cup Naufal mencium kening Zaskiya agar kekasihnya tidak marah dengan keberadaan Cahaya. “Sebentar, ya!” ujar Naufal Naufal membuka pintu mempersilahkan Cahaya masuk ke dalam. Baru beberapa langkah Cahaya terkejut dengan keberadaan seorang perempuan yang saat ini berada di dalam Apartemen suaminya. “Siapa kamu?” reflek pertanyaan itu keluar dari mulut Cahaya “Aku? Siapa? Tanya saja ke suamimu!” ujar Zaskiya sembari tersenyum meremehkan. Cahaya beralih menatap ke arah Naufal dengan tatapan bertanya. “Kak, dia siapa?” “Kekasihku!” Deg “Astagfirullah’haladzim.” d**a Cahaya terasa sesak mendengar pengakuan dari suaminya. Cahaya sudah mengetahui akan kekasih suaminya, namun ia tidak menyangka Naufal akan membawanya ke Apartemen. “Untuk apa Kak Naufal membawanya ke sini?” “Apa maksudmu?” tanya Naufal dengan tatapan tidak suka “Dia bukan mahrom Kak Naufal!” “Lalu apa urusannya denganmu?” “Astagfirullah. Cahaya ini istri Kak Naufal, tidak seharusnya Kak Naufal membawa perempuan lain ke dalam Apartemen.” “Terserahku! Apartemen ini adalah milikku, jadi terserah apa yang ingin aku lakukan di sini!” ujar Naufal Cahaya menggelengkan kepalanya tidak setuju. Ia masih bisa menerima jika Naufal memiliki seorang kekasih, tapi tidak seharusnya dia membawa kekasihnya ke Apartemen apalagi menujukkan padanya. “Tapi, kak…” “CUKUP!” bentak Zaskiya Zaskiya mendekat ke arah Cahaya dengan tatapan tajam. Ia muak dengan perkataan perempuan itu. “Jangan sok suci kamu! Bahkan dirimu telah merebut calon suamiku.” sarkasnya “Astagfirullah. Aku tidak berniat mengambil Kak Naufal dari kamu, aku hanya menerima perjodohan kami dari orang tuaku.” “Pembohong!” “Demi Allah, aku tidak pernah merebut Kak Naufal dari siapapun!” “Kalaupun kamu merasa aku telah merebut Kak Naufal darimu, itu semua bukan salahku, tapi itu semua atas kehendak Allah.” lanjut Cahaya “Jadi sekarang aku minta sebaiknya kamu jauhi Kak Naufal karena dia sudah Sah menjadi suamiku!” ujar Cahaya dengan tegas PLAK Detik itu juga tamparan keras melayang di pipi Cahaya. Wajah Zaskiya terlihat memerah setelah mendengar perkataan Cahaya. “Lancang!” “Memangnya siapa kamu berani menyuruhku menjauh dari kekasihku sendiri, ha?” desis Zaskiya dengan tajam Cahaya memegang pipinya yang terasa sakit. Bahkan tidak ada pembelaan dari Naufal untuknya. Meskipun Cahaya terluka akibat perbuatan dan sikap Zaskiya ia tidak mundur begitu saja, ia sama sekali tidak takut dengannya. “Apa perkataanku barusan kurang jelas, hm?” “AKU ADALAH ISTRI SAH DARI KAK NAUFAL!” ucap Cahaya sembari menekan di setiap kalimatnya. ••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD