Permainan 1

522 Words
Sean yang sedang memainkan ponselnya di sofa ruang tamu langsung dikejutkan oleh sebuah kaki yang sengaja di letakkan di atas pahanya, membuat mata Sean langsung fokus pada kaki mulus yang ada di atas pahanya. "Tante tau kan aku tunangan Shela? Tante tidak takut kalau sampai Shela melihat apa yang Tante lakukan pada calon menantu Tante? "tanya Sean tanpa menyingkirkan kaki Devina, calon mama mertuanya. Devina yang mendengar pertanyaan Sean langsung tersenyum, lalu mengangkat kaki yang sejak tadi berada di paha Sean, beralih meraba d**a Sean, membuat Sean langsung memejamkan matanya, karena tidak di pungkiri, pesona calon mama mertuanya sangat menggoda, melebihi anak SMA. "Mau Tante apa? "tanya Sean yang mulai geram dengan sikap Devina. "Sean, kau sangat tampan, berwibawa, kenapa kau memilih Shela? "tanya Devina seraya menurunkan kakinya, dan beralih duduk di sofa single dengan menyilangkan kakinya pada kaki yang lainnya dengan posisi yang sangat menggoda. "Tidak perlu ada alasan wanita mana yang harus aku pilih untuk aku jadikan sebagai pasangan, "jawab Sean yang membuat Devina tersenyum, lalu menatap Sean dengan tangan yang dijadikan sebagai penyangga dagunya. "Aku tau seperti apa tipe wanita idaman mu, Sean," kata Devina yang masih betah menatap wajah Sean, meski Sean tidak membalas tatapan Devina, tapi Devina tetap tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Sean. "Tante tidak perlu sok tau, "kata Sean dengan nada dinginnya, dan kembali menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya. "Hahaha. Sean, akan ku pastikan kau tidak akan lama terus menolak pesonaku. "Ujar Devina dengan tawa yang terdengar sangat menggoda, dan mendengar tawa serta ucapan Devina, Sean langsung menatap Devina. "Apa maksud, Tante? Sebenarnya apa mau Tante? "tanya Sean yang benar-benar bingung dengan sikap Devina yang terlalu liar terhadap dirinya, padahal Devina tau kalau dirinya adalah calon menantunya, tunangan dari Shela, anaknya. Tapi, sikap Devina pada dirinya benar-benar jauh dari kata ibu mertua, dan itu membuat Sean sangat tidak mengerti. "Aku mau kamu, Sean. Mau kamu. "Ujar Devina mengulang kalimat yang sama, sebagai jawaban kalau apa yang diinginkan oleh dirinya itu adalah Sean. Sean yang mendengar jawaban Devina langsung menyunggingkan senyum sinisnya. "Tante sadar dengan apa yang Tante katakan sebagai jawaban tadi? Tante sadar itu? Tante sadar aku ini siapa? "berbagai macam pertanyaan Sean lontarkan karena Sean tidak habis pikir dengan jawaban Devina tadi, dimana Devina menginginkan dirinya, sementara dirinya adalah tunangan anak Devina, dan itu membuat Sean benar-benar tidak percaya. "Sadar kok. Memangnya kamu pikir aku sedang akting? Aku tidak lagi drama Sean, aku memang menginginkan kamu, "kata Devina "Tapi aku tunangan Shela, Tante. Aku calon menantu Tante, "ujar Sean dengan penuh penekanan dan juga jelas, agar Devina sadar akan kalimat yang keluar dengan begitu lancarnya tadi dari bibirnya. "Aku tau Sean, bahkan aku sangat tau siapa kamu. Aku tau kamu tunangan Shela, tapi kan itu hanya tunangan, belum suami, jadi salahnya dimana? "ujar Devina seperti orang yang masa bodoh akan status Sean sebagai calon menantunya. "Apa iya Tante sangat berani merebut calon suami anak Tante sendiri? "tanya Sean sangat tidak percaya dengan keinginan calon mertuanya. "Kenapa tidak berani, Sayang? "tanya Devina seraya berdiri dan mendekati Sean, lalu menyentuh dagu Sean dengan penuh godaan, membuat jantung Sean sulit untuk di kendalikan. "Apa yang Mama lakukan!!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD