Permainan 2

654 Words
Apa yang Mama lakukan! "teriak Shela yang membuat Sean benar-benar terkejut, namun tidak dengan reaksi Devina, di mana Devina sama sekali tidak merasa terkejut mendengar suara Shela yang tengah memergoki dirinya yang sedang mencoba untuk menggoda Sean. Dengan santainya Devina kembali berdiri, dan menghembuskan nafasnya secara kasar lalu membalikkan tubuhnya menatap Shela. "Aku tidak tahu tunanganmu ini dari mana, Yang jelas aku tadi melihat rambutnya ada sedikit potongan daun kering. Jadi aku mencoba untuk membantu membersihkannya, soalnya tadi aku sudah menyuruh dia untuk membersihkan sendiri, tapi tunanganmu tidak bisa karena tidak bisa melihat daun kering tersebut. "Jawab Devina dengan nada santainya sambil melangkah kembali duduk di sofa single, dan Sean hampir saja dibuat jantungan karena ulah calon Mama mertuanya. "Aku tidak percaya kalau aku harus memiliki calon mertua Yang licik seperti tante Devina. "Gumam Sean dalam hati sambil menatap Devina yang tengah memainkan buku majalah seperti orang yang memang sedang sibuk. "Oh, begitu. Memangnya Kak Sean Dari mana saja, kok bisa rambut Kak Sean sampai berantakan gitu, "ujar Shela tanpa menaruh curiga terhadap Devina . "Mungkin tadi tidak sengaja saat aku bersantai di taman. Mungkin di situ Ada angin kencang sampai membawa daun yang sudah kering dan jatuh mengenai rambut. Mungkin saja sih. "Jawab Sean yang merasa bingung juga untuk memberi alasan, karena dirinya memang tidak pandai berbohong. Shela pun mendekati Sean, dan duduk di samping Sean lalu memeluk lengan Sean dengan mesra. "Mama tidak keberatan aku tinggal Mama sendirian di rumah? Mungkin aku akan pulang malam, karena aku masih mau main ke kantor Kak Sean, "kata Shela yang membuat Devina langsung menutup majalahnya, dan memperlihatkan senyum termanisnya, Dan itu terlihat sangat jelas di mata Sean, kalau senyuman itu benar-benar sangat palsu. "Tidak masalah. Mama kan sudah dewasa, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mama. Pergilah dan selamat bersenang-senang. "Ujar Devina yang langsung berdiri lalu berjalan dengan penuh anggun meninggalkan Sean dan juga Shela di ruang tamu, hingga membuat Sean yang melihat body s e x i Devina cukup membuat dirinya kehilangan akal sehatnya. "Aku tidak tahu apa keromantisan itu bisa bertahan lebih lama lagi atau sebaliknya! "gumam Devina sambil menatap shella dan Sean seraya menyunggingkan senyum misteriusnya, sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Sedangkan Sean masih betah memandang kepergian Devina. Shela yang melihat Sean hanya fokus menatap kepergian sang Mama, langsung membuka suara lebih dulu agar Sean bisa kembali menatap pada dirinya. "Kita jadi jalan kan?" tanya Shela yang berhasil membuyarkan lamunan Sean. "Oh iya. Ayo kita pergi. "Kata Sean yang langsung berdiri dan mencoba untuk memukul kepalanya yang entah kenapa pikirannya mulai menjalar ke mana-mana. "Tidak keberatan Kalau aku ikut ke kantor Kak Sean, karena aku ingin menemani Kak Sean bekerja? "tanya Shela. "Tidak masalah. Kamu boleh menemaniku sampai kamu merasa bosan. "Ujar Sean memperbolehkan Shela main ke kantornya, meski sebenarnya Sean juga tidak berharap Shela menemani dirinya, tapi kalau memang Shela ingin menemani dirinya, Sean juga tidak akan melarangnya. Akhirnya mereka pun mulai pergi, dan Shela masih tetap betah memeluk lengan Sean dengan begitu eratnya, seperti ingin menunjukkan pada seluruh dunia kalau Sean adalah miliknya, hingga membuat Devina yang melihat Sean membantu Shela membukakan pintu mobilnya untuk Shela masuk, langsung membuat Devina tertawa. "Setelah ini, kau yang akan melayaniku untuk memperlakukanku seperti ratu, Sean. "Gumam Devina yang diakhiri dengan tawa kencangnya, seperti punya sebuah rencana untuk merebut Sean dari anaknya sendiri. Entah apakah Devina sadar akan keinginannya untuk merebut pasangan anaknya sendiri, atau memang Devina sudah kehilangan akal sehatnya, hingga merasa di dunia ini tidak ada pria lain selain pria yang sudah menjadi pilihan anaknya, bahkan sebentar lagi akan menjadi menantunya, hingga Devina memilih untuk merebut calon suami anaknya sendiri. Devina masuk ke dalam kamar mandi, lalu menatap foto Sean yang ke mana-mana selalu dibawa oleh Devina, dan Devina menutup pintu kamar mandinya bahkan sampai mengunci pintu kamar mandinya dari dalam, dan setelah itu langsung terdengar sangat jelas desahan Devina di dalam kamar mandi. "Ahh, Sean...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD